(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Sidebar

PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN) merupakan salah satu destinasi mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) 2013 yang harus diikuti dalam memenuhi perkuliahan Praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan. Tepat pukul 06.30 WIB pada 16 Maret 2016 lalu, seluruh mahasiswa ITP 2013 sudah berkumpul di kampus Bakrie untuk berangkat bersama.  Perjalanan dari Jakarta ke Subang terbilang lancar. Namun, lokasi PTPN yang sulit ditemui membuat perjalanan kami menjadi lama hingga menghabiskan waktu 4 jam di perjalanan.

Rasa lelah selama perjalanan segera terbayar saat tiba di PTPN. Sesampainya disana, kami disambut dengan ramah oleh seorang pegawai PTPN. Kemudian, kami segera diajak untuk berkeliling perkebunan teh dengan luas ±3000 hektar tersebut. Semilir angin dingin yang menyapu wajah kami dan awan mendung membuat suasana kebun teh yang terasa sejuk menjadi lebih sejuk, sehingga kami semakin antusias mendengarkan penjelasan terkait tanaman teh dan pemilihan daun teh terbaik dari petugas PTPN. Salah satu alasan lokasi perkebunan teh yang selalu dingin yaitu sifat daun teh yang bersifat higroskopis yang dapat menyerap udara dingin.  

Gambar 1. Daun teh dipilih dari 3-5 daun teh dari pucuknya

“Teh terbaik di pilih untuk menghasilkan minuman teh yang berkualitas baik. PTPN bergerak di produksi teh hitam untuk masyarakat sekitar dan ekspor dunia seperti Eropa Timur dan Amerika. Teh hitam dipilih dari 3-5 daun teh yang berada pada pucuknya. Setiap 4 tahun sekali, tanaman teh dipangkas daun bagian atasnya, agar diperoleh daun teh muda kembali. Tanaman teh hanya dapat tumbuh di dataran tinggi yaitu ±1100 dpl dan bersuhu 15-20ºC”, terang pegawai PTPN. Ditengah perjalanan kami berkeliling perkebunan teh PTPN, kami sempatkan diri untuk berfoto ria bersama-sama.
 

Gambar 2. Foto bersama di tengah perkebunan teh

Setelah puas berkeliling perkebunan teh, kami diajak menuju tempat produksi. Selama perjalanan ke tempat produksi, beberapa mahasiswa masih antusias bertanya mengenai pohon yang ada di sekitar tanaman teh dan hama atau penyakit yang biasa menyerang tanaman teh. Berikut pemaparan petugas PTPN tersebut, “Pohon-pohon yang sering terlihat diantara tanaman teh biasanya adalah pohon jati yang sengaja ditanam. Fungsinya untuk menangkal hama, karena biasanya hama menyerang pohon yang paling tinggi dahulu sebelum menyerang tanaman yang lebih rendah. Hama tanaman teh berbeda ketika musim panas dan musim hujan. Pada musim panas hama yang dijumpai adalah ulat, sedangkan pada musim hujan, pemukaan bawah daun teh dijumpai bintik-bintik berwarna putih yang membuat air hujan tidak jatuh”.   Sesampainya di tempat pengolahan daun teh, perhatian kami terfokus pada konveyor gantung yang mengangkut daun teh pasca pemetikan kemudian di distribusikan ke dalam ruang produksi di lantai 2. Ruang produksi dibagi menjadi 2 lantai. Lantai pertama dikhususkan untuk mesin-mesin pengolahan, sedangkan kontrol dan proses pelayuan di lakukan di lantai 2.   Disana, kami dipertemukan dengan seorang konsultan PTPN. Dengan sangat rinci, kami diterangkan seluruh proses pengolahan teh mulai dari daun teh pasca pemetikan hingga teh yang sudah di kemas.
 

 

Gambar 3. Pegawai PTPN sedang mempersiapkan konveyor gantung

 


Gambar 4. Konveyor gantung yang mengangkut daun teh pasca pemetikan

Proses pengolahan daun teh terdiri dari 7 tahapan yang dimulai dari Pemanenan dan Pemetikan. Daun teh terbaik dipanen dan dipetik kemudian diangkut menggunakan konveyor gantung menuju tahapan-tahapan berikutnya. Selanjutnya, dilakukan proses pelayuan yang dimaksudkan untuk menurunkan kandungan air yang terkandung pada daun teh menjadi 25%. Penggilingan merupakan tahapan berikutnya yang hasilnya berupa teh bubuk (powder). Daun teh digiling dan diayak sebanyak 4 kali untuk memperoleh teh powder  yang baik. Fermentasi menjadi salah satu tahapan penting dalam pengolahan teh. Fermentasi dilakukan secara alami (tanpa penambahan starter) yang dimaksudkan untuk mengeluarkan komponen-komponen khas pada teh (aroma, rasa, dan warna) agar menjadi teh dengan kualitas terbaik dan diterima konsumen. Teh mengandung komponen polifenol yang merupakan antioksidan dan dipercaya dapat menangkal radikal bebas. Fermentasi ini dilakukan pada suhu 22ºC selama 1 jam. Setelah proses fermentasi, teh kemudian dipisahkan dan dipilih pada tahapan sortasi. Sortasi dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis dan ukuran partikel.  Tahapan terakhir pengolahan teh yaitu packaging. Packaging yang digunakan yaitu plastik dan alumunium foil.  


Gambar 5. Ruang Penggilingan Teh


 
Gambar 6. Fermentasi daun teh


 
Gambar 7. Ruang Pengeringan
 


Gambar 8. Ruang Pengemasan

 

Setelah melihat-lihat proses pengolahan teh dan mendengar penjelasan dari konsultan PTPN, kami diajak melintasi laboratorium dan beberapa pajangan sertifikat penghargaan yang diraih PTPN. PTPN telah memiliki sertifikasi halal dan menjadi perusahaan teh terbaik dengan predikat ortodoks. Kunjungan di PTPN diakhiri dengan penjamuan teh oleh PTPN untuk mahasiswa dan rombongan kami. Teh yang dihidangkan masih sangat fresh from the garden dan aroma tehnya masih sangat terasa alami.
 
Seluruh rangkaian kunjungan di PTPN diakhiri mahasiswa dan rombongan dengan belanja teh walini produksi PTPN. Menurut keterangan seorang petugas PTPN disana, teh walini hanya didistribusikan untuk warga sekitar dengan alasan menjaga keaseliannya. Salah satu keunikkan teh walini yang berbeda dengan teh lainnya adalah teh walini memiliki beberapa rasa seperti mint, apel, leci, jahe, dan blackcurrant. Petugas PTPN yang melayani kami berbelanja juga memberikan tips membedakan teh yang menggunakan essens dan tidak menggunakan essens. Teh yang menggunakan essens aroma tehnya sudah tercium bahkan sebelum kemasannya terbuka (kemasan beraroma teh), sedangkan teh yang tidak menggunakan essens kemasannya tidak tercium aroma teh.  


Gambar 9. Teh Walini engan beberapa rasa

Setelah kunjungan ke PTPN, akhirnya kami kembali ke Jakarta dengan perasaan senang dan beruntung. Bagaimana tidak, kunjungan kami kali ini sebenarnya adalah praktikum, namun lebih terasa seperti jalan-jalan dan ditambah mendapat banyak ilmu mengenai pengolahan teh yang baik. Semoga ilmu yang kami peroleh kelak bermanfaat dan teh walini tidak hanya bisa di nikmati di Subang saja, tetapi juga di Jakarta dan seluruh Indonesia. Tetap semangat dan Salam Pangan!^^/ Ditulis oleh : Oleh Tiara Indra Saraswati

Berita Lainya