Hari kedua di sambut dengan suhu di Koriyama -6 derajat celcius. Setelah sarapan di hotel, peserta Sakura Science Program pergi menuju halte bus dan tiba di Nihon University sekitar pukul 9. Acara pada hari ini diisi dengan melihat presentasi yang di lakukan oleh mahasiswa tingkat akhir di Nihon University untuk menentukan kelulusan mereka.

Presentasi yang di berikan menggunakan bahasa Jepang dan mahasiswa menggunakan google translate untuk membantu memahaminya. Presentasi membahas berbagai macam tema yang menarik seperti tensegrity dan penggunaan mikroba untuk menambal struktur yg mengalami crack. Setelah makan siang mahasiswa melihat beberapa maket yang di pamerkan oleh mahasiswa tingkat akhir Nihon University. Dari beberapa maket tersebut kebanyakan bertemakan green building.

Didalam sidang ini mahasiswa yang presentasi mayoritas membahas mengenai struktur, untuk sesi pertama adalah sidang dari 3 orang mahasiwa tingkat akhir. Dari gambar yang ditunjukan orang pertama membahas tentang perbandingan dimensi kolom pada bangunan dan pengaruhnya terhadap runtuhnya sebuah bangunan jika diberi beban vertikal dan horizontal. Orang kedua yang presentasi adalah mahasiswa bimbingan Prof Buntara yang membahas tentang mencari momen pada bangunan tensegrity (bangunan tanpa kolom yang dikembangkan oleh Prof Buntara). Orang ketiga membahas tentang menggunakan mikrorganisme (sejenis bakteri) dalam menambal crack yang terjadi pada beton.

Didalam pameran ini banyak sekali maket-maket yang di buat oleh mahasiswa/i arsitektur. Maket yang dibuat tingkat kesulitannya sangat tinggi dan sangat detail. Beberapa desain yang ditampilkan cukup menarik dan kompleks. Tingkat kreativitas dan kerajinan mahasiwa Jepang memang terbukti dari hasil maket yang mereka buat. Pemanfaatan kemajuan teknologi dalam kehidupan sehari-hari merupakan satu dari sekian banyak hal yang mahasiswa pelajari di jepang.

Dengan konsep yang beragam dan detail yang luar biasa menjadikan mahasiswa kagum dengan maket yang dibuat oleh mahasiswa Nihon University. Tidak hanya itu, selain maket mereka juga sudah menggambarnya dalam bentuk 'engineering drawing' serta memodelkannya dalam bentuk rendering 3D design. Pastilah butuh keuletan dan ketelitian untuk membuatnya, itu semua membuat mahasiswa Prodi Teknik Sipil Universitas Bakrie terpacu untuk mengembangkan skill mereka sepulangnya dari Jepang.

Aisyah, salah satu peserta mengungkapkan bahwa mahasiswa mempelajari banyak inovasi yang bisa dijadikan bahan inspirasi untuk di aplikasikan di Indonesia. Contohnya “Inovasi Tugas Akhir yang sangat bagus dari salah satu mahasiswa, yaitu balok mortar yang di injeksi dengan bakteri yang dapat membuat beton yang retak self-healing effect, selain juga mempelajari tentang Tensegrity Structure yang dapat menghitung frekuensi alami dan jumlah perpindahan tanpa memperbaiki node dapat diterapkan ke berbagai bidang, tidak terbatas pada konstruksi".