Pada hari Senin tanggal 26 Mei 2014 Program studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie dan Program Studi Teknik Sipil Universitas Bakrie melakukan kunjungan ke Waduk Jatiluhur. Kunjungan ini dilakukan untuk menambah wawasan mahasiswa terkait dengan mata kuliah mekanika fluida. Dalam hal ini mahasiswa dapat mengetahui bentuk dan ukuran spillway, jenis spillway yang digunakan pada waduk Jatiluhur serta beberapa komponen yang digunakan dalam pengoperasian waduk Jatiluhur. Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung fungsi utama Waduk Jatiluhur. Adapun beberapa hal yang diperoleh mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie tergambar dalam beberapa penjelasan dalam artikel ini.

Perjalanan dimulai dari kampus Universitas Bakrie tepat pada pukul 7.03. Pada pukul 9.40 rombongan tiba di Jatiluhur. Mahasiswa dan Dosen dibekali presentasi dari pihak pengelola Waduk Jatiluhur. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan Waduk Jatiluhur. Saat diskusi telah usai, rombongan berjalan menuju area morning glory. Di kawasan waduk tersebut, rombongan Universitas Bakrie mendapatkan penjelasan singkat sistem operasi waduk dari salah satu pengelola Waduk Jatiluhur. Waduk Jatiluhur berjarak kurang lebih 100 km arah Tenggara Jakarta, yang dapat dicapai melalui jalan tol Jakarta Cikampek dan jalan tol Cipularang (ruas Cikampek – Jatiluhur), dan 60 km arah Barat Laut Bandung, yang dapat dicapai melalui jalan tol Cipularang (ruas bandung – Jatiluhur). Dari Kota Purwakarta sekitar 7 km arah barat. Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan terbesar di Indonesia, membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur – Kabupaten Purwakarta – Provinsi Jawa Barat, membentuk waduk dengan genangan seluas ± 84 km2 dan keliling waduk 150 km pada elevasi muka air normal +107 m di atas permukaan laut (dpl).  Luas daerah tangkapan Bendungan Jatiluhur adalah 4.500 km2. Sedangkan luas daerah tangkapan yang langsung ke waduk setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di hulunya menjadi tinggal 380 km2, yang merupakan 8% dari keseluruhan daerah tangkapan. Daerah tangkapan (upper Citarum) meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta. Pada awalnya dirancang memiliki kapasitas tampungan 3 milyar m3, namun saat ini tinggal 2,44 milyar m3 akibat sedimentasi. Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan Bapak Husni dikatakan bahwa sampai saat ini pihak waduk Jatiluhur belum melakukan treat terhadap sedimen yang dihasilkan oleh sistem operasi waduk Jati Luhur. Sedimen tersebut dipicu oleh adanya pakan ikan yang dihasilkan dari daerah keramba ikan. Daerah keramba ikan tersebut terbilang ada yang legal maupun illegal. Proses terbentuknya kerambah ikan yang illegal terus meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini merupakan suatu permasalahan yang terus terjadi akibat lemahnya fungsi pengawasan dan control terhadap kawasan waduk Jatiluhur. Pada kala waktu 5 tahunan pihak pengelola waduk Jatiluhur melakukan pengeruman sedimen. Pengeruman merupakan proses pengukuran berkurangnya debit air yang diakibatkan sedimen. Berdasarkan data yang dikemukakan pihak pengelola Waduk Jatiluhur menyatakan bahwa selama 24 tahun berlangsungnya operasi Waduk Jatiluhur, terdapat pengurangan debit sebesar 500 juta. Adapun kenaikan sedimen yang terbentuk pada Waduk Jatiluhur adalah sebesar ½ cm per tahun. Kenaikan sedimen ini masih terbilang sangat kecil jika dihubungkan dengan perkiraan waktu operasi waduk Jatiluhur (150 tahun). Namun demikian, setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di atasnya, laju sedimentasi semakin menurun. Bendungan Saguling dan Cirata merupakan bendungan yang diperuntukkan untuk menjadi sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air. Dengan dibangunnya kedua bendungan ini membuat perkiraan waktu operasi Waduk Jatiluhur akan meningkat dua kali lipat (300 tahun). Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan multiguna, dengan fungsi sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 187,5 MW, pengendalian banjir di Kabupaten Karawang dan Bekasi, irigasi untuk 242.000 ha, pasok air untuk rumah tangga, industri dan penggelontoran kota, pasok air untuk budidaya perikanan air payau sepanjang pantai utara Jawa Barat seluas 20.000 ha, dan pariwisata. Bendungan ini mulai dibangun pada tahun 1957 ditandai dengan  peletakkan batu pertama pembangunan oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno. Berdasarkan data presentasi yang dikemukakan oleh pihak pengelola waduk Jatiluhur, dikemukakan bahwa bangunan pelimpah waduk Jatiluhur berbentuk silinder dengan diameter 90 meter dan tinggi 110 meter. Bangunan pelimpah ini memiliki 2 katup hallowjet dengan debit flow sebesar 270 m3/s.  Spillway yang digunakan dinamakan morning glory. Adapun bendungan Jatiluhur terbuat dari batu andesit. Pihak pengelola waduk Jatiluhur juga melakukan pemantauan terhadap operasi waduk  Adapun pemantauan tersebut berupa pengambilan data klimatologi, derajat keasaman, DO, dan variable lingkungan lainnya. Selain itu juga dilakukan pemantauan kala tahunan yaitu pemantauan deformasi tubuh bendungan. Dalam hal ini dilakukan tindakan pengecetan beberapa tubuh bendungan. Pemantauan juga dilakukan dengan mengukur tekanan pori rembesan air waduk Jatiluhur menggunakan alat ukur inklinometer. Hal unik yang dapat dilihat dari morning glory adalah semua turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air dikontrol diruang bawah tanah. Jadi, turbin dan pompa air berada di bawah permukaan air. Waduk Jatiluhur juga dipergunakan sebagai sarana rekreasi. Air Waduk Jatiluhur dipompa ke atas permukaan yang memiliki elevasi agak tinggi lalu dibuatlah wisata Water Boom. Setelah melakukan kunjungan ke waduk Jatiluhur, rombongan Universitas Bakrie melanjutkan perjalanan ke kawasan Water Boom. Pada pukul 14.20 rombongan Universitas Bakrie melakukan perjalanan pulang. Para mahasiswa merasa sangat senang dalam kunjungan lapangan ini karena kunjungan ini membuka kesempatan untuk memahami konsep teori dan aplikasi dari bendungan Jatiluhur agar dapat memperluas wawasan mereka di bidang Teknik Lingkungan. Selain itu, pada kesempatan ini, mahasiswa berkesempatan memperoleh peluang untuk kerja praktik atau penelitian tugas akhir di Waduk Jatiluhur.