Jakarta (11/4/2017) - Duduk di kelas sambil mendengarkan dosen mengajar kadang memang terasa jenuh. Tapi jangan khawatir Prodi Ilmu Komunikasi tak hanya menerapkan metode pembelajaran di dalam kelas saja, melainkan di luar kelas. Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menerapkan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan kreatif dengan sering melakukan kegiatan praktik di luar lingkungan kampus. Sehingga mahasiswa dapat mudah memahami materi yang disampaikan oleh dosen, serta mendapatkan pengalaman yang tidak dapat ditemui dikampus lain.

Salah satu dalang dibalik kegiatan belajar di luar kampus ini adalah Bapak Pandit Sumawinata, lelaki berperawakan tinggi serta menggunakan kacamata ini memang gemar melakukan metode pembelajaran yang berbeda dari dosen lainnya.

“Mau dimanapun saya mengajar saya selalu melakukan terobosan yang sama antara lain belajar di luar kelas melakukan praktek-praktek,” ujar Pak Pandit saat dijumpai di Plaza Festival, pada Selasa (11/4/2017).

Kegiatan foto bersama mahasiswa usai kelas yang dilakukan di RPTRA Akasia Tebet

Ada satu kutipan menarik yang menginspiring Pak Pandit yaituThe Objective of Education is Learning not Teaching. Kutipan tersebut diaplikasikan oleh Pak Pandit dalam metode pembelajarannya. Baginya, yang terpenting dalam kegiatan belajar adalah ketika Pak Pandit dapat sharing ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa. Proses sharing dilakukannya dengan kegiatan praktek sebagai penunjang dari teori yang disampaikan dikelas. Karena menurut Pak Pandit, dengan melakukan kegiatan praktek mahasiswa akan lebih mudah mengingat suatu materi dibandingkan dengan menghafal suatu materi.

Kelas Kampanye Pemasaran Komunikasi Kreatif di Stadion Gor Sumantri Brodjonegoro

Metode pembelajaran yang diterapkan Pak Pandit bertujuan untuk menggali kreatifitas dari mahasiswa. Seperti pada mata kuliah Kampanye Pemasaran Komunikasi Kreatif, terdapat dua kelas pada mata kuliah ini dimana kegiatan presentasi dilakukan di kawasan yang berbeda yaitu di Epicentrum dan Stadion Gor Sumantri Brodjonegoro. Sebelum presentasi di dimulai mahasiswa diajak untuk berolah raga lari. Kelas pertama lari mengelilingi kawasan Epicentrum, sedangkan kelas kedua lari mengelilingi Gor Sumantri Brodjonegoro.

Setelah olahraga lari mahasiswa melakukan presentasi tanpa bantuan ppt ataupun proyektor

Lingkungan Universitas Bakrie yang strategis dikelilingi oleh berbagai macam gedung dengan fasilitas yang lengkap membuat kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan jika dilakukan di luar kampus. Melalui kegiatan presentasi tersebut mahasiswa dituntut untuk dapat berpikir kreatif, dalam menyampaikan materi presentasi. Proses belajar yang dilakukan di luar kampus akan menjadikan mahasiswa menjadi lebih segar serta dapat menghasilkan ide-ide kreatif.

Belajar diluar kelas tentunya disambut gembira oleh para mahasiswa. Suasana belajar yang baru membuat mahasiswa merasa fresh dan tidak membosankan.

“Seru banget, menurut aku beda aja gitu sama mata kuliah lain. Secara gitu dikelas kan ber-ac bikin ngantuk. Nah kalo ini langsung dibawa ke stadion buat running bareng. Terus challangeing banget presentasinya engga pake komputer atau power point segala macem. Sangat kreatif,” tambah Ara mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2015, pada Selasa (11/4/2017).

 

Pemberian materi yang dilakukan di RPTRA Akasia Tebet

Selain itu Pak Pandit juga mengajak mahasiswa untuk belajar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Akasia Tebet. Mahasiswa ditugaskan untuk mewawancarai pengurus, dan warga sekitar tentang pendapat serta harapan mereka terkait adanya RPTRA Akasia Tebet. Selain itu mahasiswa juga ditugaskan untuk mengambil foto area RPTRA dengan pengambilan angle foto yang baik kemudian mengunggahnya ke akun instagram masing-masing disertai dengan caption dan juga hashtag #ilkombakriebeda.

Penggunaan #ilkombakriebeda pada setiap kegiatan yang dilakukan Pak Panditt

Dituntut kreatifitas yang tinggi bagi dosen untuk dapat membuat metode pembelajaran yang menyenangkan namun tetap sesuai dengan materi perkuliahan. Dengan mengemas metode pembelajaran dengan menarik tentunya dapat meningkatkan semangat belajar dan juga meningkatkan kreatifitas dari mahasiswa.

“Saya mengharapkan mahasiswa yang ada di kelas saya, setelah satu semester dia berubah apakah itu lebih pinter, lebih senyum, lebih berani nanya, lebih talk active karena you have to enjoy and fun doing your work atau your class gitu. Karena 60% of your life is working, if your not happy doing things of your life will be miserable,” tutup Pak Pandit.

Penulis: Viviet Sandra Bailussy