(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Jakarta (1/4/2016) – Kegiatan dunia kerja dengan perkuliahan tentunya akan banyak ditemukan perbedaaan yang kadang membuat orang menjadi tidak siap untuk menghadapi kondisi dan situasi yang sesungguhnya. Sehingga menimbulkan kecemasan karena ketidakpastian harapan yang akan dilalui pada dunia kerja. Program Studi Ilmu Komunikasi akhirnya berinisiatif untuk mengadakan acara talkshow  dengan narasumber para alumni yang sharing mengenai pengalaman mereka berada di dunia kerja dan memberikan beberapa tips yang bisa diterapkan di dunia kerja

Kegiatan ini dihadiri oleh lima alumni yang bekerja pada bidang yang berbeda. Diawali oleh Vela Andapita (Ilmu Komunikasi 2010) yang kini bekerja sebagai reporter dan Presenter di Jawa Pos TV. Dia menceritakan berbagai pengalamannya saat menjadi reporter, dari kisah senang sampai dengan kisah pahit yang dia dapatkan. Vela bercerita, ia belajar mencoba cepat beradaptasi dengan lingkungan kerjanya dengan cara rajin magang pada saat masih duduk di bangku kuliah. Dia mengatakan bahwa “You need experience to get a job. You need a job to get experience.” yang mana bisa membantunya dalam mengatasi rasa ketidakpastian atau “kaget” dalam lingkungan pekerjaan.

 

Vela Andapita, Alumni Ilmu Komunikasi

 

Setelah itu dilanjutkan oleh Nadhila (Ilmu Komunikasi 2010) yang saat ini menjabat sebagai Corporate Communications dari CIMB Niaga. Dia berbagi mengenai bagaimana menjadi seorang Public Relations pada saat ini tidak hanya ilmu PR saja tetapi juga perlu ditambah wawasan mengenai Marketing Communications, yang mana saat ini biasa disebut dengan istilah The New PR. Selain itu, dalam bekerja dia juga menyarankan untuk tidak banyak mengeluh, karena mengeluh akan menutup diri dari seseuatu yang baik. Contoh yang diambil dari kehidupan saat perkuliahan, beberapa mahasiswa mengeluh adanya make up class yang dilakukan oleh dosen. Dan pada simpulannya Nadhila mengatakan bahwa “Apa yang kita punya sekarang, terus update dan improve diri, baik Ilmu Komunikasi maupun ilmu-ilmu lainnya.”

Masih dari Alumni Ilmu Komunikasi 2010, yaitu Annisa Guri yang saat ini bekerja di McCann Brand Communication. Perempuan berhijab ini mengatakan bahwa “Ilmu Komunikasi itu, bukan ngomong aja, tapi mikir dulu sebelum ngomong”. Sehingga berpikir juga tidak hanya sembarang berpikir, tetapi dibutuhkan riset. Guri juga mengatakan bahwa Riset adalah salah satu pelajaran yang penting saat kuliah. Selain itu juga cara mengolah data adalah salah satu kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja komunikasi. Dalam dunia kerja, dia juga mengatakan manajemen waktu dan presenting idea adalah sesuatu yang perlu diasah dan terus dilatih.

 

Berlanjut pada Alumni Ilmu Komunikasi 2011 yaitu Iman yang kini kesibukannya menjadi praktisi Imogen PR di bagian Media Relations, yang mana tentu banyak berhubungan dengan awak media. Iman bercerita dia harus bisa berinteraksi dengan para media yang mana dia tidak memiliki background media atau jurnalis sama sekali tetapi dia harus tetap menjalankan tugasnya. Dia juga bercerita bagaimana dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih tinggi dan dia bisa percaya dengan dirinya, yang mana percaya diri juga dibutuhkan proses. Dan yang terakhir adalah Abdul Aziz dari Ilmu Komunikasi 2011 yang kini memilih untuk menjadi entrepreneur setelah lulus dan memiliki gelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Menurut Abdul, orang yang sukses adalah orang yang mau ambil semua kesempatan di depan mata. Walaupun latar belakang kuliahnya adalah Ilmu Komunikasi di peminatan Public Relations, Abdul tidak merasa ragu untuk menjadi pebisnis dalam memilih karir hidupnya. Untuk menjadi seorang entrepreneur diperlukan banyak belajar, tidak hanya belajar dari Ilmu Komunikasi. Selain itu, belajar berorganisasi juga penting, karena ketika ingin menjalankan bisnis, saat berorganisasi kita bisa menemukan orang-orang yang bisa dijadikan partner dalam berbisnis, bisa jadi orang itu adalah orang-orang yang dekat dengan kalian. Kendala yang didapatkan oleh Abdul juga terkait dengan orang-orang internal yang bekerja sama dengan bisnisnya, tidak mudah menjalankan bisnis untuk membentuk tim yang solid di internal.

 

 

Penulis:
Diana Thasya SN – Ilmu Komunikasi 2012

 

Berita Terkini

Prestasi

Kuliah Umum & Kunjungan Perusahaan

"Big Leap To The Real Experience!"