fbpx

By: Dr. Ade Asmi ST., M.Sc

Head of Civil Engineering Dept, Universitas Bakrie

 

Sejak memulai dilantiknya Presiden ke-7 RI Bpk Joko Widodo, maka dimulailah perencanaan infrastruktur untuk mencover kelancaran pembangunan Indonesia baik dari pembangunan Jalan, Airport, Jembatan, Pelabuhan dan lain sebagainya. Hal ini dapat maklumi dikarenakan ketertinggalan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur sebagai penunjang pengerak ekonomi nasional. Sebagai contoh, Bpk Jokowi mengatakan bahwa sejak merdeka Indonesia hanya dapat membangun 800 Km jalan saja (Sumber: www.merdeka.com Minggu, 13 Desember 2015). Sehingga era saat ini lebih cenderung bisa disebut “Era Booming Pembangunan Infrastruktur Indonesia”.

 

 

Berdasarkan data dari Kementrian PU dan Perumahan Rakyat mengenai Infrastructure of Public Works and Housing Financing for 2015-2019 (Sumber: Indonesia Infrastructure Development Plans Synergy & Support from United Kingdom, March, 24th 2016) dapat dilihat pada Table 1 dan 2 dibawah bahwa penekanan belanja negara sepertinya akan lebih banyak kepada sektor konstruksi sebagaimana data berikut:

 

 

Table 1: Infrastructure of Public Works and Housing Financing for 2015-2019

No

PROGRAM

 

YEAR

(Billion)

Total (Billion)

2015

Renstra

2016

Renstra

2017

Renstra

2018

Renstra

2019

Renstra

Renstra

1

WATER RESOURCES MANAGEMENT

 

30.813

62.215

72.407

75.436

75.690

316.562

2

ROAD CONSTRUCTION

 

57.051

69.948

52.105

55.121

43.952

278.177

3

DEVELOPMENT OF SETTLEMENT INFRASTRUCTURE

 

15.830

24.201

26.855

29.668

31.552

128.107

4

HOUSINGDEVELOPMENT

 

7.768

8.780

52.732

55.410

59.973

184.663

5

HOUSE FINANCING DEVELOPMENT

 

342

362

383

406

430

1.924

6

CONSTRUCTION SERVICES

 

723

924

1.144

1.365

1.587

5.743

7

MANAGEMENTASPECT

 

198

214

237

264

297

1.210

8

FACILITIES IMPROVEMENT

 

401

512

531

376

406

2.226

9

ACCOUNTABILITY SUPERVISORY

 

105

113

120

129

142

609

10

RESEARCH AND DEVELOPMENT

 

520

608

772

790

818

3.508

11

HUMAN RESOURCES DEVELOPMENT

 

569

625

688

757

832

3.471

12

REGIONAL INFRASTRUCTUREDEVELOPMENT

 

526

949

1.188

1.303

1.421

5.385

 

Total

114.844

169.452

209.162

221.025

217.100

931.585

 

Table 2: Output target 2015-2019 Kementrian PU dan Perumahan

HIGHWAY SECTOR

  • 24 new ports
  • Harbour crossings in 60 locations
  • Urban road network restructuring
  • Urban ringroad development in cities
  • and metropolitans
  • 15 priority industrial areas
  • 25 priority tourism areas
  • 15 new airports
  • Intermodal to railways

 

1.000 km Freeway construction

 

47.017km

National road maintenance

 

construction2.650 kmNational road development

 

500 KM Support for Regional Road

 

28.059 m

Bridge Construction

 

REQUIRED BUDGET:

Rp 278.177 Billion

HOUSING SECTOR

Housing backlog based on occupation perspective from 7,6 million to become 5 million(according to RPJMN2015-2019)

 

Billion REQUIRED:  184.663 Billion

HUMAN SETTLEMENT SECTOR

INDICATORS:

 

 

Access to drinking water (70%; year 2014)

 

Urban slum areas (38.431 Ha;  year 2014)

 

Access to sanitation (62%; year 2014)

 

TARGET BY THE END OF 2019

 

100%

 

 

0

 

 

100%

REQUIRED BUDGET:

Rp 128.106 Billion

WATER RESOURCES SECTOR

Constructing 65 reservoirs

REQUIRED BUDGET:

Rp 361.561 Billion

1 million Ha new Irrigation

3 million Ha

Irrigation rehabilitation

Protection of coastal erosion

500 Km WATER

67,52 m3/s Raw Water

[intake, network, weir]

Rehabilitation Flood Controlling [river normalization, spillways, flood control buildings, etc]3.000 Km

 

Dari data di atas, dengan berjalannya sektor konstruksi, diharapkan dapat mengerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga dapat mendokrak pendapatan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sumbangan sektor konstruksi terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin tahun semakin meningkat dimana pertumbuhan sektor konstruksi pada 2004-2013 menyumbang rata-rata 7,35 persen, sedangkan PDB rata-rata 5,8 persen. Selama periode itu, sektor konstruksi memberikan kontribusi terhadap PDB rata-rata 8,79 persen. Kenaikan ini memperlihatkan peranan strategis sektor konstruksi sebagai penggerak ekonomi nasional. Fluktuasi pertumbuhan sektor konstruksi cenderung bersamaan dengan fluktuasi pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur mendukung sektor ketahanan pangan dan kelancaran proses produksi, meningkatkan aksesibilitas dan ruang mobilitas kepada masyarakat terhadap kegiatan sosial dan ekonomi.

 

Begitu pentingnya dampak pengaruh kebijakan pembangunan infrastruktur bagi sektor-sektor ekonomi lainnya. Ditambakan lagi menurut data dari Staf ahli Bidang Logistik dan Multimoda Perhubungan, Kementerian Perhubungan, bahwa   biaya logistik Indonesia Indonesia masih mengalokasikan 24 persen dari biaya produksi (Sumber: hhttp://economy.okezone.com, Selasa 21/10/2014). Sehingga nilai barang produksi menjadi lebih tinggi di harga pasaran. Sehingga penurunan biaya produksi sangat tergantung dengan biaya infrastruktur transportasi atau logistik.

 

Akan tetapi untuk mewujudkan mimpi infrastruktur ini tidaklah mudah, untuk melaksanakan perencanaan infrastruktur tersebut akan sangat diperlukan banyak Sarjana Teknik/ Engineer terutama bidang Core Engineering seperti Teknik Sipil, Mesin, Elektro, Perkapalan, IT dll untuk membantu pembangunan infrastruktur tersebut. Hal ini bertolak belakang dengan perecanaan infrastruktur yang dibuat dimana Indonesia masih kekurangan SDM yang sangat mendukung infrastruktur yaitu SDM Engineer/Sarjana Teknik. Berdasarkan data Kementrian Pekerjaan Umum, (Sumber: www.republika.co.id, Jumat, 21 Maret 2014) setiap tahun Indonesia memerlukan 175 ribu sarjana teknik. Sayangnya, Indonesia baru bisa menghasilkan sekitar 40 ribu Sarjana Teknik tiap tahunnya. Berbanding dengan negara lainnya yang mempersiapkan SDM nya untuk membangun infrastruktur bagi negaranya misalnya Cina dan India yang setiap tahun mampu menghasilkan 764 ribu dan 489 ribu Sarjana Teknik. 

 

Kurangnya stok Engineer apabila diabaikan secara terus menerus akan menyebabkan Indonesia tidak memiliki daya saing yang cukup untuk bersaing dengan Negara-negara lain di berbagai sektor khususnya bagi dunia infrastruktur, konstruksi dan teknologi. Terutama Negara-negara ASEAN khususnya sebagai pesaing utama bagi merebut jawara kawasan ASEAN untuk berbagai sektor. Belum lagi ditambah pesaing dari kawasan ASIA yang sudah mumpuni dimana China/Tiongkok, Japan dan Korea masih merajai di sektor infrastruktur, konstruksi dan teknologi. Sebagaimana dari data Engineering News Record (ENR) tahun 2015 mengenai Top 250 International kontraktor dunia, dari sepuluh besar kontraktor diisi 7 Kontraktor dari China/Tiongkok (Table 3: Top 10 Kontraktor Dunia thn 2015) dimana tidak ada satupun Kontrator BUMN Indonesia yang mampu masuk dalam kategori ini. Sehingga ke depan pemerintah Indonesia perlu memikirkan SDM Engineer yang mumpuni untuk bisa mencapai sebagai kontraktor BUMN yang mendunia.

Table 3: Top 10 Kontraktor Dunia thn 2015

Ranking Contractor

International Contractor

1

China Railway Group LTD, Beijing China

2

China State Construction Eng’g Corp LTD, Beijing China

3

China Railway Construction Corp LTD, Beijing China

4

China Communications Construction GRP. LTD, Beijing, China

5

Vinci, Ruil-Malmaiso, France

6

ACS, Actividades De Construccion Y Servicios SA, Madrid, Spain

7

Power Construction Corp of China, Beijing, China

8

Bouygues SA, Paris, France

9

Hochtief Aktiengesellchaft, Essen, Germany

10

China Metallurgical Group Corp, Beijing, China

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statsitika Indonesia tahun 2012 struktur pendidikan masyarakat Indonesia sebagian besar di sekolah dasar dan menengah. Berdasarkan data tersebut hanya 9.20% penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi baik sarjana maupun diploma, 23.60 % berpendidikan sekolah menengah, 17.99% berpendidikan SMP, 28.92% berpendidikan SD, dan masih ada 20.29% tidak berpendidikan. Dari 9.20% penduduk yang berpendidikan tinggi tersebut mungkin hanya sedikit yang mengambil bidang sebagai Sarjana Teknik/Engineer dan diperparah lagi lulusan perguruan tinggi Sarjana Teknik lebih memilih mengambil profesi lain di luar Engineer. Masalah mendasar inilah yang harus diatasi pemerintah Indonesia untuk menambah daya saing generasi yang akan datang.

 

Dari data dan analisa di atas kemungkinan besar mau tidak mau untuk mewujudkan mimpi infrastruktur Indonesia maka pemerintah mesti import Engineer dari negara lain untuk mencukupi kebutuhan pembagunan Infrastruktur Indonesia. Hal ini diperlukan untuk mempercepat output target  pemerintah di bidang infrastruktur dan memang tidak mungkin pemerintah menunggu sehingga Universitas dapat mencetak tenaga-tenaga Engineer yang handal bagi memenuhi target pemerintah dalam jangka waktu dekat.

 

Semoga ke depan Negara Indonesia menjadi Negara yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia dan mampu mewujudkan mimpi Infrastruktur yang sudah dicita-citakan dan didambakan oleh masyarakat Indonesia sejak lama…amien