Sidebar

Mengutip berita yang dilansir oleh BBC (www.bbc.com) yang berjudul “Anak-anak Muda Indonesia Semakin Radikal?”oleh Sri Lestari yang dimuat pada (18/2), dalam artikel tersebut Peneliti LIPI Anas Saidi mengatakan kalangan anak muda Indonesia semakin mengalami radikalisasi secara ideologis dan semakin tak toleran, sementara perguruan tinggi banyak dikuasai oleh kelompok garis keras.

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Berangkat dari data tersebut, Universitas Bakrie berperan aktif dalam gerakan anti radikalisme, selain pembekalan yang berikan kepada seluruh mahasiswa baru melalui orientasi mahasiswa baru atau disebut dengan UB’s Week 2017 melalui materi-materi wawasan kebangsaan, seperti “Membangun Generasi Unggul Indonesia” dan menanamkan rasa bangga menjadi bangsa Negara Indonesia, yang disampaikan oleh Ilham Habibie dan Randy Bagasyudha.

Universitas Bakrie diwakili oleh Kepala Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bakrie (LPKM-UB) Boy Iskandar Pasaribu, S.Kom., GDBS, MIS, MIT berpartisipasi secara aktif dalam deklarasi anti radikalisme dan terorisme dari seluruh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, 26 September 2017 yang turut dihadir oleh Presiden RI, Jokowi.

Hasil pertemuan pimpinan perguruan tinggi ini adalah sepakat untuk berdeklarasi bersama untuk mencegah dan melawan radikalisme yang memaksakan kehendak dan dapat menimbulkan terorisme yang tidak sesuai dengan Pancasila dan NKRI.

Universitas harus dapat mencegah dan mengidentifikasi radikalisme di kampus dan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti kepolisian & penegak hukum lainnya seperti mengembalikan pelajaran Pancasila dalam kurikulum maupun non-kurikulum seperti di berbagai kegiatan himpunan kemahasiswaan.
Esensi perguruan tinggi adalah kebebasan berfikir dan berpendapat yg dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, bukan memaksakan kehendak yg tidak toleran terhadap pihak lain yg berbeda, sehingga radikalisme bertentangan dng jiwa perguruan tinggi.

Acara ini adalah kelanjutan acara penandatangan deklarasi anti radikalisme dari 155 perguruan tinggi dibawah naungan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III DKI Jakarta yang digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur (20/9) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi serta disaksikan langsung oleh Koordinator Kopertis Wilayah III DKI Jakarta, dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).