WORKSHOP ‘PRODUCT DEVELOPMENT FOR ENHANCING FOOD AND NUTRITION SECURITY’ DI KASETSART UNIVERSITY, BANGKOK, THAILAND

Pada tanggal 7-10 september 2016, salah satu dosen ilmu dan teknologi pangan Universitas Bakrie, Laras Cempaka, mendapatkan kesempatan mengikuti workshop pengembangan produk di Kasetsart University, Bangkok, Thailand.  

Dari Indonesia, Bu Laras terpilih sebagai salah satu fellowship dari beberapa peserta yang direkomendasikan oleh Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) dan Food Science and Technology Association of Thailand (FoSTAT). Workshop yang bertemakan ‘Product Development for Enhancing Food and Nutrition Security‘ ini disponsori oleh University of Hohenheim, Jerman. Beberapa partisipan dari negara lain pun turut menghadiri  workshop ini, diantaranya Thailand, Myanmar, Bhutan, Nepal, Kamboja, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. 

Pemaparan materi

Pada workshop yang diselenggarakan selama dua hari dengan pembicara Dr. Noranizan Mohd Adzahan dari Universiti Putra Malaysia ini memiliki agenda berupa pemaparan materi, diskusi kelompok dan presentasi kelompok. Materi yang disampaikan yaitu pendahuluan suatu inovasi produk baru, proses pengembangan produk, proses pencarian dan penyeleksian ide, konsep pengembangan dan desain produk, seleksi terhadap produk dan pengujian.

Perkenalan antar peserta dari beberapa negara 

Pengembangan produk adalah hal yang mutlak dilakukan oleh setiap industri. Hal tersebut berkaitan dengan siklus hidup produk. Suatu produk lazimnya akan mengalami beberapa fase diantaranya fase pengenalan (introduction), fase pertumbuhan (growth), fase kematangan (maturity) dan fase penurunan (decline). Fase pengenalan terjadi apabila suatu produk memasuki pasar yang baru atau suatu produk baru dikembangkan di pasar yang sama. Pertumbuhan terjadi seiring dengan banyaknya permintaan akan sebuah produk. Jika produk tidak mengalami pengembangan maka permintaan akan stagnan bahkan menurun, hal ini yang mendasari terbentuknya fase penurunan, pasar sudah mulai jenuh dan beralih ke produk lain.

Aktivitas peserta dalam diskusi kelompok

Oleh karena itu, baik industri maupun usaha kecil menengah sudah seharusnya mengembangkan suatu produk sebelum produk yang ada mengalami proses stasioner, sehingga industri bisa tetap berkesinambungan dan bisa menghasilkan laba. Agar bisa bertahan, suatu perusahaan harus mengganti produknya dengan produk yang baru. Sebaiknya saat produk lama hampir mencapai titik stagnan, produk baru harus sudah siap diluncurkan, agar laba tetap bisa mengalir berkesinambungan.

Pada workshop ini, peserta diberi kesempatan untuk mengimplementasikan materi dengan cara diskusi kelompok. Peserta dibagi kedalam tiga kelompok, setiap kelompok diskusi ini melakukan tahapan proses pengembangan produk dengan tema yang sama yaitu produk pangan dengan bahan baku rumput sabah snake (Clinacanthus nutans). Tanaman ini tumbuh di beberapa negara tropis, seperti Malaysia dan Thailand. Tanaman ini umumnya dimanfaatkan untuk pengolahan obat tradisional. Kali ini setiap kelompok ditantang untuk mengkreasikannya menjadi produk apa saja asal tetap memiliki faktor ‘wow’ dan dengan latar belakang unggulan lainnya. Setiap kelompok harus bisa memaparkan deskripsi dari ide produk, konsep produk: pengetahuan tentang produk, manfaat, tujuan pengembangan produk. Kemudian produk tersebut dipresentasikan oleh masing-masing kelompok. Produk yang dikembangkan oleh masing-masing kelompok diantaranya adalah minuman serbuk sabah snake grass, sabah snake crakers, dan mochi sabah snake.

Sebelum workshop berakhir, para peserta diajak untuk berkeliling menelusuri area kampus program studi ilmu dan teknologi pangan, Universitas Kasetsart. Dari sisi agroindustri, Universitas Kasetsart ini memiliki peringkat terbaik di Asia Tenggara. Setiap tahunnya, program studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Kasetsart ini membuka kelas internasional untuk program pasca sarjana, termasuk terdapat mahasiswa asli Indonesia yang melanjutkan studi disana.