Sakura Science Program Batch II telah memasuki hari ketiga dimana mahasiswa pada hari ini berkesempatan untuk mengikuti Sidang Terbuka, Joint Lecture dan mengamati beberapa proyek yang dibuat oleh mahasiswa Nihon University diantaranya adalah ACN Personal Mobility Vehicle dan Non-Collision Car.

Personal Mobility adalah kendaraan yang hanya bisa digunakan untuk 1-2 orang, dengan kecepatan maksimum 18km/h. Kendaraan ini boleh menggunakan jalur pedestrian dengan kecepatan 6km/h. Kendaraan ini didesain untuk orang usia lanjut, kursi yang digunakan berbeda dengan mobil pada umumnya, kursinya dibuat hanya seperti bersender, tetapi ada dudukannya, sehingga memudahkan manula yang biasanya kesulitan bangun dari duduk. Mobil ini dilengkapi safe and reliable system, sensor radar sehingga bisa mendeteksi jarak benda didepan mobil dan memberikan peringatan bila benda terlalu dekat dan bisa berhenti dengan sendirinya apabila didepannya ada sesuatu yang menghalangi (meminimalkan kecelakaan) dan mendeteksi kemiringan kendaraan, jika kendaraan miring maka akan diberi peringatan yang muncul pada sebuah layar didalam mobil.

Sementara itu Non-collision car adalah sensor yang bekerja dengan memancarkan gelombang longitudinal yang digunakan untuk mengetahui jarak mobil (yang menggunakan sensor) dengan benda di depannya (seperti kendaraan lain dll). Ketika mobil dengan sensor melaju, kemudian ada benda didepannya maka mobil dengan sensor dapat berhenti sehingga tidak menabrak benda di depannya. Tetapi pada jarak dan kecepatan tertentu, apabila kecepatan terlalu besar dan jarak benda tiba-tiba dekat, maka masih ada kemungkinan menabrak, tetapi kecepatan kendaraan dengan sensor sudah menurun sehingga meminimalkan akibat dari kecelakaan. Teknologi ini sudah digunakan pada mobil-mobil. 

Selanjutnya, mahasiswa melanjutkan kegiatan ke laboratorium lainnya, laboratorium tersebut digunakan untuk melakukan percobaan menggunakan hewan/dummy/volunteer (human). Hewan yang biasa digunakan adalah babi, karena babi memiliki organ tubuh dalam yang mirip dengan manusia. Volunteer yang digunakan tidak akan diuji yang memungkinkan mereka meninggal. Salah satu projek yang dibahas adalah analysis of injury mechanism using in vivo animal: head rational impact tester dan seat belt impact test.

Seat belt impact test, tes jika menggunakan seat belt tidak benar (yang benar di pinggang), kadang ada yang diperut. Ketika terjadi kecelakaan, jika menggunakan seat belt di perut maka akan menyebabkan pergeseran seat belt ke bawah dada, yang menyebabkan luka dalam.

Banyak orang yang meninggal akibat keramaian (terhimpit). Makan dilakukan test menggunakan babi, dengan menekan dada dan perut babi menggunakan belt dengan beban tertentu. Hasil tes mengatakan bahwa babi mati saat beban yang diberikan 2x massa tubuhnya dalam waktu 10 menit.

Kemudian kami melanjutkan ke laboratorium struktur, disana kami mencoba simulasi gempa. Alat ini dapat diatur berapa frekuensi gempanya dan bagaimana arah gempanya, horizontal x atau horizontal y. Jadi dapat menguji mesin, jika terjadi gempa apakah ada kerusakan atau bagaimana pada mesin tersebut. Atau pengujian tanah, bagaimana yang terjadi bila terjadi gempa.

Tiba di sesi terakhir, untuk mempelajari simulasi gempa, sebelum memulai simulasi tersebut, mahasiswa diberikan sedikit test untuk menghitung frekuensi natural dan resonansi sebuah benda. Cukup menyenangkan dan melatih otak. Setelah itu pun kami mencoba sendiri gempa Fukushima dengan kekuatan 9 magnitude dan itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan, karena pertama kali mahasiswa mencoba alat tersebut sekaligus merasakan gempa gempa besar yang pernah terjadi di Jepang. Mahasiswa juga dijelaskan mengenai mekanisme mesin yang akan digunakan ( dengan gaya lorentz ) mengunakan amplifier untuk meningkatkan daya hingga dapat mengeluarkan gaya gempa hingga 2 ton per alat ( total 3 alat ).

 

Berita Lainya