(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Sidebar

Video conference yang mengusung topic “The Outcome of Asian-African Conference and How It Does Affect The ASEAN” telah dilangsungkan pada Selasa, 5 Mei 2015 kemarin.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah panelis terkemuka baik di Indonesia maupun di regional ASEAN. Para panelis tersebut adalah Prof. Dewi Fortuna Anwar (Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik), Prof. Derry Habir (Director of Strategic Asia), dan Prof. Leonard Sebastian (Associate Professor and Coordinator of the Indonesia Programme at S. Rajaratnam School of International Studies). Acara tersebut juga diisi oleh Emirza Adi Syailendra, M.Sc (Research Analyst at the Indonesia Programme) yang turut berperan sebagai panelis dan dihadiri oleh Mr. Jade Lona dari Kedutaan Filipina. Adapun jalannya diskusi dipandu oleh Bapak Muhammad Badaruddin, M.sc, M.A, salah satu dosen politik Universitas Bakrie. Adapun jalannya diskusi bersifat mulus dan “fruitful”, walaupun ada sedikit gangguan teknis pada suara, namun akhirnya bisa ditanggulangi dengan baik. Walaupun topik diskusi yang diusung adalah bagaimana influensi KAA sampai ke ASEAN, namun para panelis lebih mengarah kepada Negara Indonesia khususnya, apalagi didukung dengan keterlibatan Prof. Leonard Sebastian yang merupakan Koordinator dari Program Indonesia di RSIS Singapura. Prof. Leonard menyatakan bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang jauh lebih besar dari pada di masa lalu. Prof Derry juga menyatakan bahwa kita harus memandang KAA sebagai “commemoration”, namun tidak mengesampingkan fungsi dari KAA sebenarnya: untuk menemukan solusi dari problematika yang dihadapi negara-negara di Asia dan Afrika, yang notabene adalah negara-negara bekas jajahan.  Adapun pernyataan menarik dari Prof. Dewi adalah, kita terkhususnya ASEAN cenderung untuk lebih berfokus terhadap maslaah ekonomi dan perdagangan (mungkin dikarenakan adanya Asean Economy Community 2015) sehingga lalai dari segi keamanan (security). Diskusi berlanjut hingga sampai kepada pengembangan apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia, sebagai “The Founding Father”. Prod. Derry beropini bahwa Indonesia tidak terlalu kuat jika kita dibandingkan dengan Jepang, yang notabene sudah juah lebih maju dan stabil. Untuk membentuk sebuah program yang menguntungkan bagi semua pihak, Indonesia dan negara-negara lain di ASEAN harus bersama-sama membentuk program-program ekonomi serta “security’ yang praktis, sederhana, namun efektif dan berguna untuk jangka waktu lama. Prof. Dewi turut menyatakan bahwa kita sebagai ASEAN harus turut berkaca dan selalu melakukan evaluasi, karena selalu ada kemungkinan bagi berbagai negara-negara untuk lebih memerhatikan beberapa hal, dan memunculkan efek domino bagi perkembangan politik negara itu sendiri (hal-hal tersebut bias berupa radikalisme, sebagai contoh). ASEAN memiliki begitu banyak pelajaran yang bisa dibagikan kepada negara-negara lainnya di KAA.

Diskusi terus berlanjut hingga Prof. Dewi meluncurkan pertanyaan kepada Prof. Leonard: bagaimanakan negara luar melihat Indonesia sebagai salah satu negara yang mengikuti KAA? Prof. Leonard pun menjawab bahwa ini adalah agenda global yang begitu besar, dan Indonesia memiliki potensi yang bagus untuk ke depannya. Diskusi pun terus berlanjut hingga sampai ke sesi pertanyaan menarik: bagaimanakah dengan kemerdekaan Palestina? Prof. Dewi menjawab dengan bijak bahwa kita sebagai anggota internal tidak bisa menyalahkan negara-negara luar yang seperti “berat sebelah”. Ini adalah pekerjaan rumah bagi KAA dan juga Indonesia khususnya. Diskusi pun berakhir dengan kesimpulan bahwa Indonesia memiliki pilihan yang bebas untuk menentukan dimanakah kaki negara tersebut berpijak. Indonesia tidak perlu untuk berusaha mengikuti seluruh rangkaian arus dunia yang ada, cukup untuk membuat kebijakan sendiri yang dirasa perlu dan efektif. Because there’s no normative framework (Prof. Dewi). Tulisan ini dibuat oleh Taufikkurahman HS < Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.>, Mahasiswa Hubungan Internasional, 2011.

Berita Lainya