fbpx

Workshop Rumah Tanpa Sampah

Pada hari Kamis, 30 Juni 2016, salah satu mahasiswa Universitas Bakrie dari Prodi Teknik Lingkungan, yaitu Syifa berkesempatan mengikuti workshop #RumahTanpaSampah yang berlokasi di studio LabTanya, Bintaro Jaya. Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00-13.00, dipandu oleh Mba Wilma Chrysanti dan Mas Adi Wibowo. Pada acara workshop tersebut, Mba Wilma dan Mas Adi menyampaikan materi terkait aksi warga Camar-Pinguin yang telah berhasil menekan jumlah produksi sampah yang dihasilkan setiap harinya.

Sesi pertama pada Workshop tersebut yaitu berupa penyampaian materi pengantar oleh Mas Adi Wibowo. Beliau mengatakan bahwa, rata-rata produksi sampah orang Indonesia yaitu sekitar 0,7-0,8 kg/hari. Sedangkan rata-rata jumlah sampah nasional yang dihasilkan orang Indonesia yaitu sekitar 200.000 ton/hari. Hal tersebut adalah angka yang fantastis. Dapat dibayangkan kan betapa banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan oleh orang Indonesia pada setiap tahunnya? Mas Adi menyatakan bahwa, bila tumpukan sampah itu dibandingkan dengan Candi Borobudur, maka kita telah dapat membuat dua buah bangunan Candi Borobudur per tahun! Sungguh ironis!


Pada tahun 2014 dan 2015 RW 08 CaPing (Camar-Pinguin) telah berturut-turut meraih juara K3 (Kebersihan, Ketertiban & Kelestarian) Lingkungan yang diselenggarakan setahun sekali oleh pengelola Kawasan Bintaro Jaya. Namun ternyata, Mas Adi dan Mba Wilma menemukan fakta bahwa, itu adalah kemenangan semata. Warga RW08 CaPing membuang sampah pada tempatnya, namun tidak mengatasi permasalahan sampah yang sebenarnya. Kebersihan kawasan RW 08 CaPing tersebut ternyata menyebabkan problematik di wilayah lain.

Selama ini, warga RW08 CaPing melakukan aktivitas sehari-hari seperti warga lainnya: membeli barang kebutuhan sehari-hari, mereka mengonsumsinya, kemudian bila barang tersebut memiliki sisa, maka tempat terakhirnya adalah tempat sampah. Sampah hasil sisa konsumsi tersebut akan mereka kumpulkan. Mereka menggantungkan kantong-kantong sampah di tiang di depan rumah mereka dan kantong berisi sampah tersebut akan diangkut oleh petugas kebersihan yang berkeliling di lingkungan sekitar mereka setiap harinya. Namun setelah itu, mereka tidak tahu bagaimana nasib sampah tersebut selanjutnya. Dalam waktu dua tahun saja, warga RW08 berhasil membuat lingkungannya bersih dengan ‘memindahkan’ sekitar 2,4 juta kilogram sampah ke TPA Rawa Kucing.

Hal tersebutlah yang membuat mas Adi dan mba Wilma memiliki mimpi untuk mewujudkan Kota Tanpa Sampah. Mereka berpikir bahwa masa depan tanpa sampah itu sangat mungkin bila di masa depan tidak ada tempat sampah. Hal yang sungguh menarik. Bila di masa depan tidak ada tempat sampah, maka bagaimana mungkin kita membuang sampah yang kita hasilkan? Jawaban mereka adalah: jangan memproduksi sampah!

Pada sesi pengantar ini, Mas Adi juga menyampaikan bahwa kegiatan menghasilkan sampah memiliki beberapa tahap, yaitu tahap prakonsumsi, tahap konsumsi, dan tahap pasca konsumsi.
Sesi kedua pada workshop tersebut adalah simulasi. Pada sesi simulasi ini, para peserta workshop dibagi dalam tiga kelompok yang masing-masing kelompok memiliki anggota untuk memainkan peran sebagai pembeli barang yang ingin dikonsumsi, konsumen, dan pengelola hasil konsumsi. Kami diberi daftar belanja dan diharuskan untuk membeli semua barang-barang yang tertera di daftar belanja tersebut. Kebetulan Syifa adalah anggota dari kelompok satu dan Syifa berperan sebagai pengelola hasil konsumsi.

Saat simulasi berlangsung, kelompok kami terlebih dahulu melakukan komunikasi dengan si konsumen. Kami memilih tas belanja daripada kantong plastik untuk membawa barang belanjaan. Kami juga membawa beberapa wadah makanan, kemudian kami berbelanja. Saat berbelanja, kelompok kami lebih memilih barang-barang yang bukan dalam bentuk kemasan. Saat simulasi berbelanja, penjual sempat menawarkan kantong plastik sebagai kantong belanjaan kami, namun kami menolaknya. Setelah selesai belanja, kami melakukan simulasi mengonsumsi barang yang kami beli. Kebetulan barang yang kami beli adalah sayur-mayur, buah, dan bumbu dapur serta kopi dan keripik singkong yang kami letakkan dalam wadah yang telah kami bawa. Maka dari itu, sampah yang kami hasilkan hanyalah sampah sisa sayuran, bumbu dapur, dan kulit buah. Sisa sampah tersebut kami jadikan komposter.
Seusai simulasi, semua kelompok berkesempatan untuk mempresentasikan simulasi yang telah dilakukan. Setelah itu Mba Wilma menyampaikan materi berikutnya, yaitu berupa strategi pengelolaan sampah.

Tidak memproduksi sampah mungkin adalah hal yang mustahil, namun menurut Mas Adi dan Mba Wilma, hal tersebut sangat bisa dilakukan dengan menggunakan strategi pintu depan dan strategi pintu belakang. Strategi pintu depan adalah strategi yang berkaitan dengan prakonsumsi. Melakukan pemilihan barang yang ingin dikonsumsi adalah bagian dari strategi pintu depan. Dalam strategi ini, kita berarti harus memilih barang-barang apa saja yang sangat kita butuhkan dan memikirkan seberapa banyak sampah yang akan dihasilkan bila kita membeli dan mengonsumsi barang tersebut. Sebagai contoh, kita lebih memilih untuk membawa wadah makanan sendiri saat berbelanja makanan ringan dibandingkan bila membeli makanan dalam kemasan. Tidak hanya itu, memilih menggunakan tas kain daripada kantong plastik saat berbelanja juga merupakan upaya dalam melakukan strategi pintu depan. Strategi pintu depan adalah hal yang paling penting. Sebab, banyaknya sampah yang kita hasilkan akan sangat bergantung dari pemilihan barang yang ingin kita konsumsi. Memilih barang yang ingin dibeli atau dikonsumsi dengan bijak akan meminimalisir jumlah sampah yang akan dihasilkan.

Sedangkan strategi pintu belakang adalah strategi untuk mengelola sisa konsumsi. Strategi ini yaitu memilah-milah sampah yang telah dihasilkan. Misalnya, sisa-sisa makanan berupa sayur-mayur dibuat komposter, botol-botol plastik kita kirimkan ke pengepul, sedangkan sampah yang tidak dapat dijadikan komposter maupun diberikan kepada pengepul, kita buang di tempat sampah.
Dengan melakukan kedua strategi tersebut di atas, maka produksi sampah akan sangat berkurang. Mba Wilma dan Mas Adi telah melakukan percobaan dengan strategi tersebut bersama warga RW08 CaPing, dan hasilnya sungguh memuaskan. Sekitar 80% sampah yang dihasilkan warga RW08 CaPing telah berkurang dalam setiap harinya. Warga RW08 CaPing pun telah merasakan manfaatnya. Komposter yang telah mereka buat sangat bermanfaat untuk tanaman-tanaman yang mereka miliki, sehingga lingkungan tempat tinggal mereka menjadi lebih asri. Sampah yang mereka gantungkan di tiang di depan rumah untuk dibawa oleh petugas kebersihan, kini semakin berkurang. Petugas kebersihan hanya datang seminggu sekali untuk mengambil sampah-sampah mereka karena kini sampah yang dihasilkan hanya sedikit sekali.

Kini lingkungan RW08 CaPing tidak hanya bersih, namun warga RW08 CaPing telah sadar bahwa, membuang sampah pada tempatnya tidaklah cukup. Perlu ada tindakan lebih untuk menangani masalah sampah yang ada. Bukan hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya, namun bagaimana mereka bertanggungjawab atas banyaknya jumlah sampah yang akan mereka hasilkan. Bukan hanya menghasilkan sampah, namun bagaimana mereka berusaha untuk tidak lagi ‘mendzolimi’ daerah lain atas sampah yang mereka hasilkan.

Sesi terakhir pada workshop tersebut adalah sesi wawancara terhadap salah satu warga RW08 yang telah melakukan strategi pengelolaan sampah ala Mba Wilma dan Mas Adi. Sang narasumber menyatakan bahwa kini lingkungan rumahnya lebih bersih, sampah yang beliau dan keluarganya hasilkan berkurang drastis. Beliau juga lebih selektif dalam memilih barang yang ingin dibeli saat berbelanja, bahkan beliau memiliki prinsip untuk tidak membawa kantong plastik berisi barang belanjaan ke rumahnya. Beliau telah menularkan prinsip ini kepada keluarganya dan tetangga sekitarnya. Beliau sangat mendapat dukungan dari keluarga tercintanya


Kegiatan Workshop ini memberikan wawasan baru bagi Syifa, bahwa masalah persampahan bukan lagi berupa bagaimana sampah tidak dibuang secara sembarangan, tapi bagaiman kita lebih selektif dalam memilih barang yang ingin dikonsumsi dan menekan jumlah sampah yang akan dihasilkan. Menurut Syifa, kegiatan reduce merupakan hal utama daripada reuse dan recycle. Karena suatu saat, barang yang dapat direduce dan direuse juga akan menjadi sampah bila sudah tidak dapat digunakan kembali. Bila masyarakat Indonesia mampu berkomitmen untuk melakukan hal ini, maka tumpukan sampah setinggi dan seluas dua kali Candi Borobudur per tahunnya tentu tidak akan ada lagi.