Posisi dan Strategi Indonesia dalam Menghadapi Dinamika Ekonomi-Politik Global

Jakarta (18/5)- Mengusung tema “Berlayar Mengarungi Ketidakpastian Global Krisis Ekonomi di Indonesia” Staf Khusus Wapres RI Bidang Ekonomi Wijayanto, MPP mengawali Kuliah Umum dengan mengulas sejarah perubahan wajah ekonomi atau pemetaan bergeser dari industrialis menjadi komoditas, ditandai dengan krisis moneter yang pada puncaknya tragedi 1998.

Sebagai gambaran 50% ekspor Indonesia adalah komoditas, sehingga ketika terjadi penurunan komoditas secara global Indonesia terkena dampaknya, selain itu dampak globalisasi berimbas pada trend GDP per-kapita dunia meningkat sedangkan growth nya naik turun, begitupun dengan perdagangan dan investasi global. “Akibat runtuhnya komunisme, negara China berpengaruh sangat besar terhadap ekonomi global,karena menguasai pasar dunia” ujarnya lagi. Sedangkan dari segi pertumbuhan usaha, biaya bunga di Indonesia merupakan yg tertinggi di ASEAN hal ini menyebabkan biaya produksi di Indonesia tinggi dan hal ini yang membuat investor berkurang.

Komoditas global mengalami penurunan dari berbagai sektor seperti minyak, batubara, tembaga, CPO dan Karet dihantam oleh Tsunami besar bernama globalisasi, sederhananya pengertian dari globalisasi adalah dimana barang dan jasa, modal, tenaga kerja, dan informasi bergerak bebas dari negara satu ke negara lain, globalisasi memperbesar kue ekonomi, bagi mereka yang efisien dan produktif akan mengalami pertumbuhan kemakmuran yang cepat. Perkembangan teknologi juga sangat berpengaruh di era globalisasi, dimana saat ini informasi dapat membangun persepsi dunia terhadap sebuah negara. Seperti, seni dan kebudayaan suatu Negara yang bisa mendunia lewat dunia digital, contohnya budaya K-Pop.


“Mempersiapkan mahasiswa untuk kompetitif di persaingan global adalah fokus dari Universitas Bakrie” tambah Achmad Reza Widjaja, Ph.D. Wakil Rektor Universitas Bakrie yang juga merupakan seorang Economist. “Sometimes it's just not about economics but also politics” beliau menekankan contohnya pada beberapa kasus Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia.
Selain itu, beberapa sektor yang menurut menurut beliau sangat penting dalam economy growth adalah human resources dan yang kedua adalah kapital, sementara kelemahan negara Indonesia adalah di pada sektor kapital, selain itu bila Indonesia ingin fokus ke komoditas harus diiringi dengan perkembangan teknologi.

Pada sesi interaktif, Prof Rusadi salah satu dosen di Ilmu Politik mengatakan kita harus mulai ‘think out of the box’. Sementara itu menjawab pertanyaan dari mahasiswa, mengapa pembangunan di Indonesia masih lambat, Pak Wija menjelaskan setiap pembahasan yang dilakukan tidak komprehensif sehingga bersifat pragmatis, yang kebanyakan adalah economist, berbeda halnya bila pembahasan itu terintegrasi dengan sosiolog, arkeolog, budayawan, dan IT. Pak Wija menekankan "Siap tidak siap kita harus siap menghadapi MEA" karena globalisasi membuat ketimpangan antar negara turun. Beberapa aksi pemerintah adalah pendidikan gratis, kesehatan gratis dan pembangunan di daerah tertinggal.

Beliau juga mengusulkan kepada mahasiswa jangan menjual barang mentah, harus ada added value-nya, karena monopoli oleh elite dipengaruhi oleh logistik. Beliau mencontohkan Kabupaten Blora, yang penduduknya miskin meskipun tinggal di tengah-tengah hutan jati yang sesungguhnya bisa dibudidayakan. Dengan menjadi mahasiswa Kebijakan Publik harus menjadi regulator yang inovator, mendesain regulasi yang mendukung pertumbuhan kreatif, yang terjadi sekarang ini regulasi yang dibuat oleh pemerintah tidak bisa keep up dengan inovasi.

 

 

.