fbpx

Program Studi Manajemen Manajemen U-Bakrie dan Bakrie Center Foundation berkolaborasi menyelenggarakan Webinar dengan tema Membangun Karakter Pemimpin yang Penuh Empati dalam Bisnis Sosial pada tanggal 20 November 2020. Webinar ini merupakan bagian dari program hibah yang diperoleh prodi Manajemen yaitu dirjen Dikti, yakni pengembangan konsep Building Compassionate Leaders, sebuah gabungan magang kerja dan proyek sosial. Acara ini menampilkan 2 pembicara yaitu Annisa Hasanah sebagai social enterprise Ecofunopoly dan Dessy Aliandra selaku Founder Sociopreneur Indonesia (SID).

Acara ini berlatarbelakang maraknya perkembangan bisnis sosial di Indonesia. Pada tahun 2018, tercatat ada sekitar 340.000 bisnis sosial yang ada di Indonesia. Melihat potensi dan banyaknya jumlai pemain bisnis sosial dari berbagai sektor, bisnis sosial di Indonesia bisa menjadi kunci dalam membangun sektor ekonomi kreatif dan inklusif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh British Council pada tahun 2019, bisnis sosial telah memberikan kontribusi dalam meningkatakn Pendaparan Domestik Bruto (PDB) sebanyak 1,9 persen.

Tidak hanya pada dampak perekonomian saja, bisnis sosial juga berperan dalam mengatasi permasalahan sosial. Agar dapat mengatasi permasalahan sosial tersebut seorang sociopreneuer harus memiliki rasa empati sehingga mampu memetakan pemecahan masalah sosial tersebut dengan melakukan pendekatan bisnis. Profit dalam sebuah bisnis sosial bukan menjadi tujuan akhir namun sebagai bahan bakar agar mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi pemecahan masalah yang ada.

Annisa berasal dari keluarga yang bukan entrepreneurial friendly sehingga memulai suatu bisnis merupakan hal yang baru untuknya. Ia menceritakan bahwa di tahun 2009 ia mendapatkan ide dari berbagai kegiatan volunteering yang dijalankan untuk membuat game ecofunpoly. Game ini menunjukkan bagaimana caranya untuk mengajarakan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Dengan adanya game ini, Annisa jadi sering melakukan event bersama anak-anak di sekitaran taman IPB dan juga mengadakan kegiatan menanam tanaman sekalian praktek untuk mengenal tentang lingkungan. Sejak melaksanakan bisnis ini, dampaknya sangat besar ke berbagai aspek. Produk-produknya diproduksi dengan materi daur ulang sehingga ia berkolaborasi debgab pengrajin kayu yang lebih menggunakan 3000 limbah kayu. Hal ini juga berdampak pada pemberdayaan perempuan dimana para pengrajin perempuan ikut memproduksi produk-produknya. Salah satu tanggung jawab terbesarnya dalam membuat bisnis ini adalah menekan angka sampah dan menggunakan bahan-bahan reusable sehingga tidak mempolusikan lingkungan alam.

Pada sesi selanjutnya, Dessy bercerita tentang perjalanan pribadinya dalam membangun empathetic leadership dan social entrepreneurship. Dessy bercerita bahwa pendidikannya yang ia jalani sangat mempengaruhi visinya untuk menjadi seorang social entrepreneur. Sociopreneur.id bertujuan untuk memupuk pertumbuhan Kewirausahaan Sosial melalui Pendidikan Kewirausahaan untuk menciptakan 'Ekosistem yang Bertanggung Jawab'. Seseorang dapat bertanggung jawab tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain dan lingkungannya, dunia dapat menjadi tempat yang indah untuk ditinggali. Sejak 2013, SociopreneurID adalah perancang ekosistem yang telah memprakarsai program kewirausahaan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan dan aksi kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Orang Indonesia itu murah hati, tapi mereka tidak tahu cara menyalurkan kebaikan hatinya.” Ujar Bu Dessy. Berdasarkan data yang didapatnya, orang Indonesia merupakan orang-orang yang murah hati dan tingkat volunteerism diduduki di peringat 7. Namun dalma membantu orang asing, berada di peringkat 86 di dunia. Ini mengimpilaksikan orang Indonesia hanya membantu yang ada dalam grupnya. Sementara social entrepreneur harusnya membantu siapa aja, jadi disinilah peran Sociopreneur untuk mendorong tumbuhnya social empati dan mengimplementasi empati ke masyarakat luas.

Di akhir sesi, Annisa juga memberikan pesannya dalam menjalankan bisnis sosial kepada para sosial entrepreneur yaitu;

“Menjalankan sebuah bisnis sosial mengajarakan saya: profit penting tapi bukan satu2nya & impact. Empati bisa diasah dengan cara apapun mendengarakan orang, membaca dan mendiskusi.”