LPP | LPKM  |  LibraryUBpreneurUBCareer

 

 

 

Dr. Ade Asmi, ST., M.Sc (Head of Civil Engineering Dept Universitas Bakrie, Jakarta, Indonesia)

Bagi anda yang tinggal di Jakarta mungkin sudah merasa terbiasa dengan keadaan kemacetan lalu lintas di Jakarta terutama di waktu-waktu peak hours yaitu pada pagi hari dan sore hari ketika di saat di mulai dan berakhir aktivitas perkantoran. Bagi para pendatang silahkan beradaptasi menyesuaikan diri dengan kemacetan di Jakarta. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana strategi mengatasi kemacetan dengan tidak terlambat untuk datang ke kantor apalagi kantornya terletak pada kawasan ramai atau di kenal dengan istilah Central Business District (CBD).

Di Jakarta semua jenis angkutan kendaraan tersedia dengan berbagai macam alternative kendaraan mulai dari yang paling mahal alias kelas bintang lima hingga kelas warteg. Yang meyedihkan, semua jenis angkutan umum yang tersedia kenyamanan akan berkurang disebabkan kemacetan yang luar biasa terkecuali kalau kita naik helikopter.

Disebabkan kejadian di atas itulah yang namanya motor menjadi salah satu alternative terbaik dan semakin diminati di masyarakat kita saat ini. Jumlah motor seakan-akan beranak dari hari-ke hari. Apalagi kalau di perhentian lampu merah ketika start menuju lampu hijau, maka ratusan pengendara motor langsung melaju bagaikan seribu anak panahnya arjuna di perang Kurawa lawan Pandawa. Bagi pengemudi mobil pasti kurang suka dengan gaya pengendara sepeda motor sebab bisa merepotkan pengendara mobil dengan menambah perhatian extra kepada gerakan-gerakan pengendara motor.  Akan tetapi disinilah uniknya, karena biasanya, bisa jadi keesokan harinya sang pengemudi mobil juga jadi pengemudi motor sebab sepertinya rata-rata pemilik mobil juga punya motor (sayang saya tidak ada data tersebut).

Dikarenakan tingginya permintaan akan motor,  mengakibatkan jumlah kendaraan senantiasa bertambah dari tahun ke tahun ditambah lagi pertumbuhan ruas jalan di Jakarta tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Berdasarkan data tahun 2010, (sumber 1) Panjang jalan di Jakarta Panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau 0,26 persen dari luas wilayah DKI. Sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen per tahun. Sedangkan data tahun 2010 Polda Metro Jaya jumlah kendaraan di Jakarta terdiri dari 11.362.396 unit kendaraan Jumlah tersebut terdiri dari 8.244.346 unit kendaraan roda dua dan 3.118.050 unit kendaraan roda empat. Angka ini belum ditambah dengan jumlah angkutan yang melintas dalam satu trayek yang menurut data Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya mencapai 859.692 armada.

Berdasarkan jumlah kendaraan di atas, jumlah kendaraan roda dua hampir melebihi jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 8.523.157 orang pada Febuari 2010 berdasarkan data dari Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta. Dan berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, yang didapat Kamis 27 Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap tahunnya naik hingga 1 juta unit. Bisa kebayang deh pertumbuhan kenaikan jumlah kendaran motor per tahun begitu tinggi seperti saham Blue Chip di lantai bursa ;) . Tentu saja ujung-ujungnya merupakan lahan bisnis yang menarik bagi orang bisnis di semua bidang yang bersentuhan dengan motor, baik buka bengkel, jual motor baru atau bekas, jual ban, jadi tukang bengkel panggilan dll.

Menurut data tahun 2010 Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, Jumlah penduduk Jakarta tercatat 9.588.198 orang (Jumlah tersebut belum termasuk orang yang tinggal di kota lain dan datang ke Jakarta untuk bekerja pada pagi hingga sore hari, pada pagi hingga sore hari jumlah penduduk di Ibu Kota bertambah antara 2 sampai 3 juta jiwa. Tambahan jumlah penduduk ini berasal dari warga di sekitar Kota Jakarta dan bekerja di Ibu Kota. Bisa dibayangkan berapa banyak jumlah penduduk dan berapa banyak jumlah kendaraan di akhir tahun 2011 ini pabila kenaikan pertumbuhan penduduk ke Jakarta dan kenaikan kendaraan bertambah di tahun 2011 ini.

Naiknya jumlah kendaraan tidak lepas dari keinginan masyarakat yang merindukan fasilitas angkutan yang nyaman disamping trend gaya hidup masyarakat Indonesia yang menjadi lebih konsumtif dan di tambah lagi munculnya berbagai perusahaan multifinance yang menawarkan pinjaman pembelian kendaraan dengan prosedur yang cukup mudah walaupun kalau di lihat bunga bank lebih rendah daripada kredit bunga di financer disamping proses kredit di perusahaan multifinance tidak memakan waktu lama. Jadi tingkat pinjaman dengan bunga tinggi tidak menghalangi masyarakat untuk memiliki kendaraan walaupun kenyataan begitu banyak kendaraan yang ditarik kembali oleh perusahaan Multifinancier karena tidak mampu membayar kredit. Secara tidak langsung kita dididik untuk konsumtif dan melakukan hutang konsumtif terkecuali hutang motor tersebut menjadikan motor sebagai alat bantu kerja atau perdagangan…nah itu bias menjadikan sebagai hutang yang sehat karena menghasilkan asset. Permasalahannya kebanyakan masyarakat belum mengenal apa itu kebutuhan dan keinginan dan keperluan dalam berhutang. Mumpung lagi trend dan bisa berhutang maka tawaran dari perusahaan Multifinancier tentu saja menjadi tawaran yang mengiurkan untuk mendapatkan sebuah kendaraan. Walaupun belum tentu kendaraan itu bermanfaat banyak bagi sang penghutang.

Kalau dikatakan Indonesia miskin tentu saja sulit sebab bukti-bukti menunjukkan kalau permintaan barang konsumsi di Indonesia cukup tinggi. Walaupun berdasarkan data dari Menkokestra (sumber 2) makin banyak saja orang miskin di Ibukota Indonesia ini, karena penduduk miskin Jakarta meningkat sebanyak 51,24 ribu jiwa pada Maret 2011 menjadi 363,42 ribu jiwa, dibandingkan Maret 2010 yang cuma 312,18 ribu jiwa. Jumlahnya sekitar 3,75 persen dari  jumlah penduduk Jakarta ( 9.588.198 juta jiwa penduduk ). Berkebalikan dari itu juga, berdasarkan data berita harian Joglo Semar (Sumber 3) pada tahun 2011 ini, kenaikan pemilik deposito dengan nilai 10 M ke atas atau golongan orang kaya sudah mencapai 20.000 (dua puluh ribu) atau naik 20% berbanding pada periode yang sama di tahun 2010 yang lalu. Ditambah lagi kepemilikan depositor Rp 100 juta ke atas sebanyak 2 juta orang dengan dana kelolaan Rp 1,600 triliun. Berdasarkan data (Sumber 4) Suisse Research Institute, kekayaan Indonesia mengalami peningkatan selama periode Januari 2010 hingga Juni 2011 menjadi US$1,8 triliun atau setara Rp15.912 triliun.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan jumlah kendaraan di Jakarta, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW 2030) Jakarta juga harus disiasati kembali karena berdasarkan RTRW 2030 tersebut, jumlah penduduk Jakarta ditetapkan untuk penduduk 12,5 juta jiwa. Akan tetapi  berdasarkan data tahun 2010 jumlah penduduk sudah mencapai 9.588.198 orang atau sekitar 9,6 juta belum lagi ditambah dengan warga luar yang beraktivitas di Jakarta pada siang hari sebanyak 2,5 juta jiwa. Kalau kita mengunakan data tahun 2010 berarti di Jakarta mencapai (9,6 juta jiwa+ 2,5 juta jiwa =12,1 juta jiwa). Berarti selisihnya 12,5 juta jiwa (RTRW 2030) – 12,1 juta jiwa (data tahun 2010) =  0,4 juta jiwa. Ini berarti sudah tinggal 0,4 juta jiwa lagi yang bisa ditampung oleh Jakarta. Padahal saat ini baru tahun 2015 dan belum tahun 2030. Bisa dibayangkan semakin padat dan semakin macetnya Jakarta. Selama belum adanya angkutan massal yang layak and nyaman di Jakarta ini, maka permintaan akan kendaraan pribadi  terutama motor akan selalu diminati. Bisa-bisa bukan hanya banjir air yang menjadi masalah di Jakarta akan tetapi banjir kendaraan terlebih lagi BANJIR MOTOR.

Sumber:

Sumber 1: http://areamagz.com/article/read/2010/09/29/jumlah-kendaraan-di-jakarta11362396-unit-

Sumber 2: http://www.menkokesra.go.id/content/bps-warga-miskin-jakarta-bertambah

Sumber 3: http://www.harianjoglosemar.com/berita/pemilik-deposito-rp-10-m-naik-20-jumlah-orang-kaya-makin-tambun-57061.html

Sumber 4: http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/10/19/68720/Kekayaan-Indonesia-Naik-Jadi-Rp15-Ribu-Triliun-

 

 

Kerjasama

Connect with us

Universitas Bakrie
Jl.H.R Rasuna Said Kav C-22, Kuningan Jakarta
(021) 526 1448 fax (021) 526 3191
0856 777 9945
www.bakrie.ac.id