(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Sidebar

Dokumentasi perjalanan ini akan dibuat sebagai sisi lain dari perjalanan rombongan Program Studi (prodi) Teknologi Pangan (TP) Universitas Bakrie (UB) dalam rangka Sakura Exchange Program in Science yang dilakukan di Tohoku University, Sendai Jepang dari tanggal 8-15 November 2015. Laporan pandangan mata lainnya sudah dipublikasikan di web UB (http://www.bakrie.ac.id/en/news/110-why-universitas-bakrie/667-sakura-exchange-program-in-science-sakura-science-program-prodi-itp-universitas-bakrie-tohoku-university).

Cerita berseri dari perjalanan ini dibagi menjadi beberapa post berdasakan tema, countersy to Riska Fitriawati; telah berbagi tulisan ini (https://riskafitriawati.wordpress.com/). Riska adalah salah satu peserta romboangan Prodi TP dalam Sakura Exchange Program in Science.
 
 
Program dan Fasilitas
Banyak yang bertanya dalam dalam rangka apa saya bisa terbang sampai ke Jepang. Daripada berkali-kali cuap-cuap pada tiap orang yang berbeda, lebih baik saya tuliskan di sini.
Kami berada satu minggu di Jepang adalah dalam rangka mengikuti program Sakura Exchange Program in Science yang diselenggarakan dan didanai penuh oleh Japan Science and Technology Agency (JST). Fasilitas yang didapatkan oleh peserta adalah tiket pesawat pulang pergi, biaya penginapan, serta uang saku selama tinggal di sana. Kegiatan ini terselenggara karena kesempatan yang diberikan oleh Shirakawa Sensei kepada mahasiswa Prodi TP-UB. Associate Prof Hitoshi Shirakawa (kami sebut dengan Shirakawa Sensei) merupakan pembimbing/supervisor dosen kami yang juga adalah Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknologi Pangan (TP-UB) (Bapak Ardiansyah), saat beliau menjalani pendidikan mahasiswa doktoral dan posdoktoral di Laboratory of Nutrition, Graduated School of Agricultural Science, Tohoku University. Pengumuman dan rekruitmen program ini dibuka pada tanggal 8 April 2015. Tahun ini, lewat Prodi TP, Universitas Bakrie, program ini dikhususkan untuk mahasiswa prodi TP-UB. Persyaratan yang diminta antara lain adalah prestasi akademik yang baik, kemampuan bahasa inggris yang dibuktikan dengan sertifikat toefl > 500, aktif dalam kegiatan non-akademik, kesanggupan membuat paspor, CV dan essai yang dibuat dalam bahasa inggris. Berkas yang masuk kemudian diseleksi oleh para dosen TP-UB, dan peserta yang lolos diumumkan pada bulan tanggal 30 April 2015. Dari sepuluh mahasiswa yang terpilih, saya salah satu mahasiswa yang terpilih dalam program ini. Peserta Sakura Exchange Program dari Prodi ITP, Universitas Bakrie Keberangkatan
Malam itu para personel perempuan menginap di kontrakanku. Alasannya seperti yang sudah kuceritakan, khawatir t e r l a m b a t bangkit dari tidur. Ada tiga satpam (semua akhwat) yang menemani kami malam itu, namun sayang 2 diantaranya malah tertidur lebih awal daripada kami. Saya memutuskan untuk tidak tertidur sepenuhnya, hanya memejamkan mata, bahasa manusianya merem ayam. Pukul 02.30 kami berangkat ke kampus, lima orang dengan masing-masing menggeret satu koper, membuat keriuhan pada dini hari yang hening. Kami bertolak dari meeting point, kampus, pukul 3 dini hari, diantar oleh mobil kampus dengan kapten Mas Mardi dan Pak Andang. Di bandara, kami bertemu dan berkumpul dengan dosen pembimbing dan rombongan dari kampus IPB. Jam masih menunjukkan pukul 4 lewat beberapa menit. Masih ada yang ditunggu, teman-teman yang belum hadir, juga adzan subuh.


Foto bersama di Bandara Soeta

Usai subuh, kami segera melakukan check in dan memperoleh boarding pass. Selanjutnya kami menjalani pemeriksaan paspor, visa, dan boarding pass di bagian imigrasi, serta pemeriksaan di gate terakhir. Nah dosen kami bilang di gate ini kami tidak boleh membawa cairan melebihi 100 ml, dalam bentuk parfum atau apapun itu jenisnya, tetap tidak boleh. Alhasil semua minuman yang kami bawa langsung diteguk, dipindahkan ke koper (sebelum check in tadi), atau dibuang. Salah satu dari kami tertangkap basah, diperiksa gegara terdeteksi membawa cairan. Katanya sih dia bawa listerin, tapi karena lupa sama sekali, dia hanya mengaku membawa Tip X, dan lolos. Pesawat mengudara pukul 6.25 WIB. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar kan? Satu jam pertama masih riuh mengobrol, berhaha hihi. Satu jam kedua mulai lapar dan exited saat mendapat jatah makanan. Jam ketiga mulai autis, nonton film, dengerin musik, main games. Jam berikutnya mulai mengantuk. Jam jam berikutnya mulai bosan, gak jelas melakukan apa. Pesawat yang kami tumpangi adalah maskapai penerbangan milik Jepang, All Nippon Airways. Sudah jelas pramugarinya cantik-cantik. Sepanjang perjalanan berasa dilayani oleh pemain dorama (drama jepang). Sebentar-sebentar disenyumi, ditanya butuh apa, mau apa, meskipun beberapa dari yang dia katakan tak dapat ditangkap telinga, ngeblur. Salut sama kapten pilotnya, sama sekali tak merasakan apapun, tidak terasa ada guncangan, terlebih cuacanya bagus, anteng saja. Kapten keren, menerbangkan pesawat sebegini besar dengan penumpang sebegini banyak tanpa terasa apa-apa. Hebat. Saya markirin motor saja oleng, Pak. Wehehe. Pesawat tiba di Narita pukul 15.45 waktu Tokyo. Perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan pesawat domestik menuju Sendai, kurang lebih 1 jam perjalanan. Namun karena gangguan air traffic, penerbangan ditunda dan kami baru bisa sampai di Bandara Sendai pukul 8 malam. Di sana kami sudah ditunggu oleh Shirakawa Sensei; Sensei yang bakalan sering menemani perjalanan kami, dan diantar menggunakan bus ke hotel di Daerah Aoba, tiba pukul 10 malam.

 

                                                                                                                                     Groupie di Bandara Narita Selesai.... Bagian (1)

Berita Lainya