Jakarta, 27 Juli 2016 – Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan (Prodi ITP) Universitas Bakrie sebagai kampus strategis di daerah Jakarta Selatan kali ini mengundang stake holder dalam penyusunan kurikulumnya. Agenda review kurikulum dimulai dengan pemaparan profil Prodi ITP oleh Bapak Ardiansyah, PhD selaku Ketua Prodi.

Beberapa program telah dilakukan dalam upaya pengembangan prodi, termasuk di dalamnya adalah membangun kerjasama dengan beberapa lembaga penelitian dan stake holder terkait dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum prodi.

Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Bapak Ardiansyah, PhD bersama Prof. Dr. Ir. Tien R Muchtadi, MS Guru Besar Departemen ITP, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB

Prof. Dr. Ir. Tien R Muchtadi, MS yang saat ini adalah Guru Besar Departemen ITP, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB telah banyak berpengalaman dalam dunia teknologi pangan menyampaikan bahwa saat ini industri pangan masih menjadi primadona. Hal ini tentu memberikan potensi besar bagi sarjana prodi ITP. Beliau mengharapkan prodi ITP Universitas Bakrie agar memiliki spesifikasi dan brand khusus yang tidak dimiliki oleh prodi ITP Universitas lain dapat ditampilkan dalam branding Prodi. Matakuliah-matakuliah kekhususan tersebut adalah entrepreneurship, teknologi pengolahan hasil perkebunan, dan magang/KKN UMKM. Dengan adanya kekhasan ini, maka pasar akan mudah mencari. Seorang lulusan harus memiliki kemampuan critical thinking dan problem solving. Selain itu beliau juga mengarahkan agar kurikulum didesain agar mahasiswa dekat dengan permasalahan industri dan dengan sentuhan knowledge mampu menjadi solusi atas permasalahan tersebut.

Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Bapak Ardiansyah, PhD bersama Head of TPS Academy PT. TPS Food, Tbk Trisnawan Widodo

Berikutnya dari pihak industri, PT. TPS Food, Tbk lebih menyoroti pentingnya soft skill seorang lulusan prodi ITP dalam menghadapi dunia kerja. Trisnawan Widodo selaku Head of TPS Academy PT. TPS Food, Tbk mengarahkan agar kurikulum pendidikan didesain agar lebih nyata. Menurut beliau, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kegiatan organisasi kemahasiswaan menjadi perangkat yang ampuh dalam membentuk karakter leadership bagi mahasiswa. Kemampuan inilah yang kemudian diharapkan mampu menjadi bekal generasi saat ini untuk menghadapi dunia kerja dan bermasyarakat.

Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Bapak Ardiansyah, PhD bersama plan manager PT. DAGSAP Bapak Rusli 

Memandang permasalahan klasik yang dimiliki bangsa, Bapak Rusli selaku Plan Manager PT. DAGSAP mendorong agar prodi ITP mampu berperan dalam mempertahankan ketahan pangan Indonesia. Teknologi pangan yang diajarkan dalam perkuliahan diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sederhana dan aplikatif berdasarkan kebutuhan dan permasalahan masyarakat. Dengan demikian industri ingredient dan industri dari sektor pangan lainya juga akan berkembang. Dan yang tidak kalah penting mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, karena kesuksesan perusahaan bisa diperoleh dengan adanya kolaborasi dan kerjasama yang baik antar divisi.

Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Bapak Ardiansyah, PhD bersama pelaku UMKM Ibu Rinrin

“Data menunjukkan bahwa 99,48 persen industri di Indonesia masih termasuk kategori UMKM” papar Bu Rinrin yang telah banyak bergerak dalam pengembangan UMKM Nasional. Melihat kondisi ini maka diperlukan mata kuliah manajemen industri kecil. Mahasiswa diharapkan mampu terlibat dan memberikan edukasi kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan pemahaman mengenai bahan makanan, teknologi pengolahannya hingga proses perijinan UMKM. Dengan bekal ini mahasiswa memiliki gambaran dan keberanian menjadi pengusaha dengan modal yang tidak terlalu besar dan bisa sukses. Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dan staf dosen di Prodi ITP, program magang UMKM dapat dipertahankan, dan bila memungkinkan dapat lebih ditingkatkan dengan program KKN dalam rangka kegiatan pembinaan pada UMKM pangan.

Keseluruhan masukan dan arahan dari hasil pertemuan pembahasan review kurikulum Operasional selanjutnya akan dijadikan sebagai pertimbangan dalam penyusunan kurikulum prodi ITP. Kurikulum juga akan mengacu pada standar pendidikan Teknologi Pangan yang diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan (PATPI) dan referensi lainnya adalah standar pendidikan sarjana yang diterbutkan oleh Institute of Food Technologists (IFT) yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat. Kurikulum ini dirancang untuk menghasilkan sarjana Ilmu dan Teknologi Pangan yang mampu memberi kontribusi nyata dan menjadi solusi untuk bagi permasalahan bangsa.