Pada hari Selasa (15/12/15), program studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie menyelenggarakan Guest Lecturer pada matakuliah Evaluasi Sensori dengan narasumber Ibu Ervina dari Indonesia International Institute for Life Scince.

Beliau merupakan orang sangat kompeten di bidang sensori dan telah menjadi expert sensoris untuk produk coklat. Matakuliah Evaluasi Sensori menjadi salah satu keunggulan matakuliah yang ada di Prodi ITP, Universitas Bakrie. Prodi ITP memfokuskan pada pendalaman matakuliah Evaluasi Sensori dikaitkan dengan matakuliah Perilaku Konsumen sehingga lulusannya diharapkan memiliki nilai lebih dalam bidang-bidang tersebut. Ibu Ervina membawakan materi (mostly) dalam bahasa Inggris membuat kelas hari itu serasa menjadi kelas di Universitas luar negeri. Terlebih, pronunciation beliau yang teramat jelas membuat kami mampu menangkap apa-apa yang dia katakan tanpa blur. Selain menjelaskan mengenai mengenai mata kuliah, beliau juga banyak berbagi pengalaman-pengalaman menarik selama bekerja di bidang sensori. Bahkan, beliau tak luput menginformasikan advance sensory yang sedang “ngehip” dan “ngehits” di dunia persensorian. Bu Ervina mengatakan, kebanyakan orang tidak ingin jadi sensoris karena menganggap pekerjaan seorang sensoris hanyalah sekedar mencicipi produk pangan. Padahal sejatinya, evaluasi sensori memiliki banyak peranan penting seperti mengetahui produk pangan apa yang disukai konsumen dalam pengembangan produk baru perusahaan. Evaluasi sensori juga teramat dibutuhkan karena tidak ada instrumen yang dapat mengukur kadar kesukaan manusia. Bu Ervina juga menjelaskan mengenai rasa dasar yang diterima manusia. Kita mungkin selama ini mengenal lima rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, pahit, dan umami. Namun penelitan terbaru (2014) menunjukkan hadirnya rasa dasar baru, yaitu rasa lemak yang memiliki reseptor CD36. Walaupun, pemutusan rasa lemak sebagai dasar baru belum “diketok palu” dan masih banyak didiskusikan dalam konferensi-konferensi internasional. Selain itu, peserta diajak untuk ikut merasakan sensasi menjadi seorang panelis. Ketika pembahasan sampai pada bagian sensory panelist, beberapa dari kami diminta untuk mencicipi produk snack ekstrudat dan mendeskripsikan rasa dan flavor dari produk. Bu Ervina menyebutkan bahwa seorang sensory panelist harus dapat mengkomunikasikan apa yang dia rasakan dan apa yang dia terima ketika mengonsumsi suatu produk. Panelis juga harus dilatih agar penilaiannya terstandarisasi dan tidak banyak bias yang dihasilkan. Ada banyak hal berharga yang dibagikan bu Ervina mengenai pengalaman selama bekerja di bidang sensori. Beliau pernah bekerja di bagian Quality Assurance dengan tugas mengevaluasi karakteristik sensori suatu produk misalnya tingkat kemanisan, aroma, dan tekstur. Pekerjaannya bukanlah pekerjaan sepele yang hanya mengicip-ngicip produk. Sebab, jika ia mendapati karakteristik sensori produk tidak sesuai dengan standarnya, dapat berakibat dengan rejectnya produk dalam hitungan batch. Sebagai seorang sensoris yang dulu bekerja di luar negeri, Bu Ervina juga menceritakan pengalaman uniknya ketika diminta menciptakan produk minuman dengan rasa musim panas dan musim gugur. Tentu, menjadi seorang sensorist punya tantangan unik tersendiri. Setelah menjelaskan mengenai tiga uji dalam evaluasi sensori yang umum digunakan, yaitu uji pembedaan, uji deskriptif, dan uji hedonik, Bu Ervina menerangkan mengenai uji terbaru yang banyak dipakai oleh industri masa kini. Dua di antara uji itu adalah Temporal Dominance Senstation (TDS), Flash Profiling, dan juga Ultra Flash Profiling. Ketiga metode ini banyak digunakan karena memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan metode sebelumnya seperti biaya pengujian rendah, hemat waktu, dan bahkan dapat menggunakan panelis tidak terlatih. Ditulis oleh Risqah Fadilah, Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie Angkatan 2012.