fbpx

Liputan kali ini merangkum perjalanan Deffi Ayu Puspito Sari, PhD yang mengikuti pelatihan bertema Green Energy and Low Carbon Development pada 19 Mei 6 Juni 2014 yang lalu di Copenhagen, Denmark.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh United Nations Environment Programme (UNEP)RISO Centre ini dilaksanakan di lokasi kantor UNEP-RISO Centre yang baru yaitu di UN City. UN City adalah satu kompleks kantor pusat dari delapan agensi UN yang berbasis di Copenhagen, desain kompleks ini merupakan salah satu kompleks yang terdepan dalam konsep hijaunya dan telah mendapat penghargaan European Commission’s Green Building Award untuk bangunan baru.

 

Diikuti enam negara (Indonesia, Kenya, Burkina Faso, Mesir, Pakistan, Colombia) dengan total 16 orang dengan berbagai latar belakang keahlian, peserta memiliki kesamaan minat yaitu pembangunan berkelanjutan berbasis pengembangan energi yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi. Perbedaan latar belakang pekerjaan selalu melengkapi dan meramaikan diskusi yang berlangsung. Peserta pelatihan terdiri dari wakil pemerintah pusat (2 orang), pemerintah daerah (4 orang), pengusaha (3 orang), akademik (1 orang), kedutaan (1 orang), perusahaan milik daerah (2 orang), konsultan arsitektur (1 orang) dan NGO (2 orang).

 Suasana small group discussion pengembangan action plan Suasana small group discussion pengembangan action plan

Isu-isu yang dibahas kali ini mencakup peningkatan efisiensi energi, energi terbarukan dan pasar karbon baru dalam perdagangan pengurangan karbondioksida. Ide-ide baru dirangkum dan dikembangkan ke dalam rencana pengembangan bisnis yang disesuaikan dengan kerangka public-private partnership.  Energi hijau yang berkontribusi terhadap low-carbon development seperti pemanfaatan teknologi-teknologi low-carbon yang secara komersial sangat memungkinkan untuk dikembangkan, bagaimana menggunakan carbon footprint sebagai marketing strategi, dan pembiayaan untuk investasi energi terbarukan juga turut dibahas. Selain aspek teknis, mekanisme pasar, makanisme kebijakan, mekanisme pembiayaan juga dibahas untuk memungkinkan seluruh peserta membangun kerangka kerja dan peluang bisnis yang berkaitan dengan suplai dan penggunaan energi hijau dan pengurangan karbondioksida.

 

Karen Holm Olsen,PhD membuka acara dengan memperkenalkan UNEP RISO Centre yang memiliki mandat untuk mendukung dan mempromosikan aktivitas-aktivitas UNEP khususnya di bidang energi dan perubahan iklim di negara berkembang. Peserta juga dibawa berkeliling kompleks UN City agar lebih familiar dengan lokasi. Kemudian Olsen juga mempresentasikan elemen-elemen Perjanjian Iklim untuk tahun 2015 serta tantangan yang dihadapi oleh dunia untuk mempertahankan rata-rata suhu pemanasan global dibawah 2 derajat. Hari pertama ditutup dengan dengan perkenalan masing-masing peserta dan diskusi menganai LCDS (Low Carbon Development Strategies), LEDS (Low-Emission Development Strategy) dan NAMA (Nationally Appropriate Mitigation Actions) ditiap negara peserta.

 

Pada hari kedua, Ivan Nygaard, PhD memaparkan rencana dan strategi Denmark terkait energi: pada tahun 2050, sumber energi di Denmark akan sepenuhnya berasal dari sumber energi terbarukan. Rencana ambisius Pemerintah Denmark bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim dengan target zero carbon emission, meningkatkan ketersediaan suplai energi, dan menciptakan pasar rumah tangga bagi energi bersih terbarukan, seperti energi dari angin, biomassa, dan smart grid. Pada sesi selanjutnya, seluruh peserta mempresentasikan action plan yang sudah dikumpulkan dua minggu sebelum program dimulai. Kemudian tiap peserta diperkenalkan dengan reviewer masing masing dimana selama program berlangsung action plan tersebut dikembangkan bersama-sama.

 

Pada hari ketiga, sesi menarik mengenai peluang bisnis dari pengembangan energi terbarukan disampaikan oleh Søren Lybecker, PhD. Selama sehari penuh, para peserta diajak untuk memikirkan dan merancang business model energi terbarukan masing-masing, yang diawali dari proses perancangan design thinkingdan business model canvas. Business model yang telah dibuat oleh para peserta kemudian dievaluasi pada hari keempat. Kemudian, skema low carbon development menggunakan Public Private Partnership disampaikan oleh Carsten Glenting sebagai Project & Market Director of Energy Economics dari COWI salah satu perusahaan konsultan yang berpengalaman mengerjakan proyek-proyek green energi dengan skema PPP di Denmark maupun di beberapa negara berkembang.

 

Pada hari kelima, para peserta diajak untuk ekskursi lapangan ke beberapa tempat dimana energi bersih terbarukan sudah diimplementasikan. Kunjungan pertama adalah ke Danish Energy Association (DEA). DEA merupakan suatu asosiasi yang bersifat profesional dan komersial untuk perusahaan-perusahaan energi di Denmark. Jacob Høgh dari DEA menjelaskan model efisiensi energi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mendorong perusahaan-perusahaan listrik di Denmark mengurasi emisi. Høgh juga memberikan beberapa paparan mengenai penghargaan, manfaat dan tantangan dari DEA dalam usaha penghematan energi. Batec Solvarme A/S merupakan tempat kedua yang dikunjungi saat ekskursi lapangan. Perusahaan ini adalah pionir produsen penghangat air dari tenaga surya di Denmark. Para peserta juga diajak untuk meninjau proses produksi Batec Solvarme A/S. Kunci keberhasilan Batec Solvarme A/S untuk tetap bertahan dalam industri ini adalah terletak pada bagian pengembangan dan risetnya sehingga desain produk yang dipatenkan mampu mensuplai panas lebih cepat dan tahan lama dibanding competitor lain baik yang diproduksi dalam negeri maupun diluar negeri. Kunjungan terakhir adalah ke Amager Resource Center (ARC). ARC merupakan suatu perusahaan limbah dan energi yang dimiliki oleh lima kota di area Copenhagen. Saat ini, ARC telah mengoperasikan 13 stasiun daur ulang di komunitas lokal dengan insinerator. Pada kunjungan ini, para peserta diperkenalkan bagaimana penanganan limbah dilakukan dan dibiayai di Denmark. Penjelasan mengenai solusi teknologi yang telah diterapkan untuk penanganan limbah dari area Copenhagen serta penjelasan  mengapa teknologi tersebut dapat dipilih juga termasuk dalam agenda kunjungan di ARC. Terakhir, para peserta berkeliling di instalasi penanganan limbah, yang di dalamnya termasuk instalasi insinerator dan biogas.

 (a) Jacob Høgh dari Danish Energy Association (b) Suasana kunjungan ke instalasi Amager Resource Center (ARC) (c) Deffi Ayu (tengah) bersama peserta pelatihan di pabrik Batec Solvarme A/S(a) Jacob Høgh dari Danish Energy Association (b) Suasana kunjungan ke instalasi Amager Resource Center (ARC) (c) Deffi Ayu (tengah) bersama peserta pelatihan di pabrik Batec Solvarme A/S

 

Minggu kedua pada pelatihan Green Energy and Low Carbon Development ini membahas dua tema utama: teknologi energi terbarukan dan kasus-kasus bisnis yang terkait, serta mekanisme pembayaran energi terbarukan atau climate financing. Pada hari pertama dan kedua yang khusus membahas tema pertama, Ivan Nygaard, PhD merupakan pemateri utama. Nygaard membuka pelatihan dengan penjelasan lebih dalam mengenai perencanaan energi di Denmark meliputi sumber energi nasional dan daerah. Sesi selanjutnya, masih oleh di hari pertama dipaparkan mengenai business cases pemanas air tenaga surya dan panel solar. Hanne Lauritzen dari Technical University of Denmark memperkenalkan Organic Photovoltaics (OPV), sebuah teknologi yang menjanjikan untuk masa depan dan berpotensi menjadi kekuatan riset dan pengembangan Denmark dalam bidang energi terbarukan. Solar laser pointer merupakan salah satu aplikasi dari OPV. Kemudian Jyoti Prasad Painuly sebagai ketua Energy Efficiency Hub UNEP-RISO Centre memberikan presentasi mengenai peran energi efisiensi dalam Green Energy Technologies and Markets.

(a) Helen Lauritzen menjelaskan mengenai OPV (b) Contoh polymer solar cells yang dibagikan kepada peserta (c) Solar laser point(a) Helen Lauritzen menjelaskan mengenai OPV (b) Contoh polymer solar cells yang dibagikan kepada peserta (c) Solar laser point

Pada hari kedua, Nygaard memperkenalkan efisiensi energi dan business cases terkait serta latihan-latihan mengenai efisiensi energi. Di sesi selanjutnya, Nygaard memberikan contoh kasus biomassa dan biogas (misalnya dari limbah pertanian) untuk panas, power serta transportasi dan beberapa latihan untuk meninjau potensi sumber biomassa dan energi. Pertemuan hari kedua ditutup dengan presentasi dari Ulrich Elmer Hansen, PhD yang turut memberikan gambaran peluang dan tantangan dari instalasi tenaga biomassa skala besar. Hansen memberikan contoh kasus di China dan Malaysia.

 (a) Ivan Nygaard memaparkan mengenai potensi limbah pertanian untuk biogas (b) Presentasi oleh Ulrich Elmer Hansen(a) Ivan Nygaard memaparkan mengenai potensi limbah pertanian untuk biogas (b) Presentasi oleh Ulrich Elmer Hansen

Mekanisme pembayaran energi terbarukan khusus dibahas pada sisa minggu kedua. Søren E. Lutken merupakan pemateri utama dalam tema ini. Lubecker memberikan pengenalan kepada skema pembiayaan energi dan iklim. Pembiayaan proyek energi terbarukan, dalam hal ini adalah energi tenaga angin dijelaskan oleh Karl-Heinz Schulz. Schulz menyatakan, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam pembiayaan proyek energi terbarukan: kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan kredit bank. Di hari terakhir minggu kedua, pada sesi pertama Søren E. Lutken memberikan pelatihan mengenai environmental fiscal reform. Para peserta kemudian diminta untuk mempraktekkan prinsip ini pada kasus masing-masing yang akan dipresentasikan pada sesi berikutnya. Minggu kedua ditutup dengan presentasi dari Danish Energi Agency (DEA) mengenai program kesiapan pembiayaan (ADMIT ACTION) organisasi tersebut. Sesi ini juga diadakan paralel di Universitas Twente, Belanda.

  (a) Søren E. Lutken memberikan pelatihan skema pembiayaan energi dan iklim (b) Pelatihan oleh Karl-Heinz Schulz mengenai pembiayaan proyek energi terbarukan (studi kasus: energi angin)(a) Søren E. Lutken memberikan pelatihan skema pembiayaan energi dan iklim (b) Pelatihan oleh Karl-Heinz Schulz mengenai pembiayaan proyek energi terbarukan (studi kasus: energi angin)

Pada minggu ketiga, pelatihan berfokus pada tema Low Carbon and Clean Enterprise Development oleh Joergen Fenhan dan Lawrence Agbemabiese dari University of Delaware, USA. Pada hari pertama dan kedua, Joergen Fenhan menjelaskan mengenai pasar karbon dunia serta seluk beluk dan proyek Clean Development Mechanism (CDM). Di hari ketiga dan keempat, Lawrence Agbemabiese memaparkan mengenai wirausaha dalam bidang energi bersih. Peserta diberikan latihan untuk membuat dan memelihara suatu pengembangan bisnis online. Di hari terahir pelatihan, para peserta mempresentasikan business planfinal yang telah didiskusikan dan direvisi bersama para reviewer selama pelatihan berlangsung selama kurang lebih 3 minggu. Presentasi ini diikuti oleh acara penyerahan sertifikat dan perpisahan, yang menjadi penutup pada pelatihan Green Energy and Low Carbon Development.

 Penerimaaan rombongan dari Indonesia di kedutaan Indonesia di Denmark dan diskusi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu. Penerimaaan rombongan dari Indonesia di kedutaan Indonesia di Denmark dan diskusi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu.

Rombongan tim Indonesia kali ini selain satu orang dosen Teknik Lingkungan Universitas Bakrie juga terdiri dari perwakilan kementerian ESDM pusat dan daerah, BAPPEDA Jawa Tengah, pengusaha dan konsultan arsitektur. Kami disambut baik oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu.

 

 

Demikian liputan perjalanan salah satu dosen TLK, Deffi Ayu Puspito Sari, PhD dalam pelatihan Green Energy and Low Carbon Development di Copenhagen, Denmark. Semoga hasil pelatihan dapat memberikan manfaat bagi civitas akademika Universitas Bakrie dan tentunya, Indonesia. Bila ada yang tertarik mengenai materi pelatihan ini, dapat menghubungi langsung Deffi Ayu Puspito Sari PhD ( Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.), anytime!