fbpx

Prodi TLK kembali mengadakan diskusi kurikulum dengan para stakeholder lingkungan di Indonesia pada hari Selasa (28/05/2013). Diskusi ini bertempat di ruang meeting PPHUI lantai 2 dan dihadiri oleh seluruh staf pengajar dan administrasi Prodi TLK.

Program ini sejalan dengan visi Prodi TLK UB, yaitu untuk menjadi Program Studi Teknik Lingkungan yang berwawasan global dan sejalan dengan kebutuhan nasional dalam menghasilkan sarjana berkualitas yang mampu berkontribusi secara nyata dalam pemecahan masalah-masalah lingkungan di perkotaan dan industri. Jajaran stakeholder di berbagai bidang hadir dalam diskusi ini. Dari industri minyak dan gas (migas), TLK mengundang Bapak Agustanzil Sjahroezah selaku Wakil Direktur Safety, Health and Environment (SHE) PT. Energi Mega Persada (EMP). PT. Energi Mega Persada merupakan salah satu bagian dari Kelompok Usaha Bakrie (KUB). Kemudian,TLK mengundang Ibu Maria Dian Nurani yang merupakan direktur dari PT. Aicon Global Indonesia. PT. Aicon Global Indonesia bergerak di bidang strategic sustainability management. Terakhir, Bapak Endra Saleh Atmawidjaja dari sektor pemerintahan. Beliau merupakan Kasubdit Kebijakan dan Strategi Perkotaan – Ditjen Penataan Ruang sekaligus Ketua IA-TL ITB. Selama kurang lebih 2 jam, para stakeholder dari berbagai bidang memberikan masukan pada kurikulum TLK UB yang sudah ada. Pak Agustanzil terutama menyoroti mengenai pentingnya pendidikan soft skill bagi mahasiswa. Beliau menceritakan pengalaman beliau semasa mengurus mahasiswa yang sedang kerja praktek di PT. EMP. Menurut beliau, di dunia kerja, lulusan dengan kemampuan soft skill yang bagus, meliputi kemampuan menyampaikan gagasan, teknik presentasi, manajemen negosiasi dan konflik serta teknik komunikasi, lebih diminati. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa sedari awal mengenai peraturan-peraturan lingkungan saat ini, selain juga penguasaan ilmu teknik lingkungan yang baik. Beliau pun menawarkan kerjasama antara PT. EMP dengan TLK UB. Kerjasama ini termasuk pengajar tamu dari PT. EMP, kerja praktek dan keikutsertaan dosen TLK UB dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh PT. EMP. Di akhir pertemuan, beliau memberikan salah satu bahan ajar yang biasa diberikan PT. EMP pada mahasiswa kerja praktek. Ibu Maria Dian Nurani (Maya) lebih menyoroti pada bagian mata kuliah Corporate Social Responsibility (CSR), Beliau banyak bergerak di bidang CSR dan strategi sustainability lingkungan. Menurut beliau, mata kuliah CSR secara keseluruhan sebenarnya mencakup dua mata kuliah lain, yaitu Manajemen SDA dan Etika Bisnis Lingkungan. Saat ini, termasuk sulit mencari orang yang paham konsep CSR, sehingga kebanyakan berasal dari LSM. Kekurangannya, mereka kurang mengerti bisnis. Hasil akhir dari kuliah CSR ini diharapkan mahasiswa terbuka pikirannya bahwa CSR tidak melulu beasiswa dan menanam pohon. Beliau menekankan, pentingnya mahasiswa memahami mengenai environmental communication and accounting, carbon and water footprint yang saat ini sedang menjadi sorotan. Beliau juga menyoroti mengenai mata kuliah kewirausahaan. Beliau berharap, nantinya terdapat sistem yang berkelanjutan pada skala universitas dan jurusan untuk hasil kreasi mata kuliah ini. Bila memungkinkan, mahasiswa dapat bekerja sama dengan pihak luar untuk pembiayaan ataupun dapat menjadi jembatan Usaha Kegiatan Menengah (UKM) dalam penanganan limbah yang dihasilkan.

 

Gambar 2 Suasana diskusi Terakhir, Bapak Endra yang banyak bergerak di bidang tata kota di pemerintahan memberikan banyak masukan. Beliau menyatakan pentingnya pemahaman dasar dalam kuliah dan cara mengenai sistem yang ada. TLK UB diharapkan memiliki arah yang modern dan mengikuti perkembangan jaman. Contohnya, mata kuliah mekanika fluida yang sebelumnya hanya berfokus pada air, mungkin nantinya akan lebih banyak membahas mengenai fluida yang lain, yaitu udara. selain itu beliau juga menekankan pada dorongan kepada mahasiswa S1 agar mau melanjutkan ke S2. Beliau sempat menceritakan pengalamannya dahulu terkait dengan riset S1 yang kedalamannya menyamai S2. Prinsip dasar pendidikan S1 adalah untuk persiapan menghadapi dunia kerja, sedangkan S2 dapat lebih spesifik terkait dengan riset professional. Hal ini menurut beliau, tidak baik bila mahasiswa S1 mengambil topik penelitian yang terlalu dalam sehingga menjadi tidak aplikatif. Kemudian beliau juga menambahkan mengenai kemampuan menghitung daya dukung lingkungan dari sebuah kota yang saat ini menjadi kebutuhan, terutama bagi mahasiswa yang akan bekerja di bidang tata ruang dan kota. Terakhir, beliau setuju dengan Bapak Agustanzil, kemampuan softskill sangatlah penting. Banyak lulusan yang kurang percaya diri ddan tidak mampu bekerja dalam tim namun kemampuan individualnya baik. Teknik lingkungan merupakan jurusan yang multidisiplin, sebaiknya ditanamkan mengenai team work dan rasa percaya diri sejak dini. Diskusi kurikulum ini memberi banyak masukan bagi Prodi TLK UB untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Diharapkan lulusan dari TLK UB mempunyai kualitas yang handal sesuai dengan perkembangan jaman dan memiliki soft skill yang bagus sehingga sangat diminati di dunia kerja nanti. Semoga!