(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Program Hubungan Internasional Universitas Bakrie menggelar acara seremoni penandatangan MoU antara Universitas Bakrie dengan FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia) dengan mengadakan guest lecture yang mengusung tema “The Challenge of Indepedent and Active Diplomacy in Changing World” yang menghadirkan mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Amerika Serikat (AS), Dr Dino Patti Jalal.

Rektor Universitas Bakrie Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengatakan kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah mulai diaplikasikan merupakan peluang sekaligus merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia, oleh karena itu, perguruan tinggi sudah seyogyanya berperan dalam peningkatan kualitas SDM. Beliau berharap dengan penandatanganan dengan FPCI, Universitas Bakrie memiliki peran strategis yang dapat merubah pola pikir generasi muda terhadap globalisasi.

Sedangkan menurut Dino, the big question adalah apa strategi politik global dari Indonesia dalam artian bebas bersikap bebas berstrategi, tapi harus berdasarkan inform quality majors, Tantangan diplomasi bebas aktif di abad 21 adalah how connected we are, karena konektivitas memegang peranan penting di era globalisasi ini.
“Indonesia harus memiliki strategi globalisasi, mengukur pengaruh Indonesia di luar negeri, mahasiswa ditantang untuk mengukur influence dan impact negara Indonesia bagi negara lain melalui research dan mendorong mahasiswa HI Universitas Bakrie sehingga bisa menjadi diplomat yang serba bisa dan adaptif dengan berbagai keadaan”, ujarnya lagi.

 

Teuku Rezasyah, Ph.D. yang juga menjadi pembicara dalam guest lecture tersebut mengemukakan untuk memahami Foreign Policy harus dimulai dari menata diri sendiri, politik bebas aktif tidak cukup namun juga harus kreatif, dengan berakar pada sejarah dan filsafat karena ada keterkaitan yang kuat antara masa lalu, kini dan masa depan, Indonesia bisa maju dengan mengkombinasikan domestic strength dan pemimpin yang kreatif.

Berita Lainya