(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-33635146-1', 'auto'); ga('send', 'pageview');

Calon Mahasiswa Baru Universitas Bakrie Beserta Mahasiswa Teknik Lingkungan Berkunjung Ke Project House Bapak Irwan Sjarkawi, Komisaris PT. Bakrie and Brothers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Pada tanggal, 12 Agustus 2017, mahasiwa Prodi Teknik Lingkungan dan calon mahasiswa Baru Universitas Bakrie Melakukan Field Visit ke Project House milik Bapak Irwan Sjarkawi, (Presiden Komisaris PT.Bakrie and Brothers Tbk) di kawasan Menteng Jakarta Pusat. Di kediaman Project House Bapak Irwan, ada beberapa teknologi yang menghasilkan energi terbarukan yang beroperasi sebagai eksperimen, sesampainya disana para Camaba dan Mahasiswa Teknik Lingkungan disambut baik oleh Bapak Irwan Sjarkawi, camaba dibagi kelompok yang terdiri dari beberapa Mahasiswa Teknik Lingkungan serta diberi penjelasan Eksperimen apa saja yang ada di Project House tersebut.

Pak Irwan Sjarkawi sedang menjelaskan tentang algae

Terdapat 5 eksperimen yang telah di buat, penjelasan pertama di mulai dari kolam yang diberi Algae. Algae bisa dimanfaatkan untuk memproduksi bahan bakar namun untuk memproduksi bahan bakar dari algae, dibutuhkan lahan yang sangat luas karena untuk hidup, algae membutuhkan 3 komponen utama: air, sinar matahari, dan nutrisi, khususnya kandungan CO2 yang besar. CO2 dapat diperoleh dengan mudah di Jakarta.

Setelah itu berpindah tempat ke nano filter Bapak Irwan bercerita di Indonesia, terdapat suatu permintaan pasar yang besar untuk air yang siap diminum. Suatu hari, Bapak Irwan diberikan alat penyaring air berteknologi nanofilter dari Jepang. Saat itu, Bapak Irwanlah orang pertama di Indonesia yang memiliki alat ini di luar Jepang. Alat penyaring ini terdiri dari 3 tabung yang berisi nanofilter. Air dipompa melalui 3 tabung dengan tekanan tertentu sehingga dapat menyaring segala jenis air, bahkan air laut, asalkan tidak mengandung logam berat menjadi air yang siap minum.

Eksperimen selanjutnya yang beliau jelaskan yaitu Solar Cell , Bapak Irwan terinspirasi dari keadaan hidup di apartemen. Pada jam 2-5 sore, apartemen yang menghadap barat akan merasa seperti di “sauna”. Jadi, sebenarnya banyak energi yang dapat dimanfaatkan dari energi sinar matahari. Bapak Irwan terpikir, mengapa tidak memanfaatkan teknologi solar cell untuk menghidupi air conditioner (AC)? Di kediaman Bapak Irwan, terdapat 5 unit solar cell yang terletak di atap. Masing-masing unit solar cell saat kondisi puncak dapat menghasilkan 205 watt, jadi totalnya 5 unit solar cell dapat menghasilkan 1025 watt. Di bawahnya, terdapat inverter untuk mengkorversi arus bolak balik yang dihasilkan menjadi arus listrik searah yang dipakai di rumah. Asumsikan listrik yang dihasilkan hanya setengah dari kondisi puncak Karena beberapa fator eksternal, menjadi sekitar 500 watt. Listrik ini dapat menghidupkan beberapa unit AC ¾ PK di kediaman Bapak Irwan. Banyak orang mengatakan, di kediaman Bapak Irwan adalah tempat pertama di Indonesia yang memanfaatkan solar cell dengan baik. Ada juga Wind Turbin , Di Project House kediaman Bapak Irwan, wind turbine yang beroperasi dapat menghasilkan listrik sebesar 500 watt dengan biaya investasi sekitar 20 juta. Listrik dari wind turbine disimpan di dalam akumulator, semacam batere yang nantinya akan mendistribusikan listrik ke berbagai tempat. Akumulator ini terletak di dalam mini caravan di dekat wind turbine.

Percobaan woods chips

Dan eksperimen terakhir yang dibuat adalah Woods Chips ( Serpihan Kayu ), di Indonesia, banyak pohon yang ditebang untuk keperluan industri kayu. Namun, tidak semua bagian dari pohon dapat dijadikan papan kayu yang baik. Bagian yang tidak digunakan ini biasanya dibuang atau dibakar. Padahal, di negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika, bagian dari pohon ini diolah dengan alat untuk dijadikan wood chips. Saat ini, wood chips justru diperdagangkan sebagai salah satu komoditas yang menguntungkan, juga dapat digunakan sebagai pupuk. Alat penghasil wood chips yang terdapat di kediaman Bapak Irwan ini telah dipinjamkan ke berbagai industry untuk diuji-cobakan.

Terlihat Para Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Para Camaba sangat antusias terhadap Field Visit ini banyak pertanyaan yang mereka ajukan untuk lebih mengetahui eksperimen yang ada di project house tersebut. Semoga dengan diadakan Field Trip ini kita lebih bisa menghargai Bumi kita serta lebih menjaga kelestarian lingkungan dan meminimalisir efek global warming yang sudah terjadi.

 

Berita Lainya