(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun nyatanya pertanian di Indonesia belum bisa bersaing dengan Jepang yang bisa membangun teknologi pangan dan pertanian sendiri, meskipun alamnya kurang mendukung. Kekayaan sumber daya alam Indonesia seharusnya menjadi modal utama untuk bisa bersaing. Hal inilah yang menjadi impian dari mahasiswa Teknologi Pangan di Indonesia, dapat belajar teknologi pangan langsung dari ahlinya.

Inilah salah satu keuntungan menjadi mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Bakrie, berkat adanya program Sakura Exchange Program in Science antara Program Studi Teknologi Pangan dengan Tohoku University, yang sudah dilakukan sejak tahun 2015. Tahun 2017, merupakan program ketiga Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Bakrie dapat melakukan studi tour di Tohoku University.

Melalui seleksi yang ketat setiap tahunnya, program studi Teknologi Pangan memberangkatkan mahasiswa yang terpilih untuk mengikuti program student exchange di Jepang. Tahun ini, lima mahasiswa yang beruntung adalah Retno Dwi Astuti (2014), Annisa Oktriani (2014), Aisyah Siti Inayaty (2015), Adristi Shalmawidati (2015) dan Nafila Caherunnisa Misbakh (2016).

Kelima mahasiswa tersebut akan mengunjungi Tohoku University dan belajar bersama-sama dosen dan mahasiswa di Jepang untuk mempelajari teknologi pangan di Jepang secara langsung. Tentu pengalaman ini merupakan ‘life changing’ bagi mahasiswa dan memberikan manfaat yang kelak bisa di sharing dengan teman-teman mahasiswa di Indonesia.

 

 Foto bersama, pada hari pertama kedatangan di Kota Sendai (5 Nopember 2017)

 

Syifa Fauziah

"Sebagai lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan, tentunya diharapkan mampu menjadi food technologist yang baik."

Selanjutnya

 

Gayu P Guritno

"Fun and Worth Every Second Study in TP Bakrie!

Selanjutnya

 

Risqah Fadillah

"Tidak hanya pembekalan menjadi food scientist, tapi menjadi technopreneur "

Selanjutnya

Berita Lainya