fbpx

Anak Agung Ngurah Ugrasena kembali memberikan apresiasi dan penaugerahan kepada tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan perdamaian dunia pada acara Singaraja Sakti Award 2020 di The Mansion Resort and Spa Hotel, Ubud-Bali pada hari Minggu, 13 Desember 2020 lalu.

Dilansir dari Chronosdaily (2020), AAN Ugrasena menjelaskan bahwa kegiatan kali ini agak berbeda dengan sebelumnya, meski tetap memiliki semangat yang sama yaitu melalui kegiatan budaya. “Kami akan menganugerahkan Singaraja Sakti Nusantara Award 2020 kepada tokoh-tokoh masyarakat yang telah terbukti konsisten dan memiliki jejak rekam sebagai tokoh yang menjaga kebhinnekaan dalam berbangsa dan bernegara. Baik sebagai pimpinan  lembaga lintas agama, politisi, birokrat, pengusaha dan para profesional,” ujarnya.

Ketua Program Studi Informatika Universitas Bakrie, Prof. Dr. Hoga Saragih, ST, MT., turut diundang dan mendapatkan penghargaaan pada acara tersebut. Beliau sebagai Guru Besar di bidang Teknologi Terbarukan dikenal karena menghadirkan formula baru dalam perilaku dan komunikasi membawa kiprah dirinya di pentas nasional dengan mengedepankan aspek budaya dan semangat cinta tanah air.

 

 

Universitas Bakrie bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Gerakan Revolusi Nasional Mental , dan Forum Rektor Indonesia menyelenggarakan Webinar Diseminasi Usulan Revolusi Mental Dunia Pendidikan pada hari Kamis, 10 Desember 2020 melalui aplikasi Zoom dan Live pada YouTube Universitas Bakrie.

Webinar yang dibuka oleh Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D., Rektor Unversitas Bakrie dan dipandu oleh moderator Astrid MeIlasari Sugiana, Ph.D., Dosen Ilmu Politik Universitas Bakrie ini juga dihadiri oleh Gunardi Endro, Ph.D., Dosen Etika Universitas Bakrie sebagai narasumber diseminasi, serta Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum. Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Dr. Shoihul Huda M.Fil.I., Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Prof. Dr. Agus Purwadianto DFM, SH, M.Si., SP.F(K)., Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai penanggap paparan yang disampaikan oleh narasumber.

Webinar kali ini membahas mengenai filosofi yang melandasi revolusi mental etika beserta implikasinya terhadap relasi sosial di bidang pendidikan, kehidupan berbangsa dan beragama. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik revolusi mental ialah menjadi manusia yang berintegritas, punya semangat gotong-royong, dan mau bekerja keras.

Menurut Gunardi Endro, Ph.D., salah satu tantangan revolusi mental ialah adanya arus digitalisasi di segala bidang kehidupan dan survival di era industri 4.0. “Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan berkembangnya teknologi industri 4.0 agar dapat survive, salah satu caranya ialah melalui usulan revolusi mental dengan restorasi daya sintesis yang merupakan upaya to disrupt the disruption”, ujarnya.

 

Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie telah menyelenggarakan Webinar yang bertemakan The Presidential Speaker Series “Dinamika Komunikasi Lembaga Kepresidenan RI Tahun 2009-2014" pada Kamis, 10 Desember 2020 lalu melalui aplikasi Zoom dan Live pada YouTube Universitas Bakrie.

Webinar yang dibuka oleh Muhammad Tri Andika Kurniawan, S.Sos, M.A., selaku Wakil Rektor II, dan Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie, Aditya Batara Gunawan, S.Sos, M.Litt. Kegiatan yang dipandu oleh Moderator M. Badaruddin, S. Sos., M.Sc.,M.A., Dosen Prodi Ilmu Politik Universitas Bakrie ini turut mengundang Julian Aldrin Pasha, Ph. D., Juru Bicara Kepresidenan RI Tahun 2009-2014 sebagai narasumber.

Kegiatan ini membahas mengenai nomenclature of spokesperson terkait juru bicara kepresidenan. Juru bicara presiden adalah pejabat yang ditunjuk oleh Presiden dan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan berbagai komentar resmi atas nama Presiden.

Menurut Bapak Julian, seorang juru bicara Presiden memiliki posisi yang sangat tinggi (high ranks positions and appointed) dan sangat melekat oleh Presiden. Berbeda dengan Humas, seorang Juru Bicara Presiden memiliki akses lebih untuk dapat memutuskan, memerintahkan sesuatu dalam menyampaikan informasi kepada publik. “Kalau seorang juru bicara tidak memilki akses yang cukup untuk meminta atau memerintahkan sesuatu untuk disupport, hal itu akan menjadikan pemandangan yang tidak lengkap, karena ini bukan bermain drama di depan kamera, tetapi lebih kepada kesiapan yang dimiliki oleh seorang juru bicara,” jelasnya.

Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Bakrie menyelenggarakan Webinar Implementing OBE (Outcome Based Education) to Curriculum and Syllabus Structures for Paradigm Shifting in Global Higher Education pada hari Selasa, 1 Desember 2020 lalu melalui aplikasi Zoom dan Live pada YouTube Universitas Bakrie. 

 

Kegiatan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Ir. Esa Haruman W., MSc., Ph.D. dan di Moderatori oleh Raden Jachryandestama, S.T., M.L.S.M., selaku Dosen Teknik Industri Universitas Bakrie, serta mengundang Professor Ts. Dr. Norhayati Saad, sDeputi Dean of Academic Affairs Universiti Teknologi MARA Malaysia sebagai Narasumber.

Pembahasan dibuka dengan latar pentingnya penerapan Outcome Based Education yang berfokus kepada capaian hasil belajar, karena pada pelaksanaannya dilakukan dengan mengintegrasikan serangkaian proses seperti kurikulum dan assessment. Kebutuhan implementasi OBE tidak terlepas dari keadaan terkini IHL movement dalam kurikulum akademik yang berpengaruh kepada silabus pembelajaran serta strukturnya, hal tersebut tentunya di dukung dengan pergeseran paradigma global pada Perguruan Tinggi.

Prestasi menggembirakan hadir dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Bakrie, setelah salah satu Dosennya, yaitu Jouvan Chandra Pratama Putra, S.T., M.Eng meraih juara ketiga dalam Falling Walls Lab Jakarta 2020 pada September lalu. Dilansir dari wawancara DAAD Indonesia Newsletter, Jouvan menceritakan bagaimana perjalanannya dalam mendalami studi mengenai Sick Building Syndrome.

 

Hal ini berawal dari proyek akhir yang di inisiasi untuk meraih gelar Sarjana dengan mendalami teknologi green building dan modelling kualitas udara dalam ruangan. Gagasan tersebut tercetus setelah adanya observasi terhadap kebiasaan manusia pada era ini yang cenderung menghabiskan 90% waktunya untuk beraktivitas di dalam ruangan (indoor). Penelitian ini berlanjut saat menempuh Studi Master dengan Program Riset dengan menelaah hubungan antara gedung dan penghuninya, baik dari aspek engineering maupun medis hingga terwujud dalam studi Sick Building Syndrome (SBS).

Seringnya terlibat dalam penelitian serta publikasi menjadi suatu pengalaman sekaligus kesempatan bagi Jouvan untuk mengembangkan penelitiannya di masa mendatang. Terlebih ajang Falling Walls Lab ini merupakan forum internasional bagi inovator dari berbagai bidang yang menjadi motivasi bagi Jouvan untuk berbagi pengetahuan serta mendengar karya dari peserta lainnya.Walaupun tahun ini kegiatan berjalan secara online, namun tidak berarti mengurangi antusiasme finalis untuk berkompetisi, “tantangan dari presentasi online ialah menjaga perhatian audiens” salah satu solusinya ialah dengan memerhatikan intonasi suara, dan pemilihan kata-kata yang meyakinkan bagi penonton dan juri.

Keberhasilannya memenangkan juara ketiga merupakan suatu hal yang patut di apresiasi. Beragam konsep dari finalis disertai dengan solusi menarik membuat penilaian menjadi sangat kompetitif. “Falling Walls Lab merupakan ajang yang menarik bagi innovator untuk menuangkan pemikirannya. Ide-ide tersebut tentunya dapat dikembangkan melalui kolaborasi baik secara interdisiplin maupun multidisiplin bidang keahlian” pesan Jouvan bagi finalis tahun berikutnya pada penghujung wawancara.