(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Berita Terkini

Prestasi

Kuliah Umum & Kunjungan Perusahaan

 

Pada minggu ke 2 (23-27 Juni 2014), pelaksanaan workshop Corporate Social Responsibity Danida Fellowship Program masih dilaksanakan di perusahaan GRONTMIJ, Copenhagen, Denmark. Kegiatan pelatihan ditekankan pada pemahaman hal-hal baru yang menunjang Rencana Kerja (action plan) 6 bulan ke depan dari masing-masing peserta. Pelajaran tambahan yang diberikan yakni: Business Impacts, Occupational Health and Safety, Stakeholder Dialogue, dan Communication Skills for Negotiation. Juga diberikan exposure visit atau sharing session dari dua perusahaan yang erat kaitannya dengan penerapan CSR, yakni: PANDORA dan DANWATCH. Beban bagi peserta semakin meningkat karena pada saat yang sama peserta harus menyelesaikan draft Rencana Kerja dan memperdalam pemahaman mengenai United Nations 48 human rights, United Nations Global Compacts, dan United Nations Guiding Principles. Dengan cuaca Denmark yang makin sering tidak bersahabat (dingin, mendung dan hujan rintik-rintik), yang saya rasakan adalah kelelahan dan kangen rumah.

Diskusi di kelas dengan Mohamed Yehia (Egypt) dan Jorge (Bolivia)

Pada sesi Business Impacts dijelaskan proses identifikasi, pengkategorian dan mitigasi risiko dalam konteks CSR. Dijelaskan juga oleh fasilitator Heidi Hjorth dan Rikke Carlsen tentang perangkat analitik yang dapat digunakan. Heidi dan Rikke adalah praktisi CSR di perusahaan Engineering & Consulting Grontmij. Pada sesi Occupational Health and Safety dijelaskan oleh Torben Bruun Hansen mengenai faktor-faktor kesehatan dan keamanan dalam bekerja yang perlu diketahui dan diterapkan sebagai bagian dari usaha untuk memperhatikan hak pekerja. Pada Stakeholder Dialogue dijelaskan oleh Rikke Carlsen mengenai identifikasi dan prioritasi pemangku kepentingan dalam CSR dan bagaimana sebaiknya dialog dilakukan untuk menjalin hubungan yang konstruktif. Sedangkan pada sesi Communication Skills for Negotiation, dijelaskan oleh Elizabeth Boye mengenai pentingnya aspek komunikasi untuk memastikan keberhasilan penerapan CSR. Selain komunikasi pada pelaksanaan kegiatan, komunikasi pada tingkat eksekutif juga sangat penting untuk memastikan adanya dukungan penuh dari pimpinan organisasi, pimpinan negara, bahkan pimpinan dunia. Implementasi CSR di tingkat Internasional saat ini masih lemah (belum menjadi keharusan), sehingga dihimbau agar setiap pihak yang peduli bekerja keras membantu mewujudkannya. Tujuan akhirnya adalah menjaga keberlanjutan organisasi melalui perhatian pada aspek triple bottom line: people, planet, profit.

Kunjungan dan diskusi di kantor LSM DANWATCH di Copenhagen

Dua organisasi yang dikenalkan pada peserta di minggu kedua ini adalah organisasi komersial (perusahaan) PANDORA, pembuat perhiasan wanita (jewelry) dan organisasi nirlaba (NGO) DANWATCH, organisasi jurnalistik yang menjalankan fungsi pengawasan sosial dalam pelaksanaan CSR perusahaan-perusa-haan Denmark. PANDORA didirikan oleh Per Enevoldsen dan isterinya Winnie pada tahun 1982 sebagai toko kecil penjual perhiasan di Copenhagen. Diawali dengan semangat sederhana ingin berbagi kreasi gelang yang dibuatnya ke masyarakat luas, Pandora kini telah menjadi usaha multinasional dengan 11 ribu karyawan. Pusat produksi Pandora berada di Thailand dengan memiliki sekitar 7 ribu karyawan. Pandora sejak 6 tahun terakhir aktif menerapkan CSR di semua proses dan kegiatan perusahaan, dan diyakini merupakan salah satu kunci suksesnya. Penerapan CSR di Pandora dilaporkan setiap tahun dalam bentuk laporan PANDORA Ethics. Sedangkan DANWATCH adalah organisasi kecil dengan jumlah anggota 10 orang yang memiliki minat pada jurnalisme dan memusatkan kegiatan mereka pada pengawasan penerapan CSR perusahaan-perusahaan Denmark yang beroperasi Internasional. Organisasi ini didirikan oleh beberapa lembaga nirlaba: The Danish Consumer Council, WWF, MS, DanChurchAid and Knud Foldschacks Solstice Foundation.

Sesi-sesi dalam pelatihan CSR yang diselenggarakan dalam program Danida banyak menekankan pada kesepakatan United Nations terhadap human rights, Social Accountability (SA) 8000, UN Global Compacts dan UN Guiding Principles. Namun kurang menjelaskan mengenai ISO 26000:2010 - Guidance to Social Responsibility yang terbit pada tahun 2010. Dokumen ISO ini bukan merupakan dasar atau persyaratan pemberian sertifikat, melainkan hanya petunjuk pelaksanaan. Menurut informasi yang diterima penulis, Kelompok Usaha Bakrie (KUB) selaku kelompok perusahaan yang besar saat ini telah menerapkan kaidah-kaidah CSR dalam kerangka ISO 26000. KUB pun memiliki “Social Responsibility Forum” sebagai wadah untuk mendiskusikan dan berbagi mengenai implementasi CSR di masing-masing anak perusahaan. Di sisi lain, bagi perguruan tinggi seperti Universitas Bakrie, ada peraturan yang bersifat tanggung jawab sosial dari DIKTI yang mewajibkan Dosen melaksanakan 3 sks untuk gabungan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penugasan khusus. Dengan adanya masing-masing tanggungjawab tersebut, ditambah hubungan antara Universitas Bakrie dan Kelompok Usaha Bakrie, maka ini menjadi keunggulan daya saing yang tidak banyak dimiliki oleh perguruan tinggi dan perusahaan di Indonesia. Sinergi diantara keduanya merupakan peluang untuk meningkatkan kinerja masing-masing. Setiap Program Studi di Universitas Bakrie diharapkan dapat bersinergi dengan Perusahan Bakrie dalam bidang yang terkait dan mengambil peran sebagai mitra implementasi CSR, UN Global Compact/SA8000 atau ISO 26000-nya. LPkM-UB akan membantu dan memfasilitasi terwujudnya sinergi ini sebagai visi LPkM dan Rencana Kerja yang segera ditambahkan. Semua tentu dengan tujuan sama untuk mencapai dan menjaga sustainability dari kegiatan Bakrie Group. Copenhagen, 30 Juni 2014 Didit Herawan

"

Aldi Wijaya

"Saya ingin membangun Indonesia untuk menjadi Negara yang maju oleh karena itu saya masuk Teknik Sipil Universitas Bakrie, selain telah ter-akreditasi B, dosen-dosennya juga telah berpengalaman di bidangnya. ."

Selanjutnya

"

Aisyah

"Menurut saya sarjana teknik sipil itu hebat karena tanpa infrastruktur yang kokoh sebuah Negara tidak akan berjalan dengan baik roda perekonomiannya. i. .."

Selanjutnya

"

Pinky

"Teknik Sipil Universitas Bakrie memberikan mahasiswanya kesempatan untuk mengikuti Japan-Asia Youth Exchange Program in Science melalui skema Sakura Science Program dengan Nihon University. ...."

Selanjutnya