Hasil Survei Mahasiswa: Tidak Tuntas Membaca Informasi Sebabkan Peredaran Hoax di Kalangan Mahasiswa Jakarta

Perkembangan teknologi media di era modern saat ini nyatanya membawa perubahan yang cukup signifikan pada perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi, terutama di kalangan remaja yang merupakan digital native atau terbiasa dengan penggunaan teknologi sejak kecil, bahkan sejak lahir.

Penyebaran informasi pun saat ini dapat dilakukan dengan sangat cepat, real time, dan meluas dari satu jaringan ke jaringan yang lain hingga menjadi viral. Di sisi lain, tantangan terbesar dalam menghadapi perkembangan teknologi ini adalah beredarnya informasi palsu atau hoax di kalangan masyarakat Indonesia, temasuk di kalangan terdidik mahasiswa di kampus- kampus Jakarta, yang menurut hasil survei disebabkan oleh tidak tuntasnya membaca informasi yang diterima lalu disebarluaskan melalui jaringan pesan singkat maupun media sosial.

Survei ini dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie kelas Etika Jurnalistik dan Hukum Media, yang diampu oleh Algooth Putranto, terhadap 300 mahasiswa di 30 perguruan tinggi negeri maupun swasta yang tersebar di lima wilayah Jakarta dengan survei tatap muka. Survei ini dilakukan pada 6 s.d. 13 Juni 2017 dan mendapatkan temuan yang dapat menjadi indikasi tentang perilaku konsumsi media di kalangan mahasiswa.

Lebih dari separuh mahasiswa-mahasiswi yang menjadi responden mengaku menggunakan aplikasi pesan singkat, selalu mengecek aplikasi pesan singkat, dan menerima informasi melalui aplikasi tersebut. Selain itu, mahasiswa-mahasiswi menyatakan bahwa ia pun menyebarkan kembali informasi yang digunakannya. Mayoritas mahasiswa-mahasiswi ini mengaku menggunakan aplikasi Line, dan sisanya menggunakan WhatsApp serta aplikasi pesan singkat lainnya. Hampir separuh dari jumlah mahasiswa-mahasiswi di Jakarta rupanya tidak tuntas membaca berita dan alasan mahasiswa membagikan informasi tersebut karena merupakan bagian dari pergaulan dan bahkan seringkali mereka melakukannya tanpa alasan.
Temuan lainnya yang cukup mengejutkan adalah mayoritas responden dari mahasiswa-mahasiswi yang ditemui menyadari menyebar hoax dapat dipidana dan menyadari kredibilitas sumber berita sangat penting, namun sebagian di antara mereka yang kadang memverifikasi sumber berita yang diterima. Pilihan media dengan durasi konsumsi yang cukup tinggi dan menjadi sumber informasi utama para mahasiswa adalah media sosial yang disusul oleh media elektronik, seperti Radio dan TV, dengan media cetak di posisi terakhir.

“Meski demikian, portal berita dalam hal sumber informasi masih berada di atas radio. Tapi itu tipis saja. Bahkan dalam hal durasi konsumsi radio dan portal berita berada dalam konsumsi seimbang yaitu satu jam,” tutur Algooth Putranto yang dikutip dari Tribunnews.com.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari Tribunnews.com, Algooth mengingatkan survei yang dilakukan mahasiswa kelas Etika Jurnalistik dan Hukum Media Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie tidak boleh dijadikan sebagai patokan perilaku konsumsi media seluruh mahasiswa di Jakarta. Pasalnya, dengan metode purposive sampling, survei ini dilakukan sebatas untuk mencari indikasi awal perilaku konsumsi media mahasiswa di Jakarta karena dilakukan di 30 kampus di Jakarta.

“Metode yang digunakan dalam survei ini sangat sederhana karena ini adalah tugas ujian akhir semester, namun berpotensi untuk ditindaklanjuti dengan survei lanjutan yang lebih komprehensif dengan metode statistik yang lebih sempurna karena Jakarta adalah pusat produksi media massa dan acuan gaya hidup di Indonesia,” ujar Algooth.

Baca informasi selengkapnya:
Hoax Marak di Kalangan Mahasiswa karena tak Tuntas Baca Informasi (Tribunnews.com)
Hoaks Marak di Kalangan Mahasiswa karena Tak Tuntas Membaca (JPNN.com)