fbpx

Partisipasi Dosen TLK dalam EXCEED Summer School on New Alternative Sanitation System (NASS) di Braunschweig

Pada 27 Oktober – 8 November 2013 lalu, salah satu dosen Teknik Lingkungan (TLK), Prismita Nursetyowati, berkesempatan mengikuti EXCEED Summer School on New Alternative Sanitation System (NASS) di Braunschweig, Jerman. Summer school yang diikuti 13 negara dari Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin dan Asia ini diselenggarakan oleh The Institute of Sanitary and Environmental Engineering (ISEE), Technical University (TU) Braunschweig.

Summer school ini merupakan salah satu bagian dari proyek “Excellence Centre for Development Cooperation” (EXCEED) yang sedang berjalan dan didedikasikan di bidang manajemen sumber air yang terintegrasi dan berkelanjutan. Seluruh program ini dibiayai oleh German Academic Exchange Service (DAAD). Prismita adalah satu-satunya peserta dari Indonesia. Untuk selanjutnya, Prismita sendiri yang akan memaparkan kegiatannya selama dua minggu di Braunschweig. Yuk, simak! Hai! Saya Prismita dari Departemen Teknik Lingkungan UB. I’m so excited to share what I’ve experienced for this recent 2 weeks. Jadi, summer school yang saya ikuti tahun ini bertema New Alternative Sanitation System (NASS). Apa itu NASS? Sesuai kepanjangannya, NASS adalah alternatif sistem sanitasi baru. NASS bertujuan untuk memperoleh dan menggunakan kembali material yang berguna dalam air limbah untuk menghasilkan energi dan kebutuhan pertanian. NASS menunjukkan berbagai macam komponen sistem yang bervariasi bila dibandingkan dengan sistem end-of-pipe yang konvensional, seperti mencermati kembali sistem toilet; sistem penyimpanan dan transportasi; metode pengolahan untuk perolehan kembali aliran massa dalam air limbah; yang menyebabkan hasil yang bervariasi dan menarik pada setiap proyek NASS. Pada summer school kali ini, peserta diberikan pengetahuan mengenai faktor kunci NASS yang meliputi aspek teknis, ekonomi, dan sosial. Peserta summer school memiliki banyak kesempatan untuk menyampaikan pengetahuan dan pemahaman masing-masing individu terhadap topik NASS dalam berbagai level kegiatan dalam summer school.

 


Gambar 2 Salah satu contoh NASS: triple material flow system with urine separation and brownwater treatment Minggu pertama summer school bertempat di Ruang Veolia, Haus der Wissenschaft (House of Science) di TU Braunschweig. Hari pertama diawali oleh penjelasan program EXCEED oleh Prof. Andreas Haarstrick, Scientific Coordinator dari EXCEED. Kemudian, Prof. Thomas Dockhorn memberikan materi mengenai "New Alternative Sanitation Systems and Resource Management". Kuliah ini sangat menarik dan memberikan gambaran mengenai NASS. Sistem penyaluran dan pengolahan air limbah yang biasa ditemui merupakan sistem end-of-pipe. Akan tetapi, dengan pengoperasian sistem seperti ini, sumber daya berharga seperti senyawa organik sebagai energi terbarukan serta nutrisi sebagai pupuk yang baik seperti nitrogen dan fosfat turut dieliminasi dari air limbah sedangkan untuk mengeliminasi senyawa tersebut, pengolah air limbah membutuhkan sumber daya dan energi yang besar untuk konstruksi dan operasi mereka. NASS yang berusaha mengambil senyawa berharga tersebut, baik sebelum pengolahan maupun setelah pengolahan air limbah, menjadi salah satu pilihan sistem yang menarik untuk masa depan dan telah dikembangkan di berbagai negara di dunia. Di sisi lain, isu mikropolutan yang saat ini mulai menjadi perhatian, berupa residu obat yang terkandung dalam buangan manusia dan hewan disampaikan dengan apik oleh Prof. Robert Kreuzig dalam kuliah berjudul “Pharmaceutical Residues in Municipal and Agricultural Waste Streams”. Aspek sosial dalam penerapan sistem sanitasi yang baru disampaikan oleh Prof. Ulrich Menzel dengan berbagai perumpamaan yang baik agar para peserta lebih mudah mengerti dalam kuliahnya yang berjudul “New Alternative Systems and Stakeholder Acceptance”.

 

 


Gambar 3 Prof. Dockhorn menyampaikan materi mengenai NASS Hari kedua dan ketiga diisi oleh presentasi penelitian dan studi kasus para peserta summer school, terutama mengenai sistem sanitasi dan aplikasi di negara masing-masing. Saya sendiri menyampaikan presentasi pada hari ketiga, dengan judul presentasi “Domestic Wastewater Treatment with Sequencing Batch Reactor: Potential Application in Indonesia". Pada presentasi ini saya mencoba untuk mengenalkan salah satu reaktor yang sederhana dan hemat tempat, Sequencing batch Reactor (SBR) untuk pengolahan air limbah perkotaan dengan sistem decetralized, dimana pengolahan air limbah perkotaan tidak terpusat di satu instalasi pengolahan. Reaktor SBR ini harus diadaptasikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang padat karya. Salah satu presentasi yang menarik untuk saya adalah presentasi dari Mariana Chrispim, dari Brasil. Mariana memperkenalkan penggunaan air seni manusia untuk pupuk pertanian. Air seni sendiri diperoleh dari toilet laki-laki di toilet University of Sao Paulo, Brasil. Air seni manusia dikenal memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Bila dipisahkan dari feses manusia, hal ini dapat mempermudah operasi penghilangan nitrogen dalam instalasi pengolahan air limbah. Setelah penyimpanan selama satu bulan untuk penghilangan bakteri patogen, air seni dapat digunakan sebagai pupuk dengan cara penyemprotan. Tentunya, petani yang menyemprotkan harus memakai pelindung tubuh dan wajah agar terhindar dari sentuhan langsung dengan air seni. Menarik, ya! Dengan adanya sarana untuk saling berbagi pengalaman mengenai sistem-sistem sanitasi yang baru, saya harap di masa depan nanti Indonesia semakin terbuka dengan adanya sistem sanitasi yang lebih baik dari sistem yang saat ini diterapkan serta dapat belajar dari pengalaman di negara lain.

Gambar 4 Prismita memberikan presentasi mengenai SBR Hari keempat dan kelima, Daniel Klein, salah satu staf riset di TU Braunschweig menyampaikan presentasi yang menarik mengenai “Reuse and Recovered Nutrients in Agriculture – a Question of materials Flow Management” dan Stefanie Meyer, salah seorang lulusan master dari TU Braunschweig memberikan presentasi terkait NASS yang berjudul “Carbonization and Sanitation – a Case Study from Tanzania". Setelah itu, para peserta summer school membentuk 4 grup, yaitu grup Amerika Latin, grup Timur Tengah, grup Asia, dan grup Afrika. Masing-masing grup terdiri dari peserta dari benua yang berbeda dan diwajibkan untuk memilih satu negara untuk dijadikan studi kasus. Setiap peserta di dalam grup juga diwajibkan berdiskusi mengenai pendorong utama untuk penerapan sistem sanitasi yang baru di negara yang telah dipilih dan merancang sistem sanitasi yang baru untuk negara tersebut. Kebetulan saya berada dalam grup Amerika Latin, dengan studi kasus pada area kumuh di perkotaan Sao Paulo, Brasil.  Sao Paulo merupakan kota metropolitan terbesar di Brasil. Kota ini berpenduduk sangat padat dengan lebih dari 11 juta penduduk. Area kumuh di Sao Paulo memiliki masalah terutama isu pencurian air pipa dan pembuangan limbah langsung ke sungai. Terbatasnya ekonomi dan pendidikan masyarakat di daerah kumuh mendorong grup saya merancang sistem sanitasi untuk rumah tangga dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah ada dan menambahkan beberapa infrastruktur tambahan seperti wetland dan solar desinfection untuk pengolahan grey water komunal yang efluennya digunakan untuk menyiram kebun komunal, Upflow Anaerobic Sludge Blanket dan wetland untuk pengolahan air limbah setelah septic tank eksisting, dan pengumpulan air hujan dari atap rumah untuk penyiraman toilet. Sedangkan untuk fasilitas publik seperti sekolah, sistem NASS diterapkan pada pembangunan dry toilet, dimana air seni dan feses dipisahkan. Air seni dapat digunakan sebagai pupuk, sedangkan feses dicampur dengan kotoran anjing yang dikumpulkan secara komunal dalam digester untuk menghasilkan biogas. Tentunya, rancangan sistem sanitasi yang baru di daerah ini tidak akan berhasil tanpa pengenalan dan edukasi yang tekun kepada masyarakat di area kumuh Sao Paulo. Saya kira, Indonesia, terutama Jakarta, memiliki kondisi yang hampir sama dengan Sao Paulo. Bukan tidak mungkin, sistem seperti ini diterapkan di Jakarta, bukan?


Gambar 5 Grup Amerika Latin mendiskusikan NASS yang cocok bagi Brasil Di akhir pekan, peserta summer school melaksanakan kunjungan lapangan ke Instalasi  di Giforn untuk melihat proses perolehan kembali nutrien dari air limbah kota Braunschweig, terutama nitrogen dan fosfat. Efluen dari instalasi ini digunakan untuk irigasi pertanian di area Braunschweig. Sedangkan lumpur yang dihasilkan dari proses digunakan untuk menghasilkan biogas. Biogas ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di instalasi. Kemudian, peserta summer school mengunjungi instalasi biogas yang dimiliki oleh Institusi Pengolah Air Limbah Braunschweig. Sumber dari biogas berasal dari cacahan tanaman maze (jagung). 80% dari biogas disalurkan untuk mendukung kebutuhan listrik di Braunschweig, sedangkan sisanya digunakan untuk kebutuhan listrik instalasi.


Gambar 6 Peserta summer school di Instalasi Giforn Minggu kedua summer school, para peserta berpartisipasi dalam dua acara besar di Braunschweig, yaitu DWA Seminar – Water Reuse pada 4 – 5 November 2013 dan International Symposium Re-Water on “Quality, Reuse, and Global Aspects” pada 6 – 7 November 2013. Dua acara ini sangat bermanfaat untuk membuka pikiran dengan berbagai penelitian dan overview mengenai penggunaan kembali air limbah untuk berbagai hal. Selain itu, kedua acara ini membantu saya untuk memperluas relasi dengan orang-orang seluruh dunia dengan minat yang sama – air. Salah satu presentasi terbaik menurut saya, di International Symposium Re-Water adalah presentasi dari Prof. Max Maurer dari ETH Zurich berjudul “Transition in Urban Water Management”. Beliau memaparkan dengan sederhana, kadang sistem terpusat untuk sanitasi tidak selamanya cocok dengan kondisi saat ini. Terjadi suatu transisi dari pengolahan terpusat (off site) ke pengolahan setempat (on site). Kontra? Pasti ada. Bila nanti ada toilet yang bisa mengolah dan mengatur sendiri limbah yang masuk ke dalamnya, bukankah itu lebih baik? Menurut saya, presentasi Beliau cukup mind blowing. Semoga di masa depan, saya dapat bertemu lagi dengan beliau!


Gambar 7 DWA Seminar on Water Reuse


Gambar 8 Prof. Max Maurer menyampaikan presentasi di International Symposium Re-Water Braunschweig Summer school ini ditutup dengan farewell dinner peserta dan panitia summer school di Restaurant Tandure. Selama dua minggu ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dan pikiran saya semakin terbuka dengan sudut pandang baru. Perpaduan antara ilmu dan persahabatan baru dengan suasana multikultural sungguh tidak terlupakan. Dan yang paling penting, semoga ilmu yang saya dapatkan di summer school ini dapat bermanfaat bagi Indonesia dan dapat menginspirasi teman-teman lain, ya!