(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Dunia konstruksi terkadang identik dengan dunia lelaki yang macho bahkan terkadang identik juga dengan dunia yang kasar dan kotor. Bahkan iklan-iklan produk tertentu menonjolkan produk mereka dengan imej pekerja konstruksi untuk urusan begini.

Tapi bagaimana dengan tingkat gaji dan ketersediaan tenaga kerja bagi sektor kontruksi tersebut? Sungguh beragam jawaban yg akan kita terima dan tentu saja pertanyaannya mesti ada pertanyaan lanjutan yaitu dimana? di negara mana? dan sebagainya..... Kalau kita membicarakan sektor konstruksi di Malaysia yang ada kaitannya dengan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), maka sektor kontruksi merupakan salah satu sektor penting di negara Malaysia yang melibatkan biaya milyaran hingga trilliunan rupiah. Sehingga sektor konstruksi ini sangat menyumbang roda perekonomian negara jiran Indonesia ini. Banyaknya keperluan tenaga kerja sektor konstruksi yang diperlukan di Malaysia akan tetapi tidak mendapat sambutan hangat dari warga negara Malaysia sendiri. Walaupun sebenarnya jumlah pengangguran dalam negeri Malaysia sendiri cenderung meningkat seiring dengan krisis ekonomi global saat ini. Justru sektor konstruksii ini banyak diisi oleh warga negara asing terutama dari Indonesia.
Dari data statistik yang diperoleh dari CIDB (Construction IndustryDevelopment Board Malaysia) hinga tahun 2007, jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Malaysia dari berbagai sektor, Indonesia merupakan peringkat pertama dengan jumlah 1.172.990 orang diikuti oleh Nepal 199.962 orang; kemudian India 130.768; Vietnam 96,892; dan Bangladesh  64.156. Adapun sektor konstruksi merupakan peringkat ke-empat dari perbandingan jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di berbagai sektor di Malaysia. Peringkat pertama diduduki oleh sektor Pabrik atau Perkilangan 614.245; Pertanian 372.007; Pembantu Rumah 317.391; Konstruksi 278.102; dan Service/Jasa 159.977.
Kalau dilihat dari data di atas, memang tidak bisa dipungkiri kalau pembangunan di Malaysia dari 70% sektor informal terutama buruh disini oleh tenga kerja asing dari berbagai sektor. Berdasarkan data CIDB 2007, untuk sektor konstruksi, pekerja asing yang bekerja di negeri Selangor tercatat sebesar 97%, Wilayah persekutuan Kuala Lumpur 95%, Melaka 86%, Pahang 76%, Johor 73%, Negeri Sembilan 62%, Pulau Pinang 52%, Sabah 48%, Perak 48%, Kedah 36%, Terengganu 24%, Kelantan 17%, Perlis 13% dan Sarawak 6%. Hingga Keperluan tenaga asing di sektor konstruksi rata-rata untuk tiap negeri sekitar 52,4%.
Keperluan akan tenaga kerja asing di Malaysia menjadi perhatian khusus pemerintah Malaysia saat ini memandangkan jumlah tenaga kerja pengangguran lokal yang juga semakin bertambah. Hal ini disebabkan warga negara Malaysia sendiri yang suka memilih jenis pekerja ditambah lagi warga negara Malaysia umumnya cenderung untuk ingin bekerja di negeri tempat mereka berasal atau kampung sendiri.
Untuk sektor konstruksi merupakan sektor yang mendapat sambutan paling tidak disukai oleh warga Malaysia. Hal ini disebabkan imej yang buruk untuk pekerjaan kelas rendah sehingga  warga negara Malaysia cenderung enggan untuk menjadikan sektor konstruksi sebagai sumber pekerjaan. Disamping itu sektor konstruksi di mata warga Malaysia merupakan sektor yang beresiko tinggi terutama untuk kesehatan dan keselamatan kerja. Memang bisa dipahami  sektor konstruksi di Malaysia menyumbang lebih 4000 kasus kesehatan dan keselamatan kerja mulai dari tahun 1993 hingga 2003. Sehingga sektor konstruksi juga mendapat imej ”3D (Dirty, Dangerous and Difficult)” di mata warga Malaysia. Imej 3D ini memang menjadi pedoman warga Malaysia untuk memilih pekerjaan.. Selama suatau pekerjaan tidak mengandung unsur 3D maka pekerjaan itu menjadi favorit di Malaysia. 
Hal ini juga bisa dimaklumi dikarenakan berdasarkan survey yang dijalankan oleh American Jobs Rated Almanac, menunnjukkan 14 trend ranking pekerjaan dan sektor konstruksi diletakkan pada peringkat yang bawah. Alasan yang menempatkan rendahnya imej sektor konstruksi diantaranya adalah: Pertama, sektor konstruksi berdasrkan lokasi proyek dan sering berpindah-pindah. Jadi sifanya sementara dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain mengikuti proyek yang ditawarkan. Hal ini yang membuat tidak ada jaminan pekerjaan tetap dan mobilitas yang tinggi karena sering berpindah. Kedua, Keadaan lingkungan keadaan pekerjaan di sektor konstruksi  biasanya sangat tidak teratur dan menyedihkan. Ditambahlagi faktor kesehatan dan keselamatan pekerjaan di sektor konstruksi yang amat memprihatinkan. Yang ke-tiga, Imej sektor konstruksi yang lebih banyak mengunakan tenaga manusia daripada mesin sehingga sektor konstruksi lebih di kenal dengan istilah pekerjaan ”Blue-Collar”dibandingkan dengan sektor industri lain yang lebih banyak mengunakan mesin atau dikenal dengan istilah ”White-Collar”. Yang ke-empat, sektor konstruksi didominasi oleh kaum laki-laki atau lebih sesuai dengan mereka yang mempunyai kekuatan fisik yang cukup.
Dari gambaran di atas,  amatlah jelas keperluan tenaga kerja di sektor industri di Malaysia menghadapi masalah tersendiri dikarenakan masyarakat Malaysia yang kurang meminati sektor tersebut. Ditambah lagi faktor tekanan tambahan gaji yang lebih tinggi untuk memperkerjakan tenaga kerja lokal dibandingkan tenaga kerja asing. Hal itulah yang menyebabkan kontraktor Malaysia lebih menyukai mengambil tenaga kerja asing dibanding tenaga kerja lokal. Bagaimana dengan tenaga kerja yang ilegal??? Tentu saja very welcome sebab gaji yang akan dibayarkan akan menjadi lebih murah lagi.  Banyaknya tenaga buruh ilegal di sektor konstruksi Malaysia membuktikan dengan sendirinya bahwa Malaysia saat ini memang masih sangat tergantung dengan tenaga kerja asing untuk menopang ekonomi negara Malaysia. Walaupun pada saat bersamaan razia terhadap pekerja asing ilegal juga terus dilakukan dari waktu ke waktu.
Para pekerja ilegal juga sepertinya tidak akan merasa khawatir untuk terus datang ke Malaysia sebab para taukee (majikan) siap berebut menampung dan memperkerjakan mereka dengan upah yang murah dan tentu saja upah  murah tersebut susah untuk diberikan bagi tenaga kerja lokal. Selama pemerintah Indonesia tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan kepada rakyatnya dan tidak mampu menyelesaikan masalah krisis kesejahteraan di dalam negeri, maka sangat sulit mencegah migrasi tenaga kerja produktif Indonesia untuk migrasi bahkan menjadi pekerja ilegal sekalipun di negara lain. Walaupun ada sisi yang baik dimana sebetulnya pemerintah Indonesia harus lebih pro-aktif dalam posisi tawar-menawar dalam hubungan kedua negara. Hal ini dikarena kedua pihak saling ketergantungan satu dengan yang lain. Penyediaan tenaga kerja yang memiliki skill yang cukup akan memperkuat posisi tawar bagi tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di Malaysia.
Disamping itu bisnis ekspor tenaga kerja ini sebetulnya mesti segera dipikirkan untuk berhenti dalam jangka waktu ke depan. Memandangkan saat ini pemerintah Malaysia aktif membuat perencanaan untuk mengurangkan ketergantungan tenaga kerja asing di Malaysia. Untuk sektor konstruksi sendiri pemerintah Malaysia saat ini mengalakkan penggunaan IBS (Industrialised Building System) bagi proyek-proyek yang besar. Tentu saja dengan IBS ini pengunaan tenaga kerja akan menjadi berkurang. Sebab semua di material akan dibuat di pabrik dan di tempat proyek konstruksi hanya akan ada proses memasang saja seperti mainan lego. Disamping itu, pemerintah Malaysia saat ini akan memperbanyak trainer-trainer bagi pelatihan pekerja untuk sektor konstruksi dan memperbanyak balai latihan kerja terutama untuk pemuda-pemuda malaysia yang menganggur dan yang mengagumkan semuanya free of charge alias gratis bagi warga Malaysia. Dan tentu saja diperkirakan perencanaan ke depan ketergantungan akan tenaga kerja asing bagi sektor konstruksi akan berkurang.
Dari gambaran di atas sangat jelas ”warning” bagi pemerintah Indonesia untuk memikirkan kembali bisnis ekspor tenaga kerja khususnya tenaga kerja konstruksi untuk kedepannya menyediakan solusi dan lapangan kerja di dalam negeri, bagi mengurangi ketergantungan Indonesia untuk bekerja di negara lain. ”Sepertinya diperlukan ide dan arah pemikiran baru bagi pembangunan Indonesai ke depan”. Karena selama ini boleh dikatakan pemikiran pembangunan sekarang sudah expired alias tidak efektif lagi. Disamping faktor tersebut di atas, faktor sosial dan pembangunan masyarakat yang sehat senantiasa dinantikan di bumi tercinta Indonesia....atau sebaliknya ”Apakah pemerintah akan berpikir untuk meng-ekspor tenaga kerja ke negara lain sebagai alternatif ke depan???”.......kalau halnya demikian, mungkin memang masih sebatas seperti itu pemikiran pemimpin kita........Allahua’lam........   By Dr Ade Asmi, ST, M.Sc
Head of Civil Engineering Department
Universitas Bakrie
Jakarta, Indonesia

Berita Lainya