(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');
JA Biz - шаблон joomla Видео

JEPANG DAN KEINDAHANNYA DI MUSIM GUGUR

‘JEPANG’… mendengar kata itu, saya teringat akan salah satu mimpi yang saya tuliskan di cover letter dalam memenuhi persyaratan untuk mengikuti seleksi Sakura Exchange Program in Science pada tujuh bulan yang lalu. Mimpi itu ialah keinginan untuk menapaki kaki di negara yang indah dan teratur itu. Tidak disangka memang, keinginan ini muncul sejak saya duduk di bangku perkuliahan yang semula tidak terbersit sedikit pun untuk mengenali negara tersebut.

Sejak dikenali betapa berkembangnya teknologi khususnya di bidang penelitian, kebiasaan masyarakat Jepang yang disiplin dan teratur, serta berbagai inovasi produk pangan yang menjamur di sana, membuat saya begitu penasaran ingin berkunjung sekaligus menimba ilmu di Jepang.
“Allahu Akbar”, tidak disangka Allah memberi saya jalan untuk menggapai mimpi saya melalui Sakura Exchange Program in Science ini. Kabar gembira berawal dari munculnya grup WhatsApp ‘ITP road to Nihon’ secara tiba-tiba. Perasaan saya mendadak kaget, bingung, sekaligus penasaran akan kemunculan grup baru tersebut. Firasat saya tiba-tiba mengatakan, “Apa mungkin saya lolos seleksi?”. Beberapa menit kemudian, ternyata firasat saya itu memang benar. Ucapan “Selamat kepada Sepuluh Orang Mahasiswa ITP yang telah terpilih menjadi Duta ITP Bakrie untuk acara Sakura Science Program” beserta nama saya dalam daftar peserta yang lolos seleksi, membuat saya terkejut dan sangat bahagia. Rasanya saya ingin berteriak untuk mengungkapkan rasa bahagia yang saya rasakan saat itu. Saya sangat bersyukur sekali atas kesempatan yang diberikan ini. Segera saat itu, saya beritahukan kepada orangtua saya akan berita gembira ini.
Keberangkatan ini merupakan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri sehingga menjadi pertama kali pula saya mengurus paspor dan visa. Tidak begitu canggung memang saat mengurus hal tersebut dikarenakan saya mengurusnya bersama teman-teman yang lain. Selain paspor dan visa, saya harus menyiapkan ‘perlengkapan tempur’ seperti baju tebal, sarung tangan, syal, kupluk, pelembab kulit, dan pelembab bibir. Karena menurut informasi yang didapat, di bulan keberangkatan kami, November, akan berlangsung musim gugur dengan suhu berkisar 10oC. Suhu di Sendai memang lebih rendah dikarenakan letaknya yang berada di bagian utara pulau Honshu dibandingkan dengan Tokyo, Kyoto, atau Osaka yang lokasinya di tengah atau selatan.


Setibanya di Jepang…
Perjalanan selama tujuh jam menggunakan pesawat untuk sampai di Jepang bagi saya memang membutuhkan adrenalin yang cukup tinggi. Maklum, ini merupakan pertama kalinya saya naik pesawat sehingga saya agak takut dan cemas saat di perjalanan. Namun, lambat laun kecemasan itu hilang karena saya mulai merasakan kenyamanan selama perjalanan. Setibanya di Sendai, kami menginap di salah satu hotel di Aoba. Saat itu kami segera beristirahat dan mengumpulkan energi untuk mengikuti serangkaian kegiatan di keesokan harinya.


Kegiatan selama Sakura Exchange Program in Science
Kegiatan dalam Sakura Exchange Program in Science diawali dengan kegiatan perkenalan Tohoku University dan Agriculture faculty, serta campus tour (Kawauchi, Katahira, dan Aobayama). Selain itu, malalui program ini, kami diperkenalkan dengan beberapa laboratorium yang ada di Tohoku University seperti laboratory of nutrition, laboratory of food and biodynamic chemistry, dan laboratory of animal science. Tidak hanya itu, selama kegiatan kami mengikuti seminar mengenai eksperimen yang telah dilakukan oleh mahasiswa dari laboratory of nutrition dan mengikuti kuliah dari unit Marine Immunology CFAI.

 


 
Gambar 1. Foto bersama di Kampus Kawauchi


Pada suatu kesempatan, kami juga mengadakan pertemuan dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai di International House (asrama yang disediakan oleh JASSO). Tempat pertemuannya memang cukup jauh dari hotel dan kami menempuhnya dengan berjalan kaki. Pada separuh perjalanan, kami singgah di sebuah kuil yang terkenal dengan pemandangannya yang begitu indah, Rinnoji Temple. Wah…amazing! Kami begitu takjub ketika melihat warna-warni daun dengan kolam ikan di sekitarnya, dan berdiri kokoh sebuah kuil. Rasa lelah kami sepanjang perjalanan terobati dengan melihat indahnya pemandangan di sana. Karena asyiknya berfoto, kami pun lupa bahwa kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju tempat pertemuan dengan PPI Sendai. Dengan langkah kaki yang cukup berat untuk meninggalkan tempat yang indah itu, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh Ketua PPI Sendai dan beberapa pelajar Indonesia lainnya. Acara dimulai dengan perkenalan dan disambung dengan sharing session mengenai kesan yang kami rasakan selama di Jepang, berbagi informasi dan pengalaman dari teman-teman PPI mengenai beasiswa, cara untuk studi lanjut, dan kehidupan di Jepang. Sebagian besar teman-teman PPI bisa melanjutkan studinya di Tohoku University melalui jalur beasiswa, antara lain Monbukagakusho (beasiswa Pemerintah Jepang) baik melalui University to University maupun Government to Government ataupun beasiswa lainnya. Pertemuan ini juga diselingi dengan menyantap jamuan makanan dan minuman yang disediakan. Teman-teman PPI sangat welcome menyambut kami dan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi terkait studi lanjut di Jepang. Akan tetapi, pertemuan ini begitu singkat dan kami harus segera pulang.
Rasa syukur tidak hentinya saya ucapkan karena diberikan kesempatan untuk melihat begitu menakjubkan pemandangan selama musim gugur di Jepang walaupun saat itu suhu udara cukup menggigilkan tubuh. Warna daun ginko yang kuning dan daun maple yang merah begitu memuaskan mata dan menarik hati untuk mengabadikan moment ini. Ditambah lagi penduduk Jepang yang begitu ramah dan disiplin, lingkungan yang begitu bersih, nyaman, bebas polusi, dan jauh dari kemacetan. Hmmm… betah rasanya dan ingin berlama-lama tinggal di sana. Tetapi, apa daya ‘jatah’ saya untuk tinggal di sana hanya delapan hari.
Di penghujung perjalanan saya di Jepang, saya dan rombongan berangkat dari Sendai ke Tokyo dengan menggunakan Shinkansen (juga disebut kereta peluru) yang merupakan kereta api cepat Jepang yang digunakan sebagai angkutan antar kota, dengan kecepatan tertingginya mencapai 300 km/jam. Di Tokyo, kami mengunjungi Asakusa dan Odaeba. Di Asakusa, kami mengelilingi Sensoji Temple sedangkan di Odaeba terlihat Jepang versi modern dengan keberadaan Replica Statue of Liberty, Rainbow Bridge, Fuji TV Building, Aqua City Shopping Center, dan lain-lain.

 

 


 
Gambar 2. Foto di Odaiba (Tokyo) dengan latar belakang Jembatan Rainbow


Perjalanan saya selama mengikuti program ini sangat bermakna dan begitu berkesan. Selain menambah wawasan mengenai bidang yang saya geluti, yaitu teknologi pangan, saya juga mendapatkan pelajaran sikap yang perlu ditiru dari penduduk Jepang baik itu kejujuran, kedisiplinan, dan ketekunan. Saya berharap cerita indah selama musim gugur ini dapat bersambung dengan cerita indah lainnya di negara empat musim, Jepang.

 

 


 
Gambar 3. Foto bersama di Kampus Amamiya