fbpx
Laboratorium Cisco

Laboratorium Cisco

About Informatika Universitas Bakrie

About Informatika Universitas Bakrie

World of Gaming: How to Become a Professional Gamer

World of Gaming: How to Become a Professional Gamer

IoT, PELUANG DAN TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0, DAN KESIAPAN PERGURUAN TINGGI

IoT, PELUANG DAN TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0, DAN KESIAPAN PERGURUAN TINGGI

Multimedia Interaktif Program Studi Informatika Universitas Bakrie

[Berita Prodi] Informatika

Program Studi Informatika Universitas Bakrie

secara simultan dan berkesinambungan meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian dan Pengembangan; dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Download Brosur

VARIASI KURIKULUM PROGRAM STUDI INFORMATIKA

Read More
KURIKULUM

Media dan Data Informatika

Media dan data Informatika merupakan data multimedia, istilah multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi, audio dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia informatika.

Read More
KURIKULUM

Jaringan Informatika

Jaringan Informatika atau kita sebut komputer (jaringan) adalah jaringan telekomunikasi yang memungkinkan antar komputer untuk saling bertukar data. Tujuan dari jaringan komputer adalah agar dapat mencapai tujuannya, setiap bagian dari jaringan komputer dapat meminta dan memberikan layanan (service).

Read More
KURIKULUM

Mobile Informatics

Mobile informatics yang kita sebut Informatika bergerak adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.

Read More

Program Studi Manajemen Manajemen U-Bakrie dan Bakrie Center Foundation berkolaborasi menyelenggarakan Webinar dengan tema Membangun Karakter Pemimpin yang Penuh Empati dalam Bisnis Sosial pada tanggal 20 November 2020. Webinar ini merupakan bagian dari program hibah yang diperoleh prodi Manajemen yaitu dirjen Dikti, yakni pengembangan konsep Building Compassionate Leaders, sebuah gabungan magang kerja dan proyek sosial. Acara ini menampilkan 2 pembicara yaitu Annisa Hasanah sebagai social enterprise Ecofunopoly dan Dessy Aliandra selaku Founder Sociopreneur Indonesia (SID).

Acara ini berlatarbelakang maraknya perkembangan bisnis sosial di Indonesia. Pada tahun 2018, tercatat ada sekitar 340.000 bisnis sosial yang ada di Indonesia. Melihat potensi dan banyaknya jumlai pemain bisnis sosial dari berbagai sektor, bisnis sosial di Indonesia bisa menjadi kunci dalam membangun sektor ekonomi kreatif dan inklusif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh British Council pada tahun 2019, bisnis sosial telah memberikan kontribusi dalam meningkatakn Pendaparan Domestik Bruto (PDB) sebanyak 1,9 persen.

Tidak hanya pada dampak perekonomian saja, bisnis sosial juga berperan dalam mengatasi permasalahan sosial. Agar dapat mengatasi permasalahan sosial tersebut seorang sociopreneuer harus memiliki rasa empati sehingga mampu memetakan pemecahan masalah sosial tersebut dengan melakukan pendekatan bisnis. Profit dalam sebuah bisnis sosial bukan menjadi tujuan akhir namun sebagai bahan bakar agar mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi pemecahan masalah yang ada.

Annisa berasal dari keluarga yang bukan entrepreneurial friendly sehingga memulai suatu bisnis merupakan hal yang baru untuknya. Ia menceritakan bahwa di tahun 2009 ia mendapatkan ide dari berbagai kegiatan volunteering yang dijalankan untuk membuat game ecofunpoly. Game ini menunjukkan bagaimana caranya untuk mengajarakan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Dengan adanya game ini, Annisa jadi sering melakukan event bersama anak-anak di sekitaran taman IPB dan juga mengadakan kegiatan menanam tanaman sekalian praktek untuk mengenal tentang lingkungan. Sejak melaksanakan bisnis ini, dampaknya sangat besar ke berbagai aspek. Produk-produknya diproduksi dengan materi daur ulang sehingga ia berkolaborasi debgab pengrajin kayu yang lebih menggunakan 3000 limbah kayu. Hal ini juga berdampak pada pemberdayaan perempuan dimana para pengrajin perempuan ikut memproduksi produk-produknya. Salah satu tanggung jawab terbesarnya dalam membuat bisnis ini adalah menekan angka sampah dan menggunakan bahan-bahan reusable sehingga tidak mempolusikan lingkungan alam.

Pada sesi selanjutnya, Dessy bercerita tentang perjalanan pribadinya dalam membangun empathetic leadership dan social entrepreneurship. Dessy bercerita bahwa pendidikannya yang ia jalani sangat mempengaruhi visinya untuk menjadi seorang social entrepreneur. Sociopreneur.id bertujuan untuk memupuk pertumbuhan Kewirausahaan Sosial melalui Pendidikan Kewirausahaan untuk menciptakan 'Ekosistem yang Bertanggung Jawab'. Seseorang dapat bertanggung jawab tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain dan lingkungannya, dunia dapat menjadi tempat yang indah untuk ditinggali. Sejak 2013, SociopreneurID adalah perancang ekosistem yang telah memprakarsai program kewirausahaan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan dan aksi kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Orang Indonesia itu murah hati, tapi mereka tidak tahu cara menyalurkan kebaikan hatinya.” Ujar Bu Dessy. Berdasarkan data yang didapatnya, orang Indonesia merupakan orang-orang yang murah hati dan tingkat volunteerism diduduki di peringat 7. Namun dalma membantu orang asing, berada di peringkat 86 di dunia. Ini mengimpilaksikan orang Indonesia hanya membantu yang ada dalam grupnya. Sementara social entrepreneur harusnya membantu siapa aja, jadi disinilah peran Sociopreneur untuk mendorong tumbuhnya social empati dan mengimplementasi empati ke masyarakat luas.

Di akhir sesi, Annisa juga memberikan pesannya dalam menjalankan bisnis sosial kepada para sosial entrepreneur yaitu;

“Menjalankan sebuah bisnis sosial mengajarakan saya: profit penting tapi bukan satu2nya & impact. Empati bisa diasah dengan cara apapun mendengarakan orang, membaca dan mendiskusi.”

Pandemi COVID-19 menjadi suatu tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh negara di dunia yang mempengaruhi jalannya kehidupan diberbagai sektor, salah satunya ialah dunia bisnis. Para pebisnis harus tetap melakukan berbagai inovasi agar tetap dapat bertahan. Oleh karena itu, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPkM) dan Program Studi Ilmu Politik Universitas Bakrie mengadakan webinar yang bertemakan Asia Pacific Transformation in Post COVID-19 pada Selasa, 24 November 2020 melalui aplikasi Zoom dan Live on YouTube: Universitas Bakrie.

Pada webinar kali ini, Universitas Bakrie mengundang Ir. Bambang Susantono, MCP, MSCE, Ph.D., Vice President Asian Development Bank yang akan membahas mengenai Establishing Sustainable Economic Copperation in Asia Pacific beyond the COVID-19 pandemic dan Diah Satyani Saminarsih, M.Sc., Senior Advisor on Gender and Youth to the WHO Director General.

Ir. Bambang Susantono, MCP, MSCE, Ph.D., Vice President Asian Development Bank mengatakan bahwa kita harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi keadaan next normal, yaitu memperhatikan Kota sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dan inovasi, mendukung perkembangan UMKM, mengintegrasikan social protection, social safety net, pendidikan dan kesehatan, serta integrasi kemajuan teknologi digital kedalam perencanaan kedepan.

“Suatu negara biasanya lebih sering memperhatikan pembangunan fisik, misalnya infrastrukur pembangunan tol dan sebagainya, diharapkan untuk kedepan kita harus mengimbangi dalam hal social infrastructure sehingga akan menjaga ketahanan negara dari shock seperti pandemi COVID-19 saat ini,” ujarnya.

Pada sesi berikutnya, hadir pula Diah Satyani Saminarsih, M.Sc., Senior Advisor on Gender and Youth to the WHO Director General dengan pembahasan tentang Strengthening Global Health Collaboration in Asia Pacific beyond the COVID-19 pandemic.

Menurutnya, kita tidak bisa melihat permasalahan kesehatan di Asia Pacific, nasional, maupun dunia hanya pada saat pandemi COVID-19, kita juga harus melihat permasalahan saat masa sebelum pandemi.

“Sebelum adanya COVID-19 ini, banyak permasalahan yang belum terselesaikan seperti meningkatnya berbagai penyakit kronis, kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan dan lain sebagainya, untuk bisa keluar dalam permasalahan hal itu diperlukan evidence yang mendorong adanya layanan kesehatan primer yang transformatif,” ujarnya.

Beliau juga mengungkapkan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan dengan cara non kesehatan yaitu melalui komitmen politik, arah kebijakan nasional dan reformasi peraturan tentang pembangunan sektor kesehatan, hukum sub-nasional tentang sistem kesehatan, kolaborasi multi sektor, pentahelix approach, serta keterkaitan kebijakan ekonomi, sosial budaya, komersial, dan lingkungan.

 

Perempuan sering kali menjadi korban pelecehan seksual, tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya atas dasar hal tersebut, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie yang tergabung dalam campaign ‘Jangan Ragu’ berinisiatif mengadakan webinar yang bertemakan ‘Ruang Bicara Vol 3: Cyber Sexual Harassment’ pada 21 November 2020 melalui aplikasi Zoom dan Live on YouTube: Jangan Ragu.

Tiasri Wiandani, Komisioner Komnas Perempuan mengungkapkan bahwa bentuk cyber sexual harrassment biasanya berupa pesan atau komentar yang melecehkan secara mental, ancaman, ajakan untuk melakukan aksi porno, dan lain sebagainya yang dilakukan melalui forum internet seperti media sosial. “Meningkatnya penggunaan media sosial tidak menutup kemungkinan kasus seperti ini mengalami peningkatan,” ujarnya.

Dalam data pengaduan yang diterima oleh Komnas Perempuan pada tahun 2020 tercatat kenaikan yang cukup signifikan, yakni pengaduan kasus cyber crime 281 kasus (2018 tercatat 97 kasus) atau naik sebanyak 300%. Kasus cyber terbanyak berbentuk ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno korban.

Komisioner Komnas Perempuan juga menjelaskan mengenai hal-hal yang dapat dilakukan saat menjadi korban, yaitu bila memungkinkan, dokumentasikan hal-hal yang terjadi pada diri, pantau situasi yang dihadapi, menghubungi bantuan, lapor dan blokir pelaku. Kemudian, di ranah online, korban memiliki opsi untuk melaporkan dan memblokir pelaku atau akun-akun yang dianggap mencurigakan, membuat tidak nyaman atau mengintimidasi melalui online platform yang digunakan.

Pada sesi berikutnya, Dr. Vivid F. Argarini Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie sekaligus Penulis Buku "Manners Matter - No Matter What" memaparkan mengenai menjaga manner di dunia maya.

Menurutnya, penting sekali kita sebagai manusia saling menghargai satu sama lain, menghargai perempuan dan juga pendapat orang lain. Sama halnya saat kita menggunakan media sosial, sebelum post dan share, pikirkan apakah kata-kata, foto, video yang kita post dan share akan menyakiti orang lain.

“Daripada kita saling menyakiti dan tidak menyamankan hati, mengapa kita tidak hidup untuk saling menguatkan saja? yuk jangan ragu untuk  saling mengingatkan, yuk jangan ragu untuk mendampingi dan jadi teman yang menguatkan, apalagi di masa pandemi seperti ini, kita justru harus meningkatkan empati kita terhadap orang lain,” ujarnya.

Webinar yang dipersembahkan oleh Kampus Merdeka, Universitas Bakrie dan Pemimpin.id yang bertemakan “Jadikan Ide Bisnismu Punya Misi Sosial” telah diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom pada 17 November 2020 pukul 19.30 WIB.

Webinar yang dipandu oleh Holila Hatta, Dosen Prodi Manajemen Univeristas Bakrie ini juga dihadiri oleh Suci Hendrina, Head of Corporate Communication & CSR of Paragon Technology and Innovation dan Sofian Hadiwijaya, CTO Warung Pintar. Kali ini, mereka membahas mengenai bisnis yang memiliki misi dan dampak terhadap sektor sosial.

Paragon memiliki visi dan misi untuk selalu memliki pengelolaan terbaik dan terus menerus memberikan manfaat bagi Paragonian (panggilan internal), mitra, masyarakat, dan lingkungan. Dari visi misi tersebut sudah sangat terlihat bahwa Paragon sangat memperhatikan dampak bisnisnya dari segi sosial.

Suci Hendrina, Head of Corporate Communication & CSR of Paragon Technology and Innovation mengatakan bahwa Paragon memiliki 4 pilar dalam kegiatan sosial, yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan perempuan.

“Salah satu yang menjadi concern kami saat ini ialah dari sektor pendidikan, di mana sumber daya manusia yang berkualitas dapat ditunjang melalui pendidikan, maka dari itu kami membuat Wardah Scholarship Program yang menjadi salah satu upaya kami untuk menjalankan keempat pilar tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya, telah hadir pula Sofian Hadiwijaya, CTO Warung Pintar. Warung Pintar adalah perusahaan teknologi yang mentransformasi bisnis mikro di Indonesia.

Sofian mengungkapkan bahwa Warung Pintar memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memaksimalkan potensi warung di Indonesia menuju ekonomi di masa mendatang.

Pada webinar tersebut, Sofian memaparkan bahwa tak bisa dipungkiri bahwa profit merupakan tujuan utama para pebisnis, tetapi dari profit yang dihasilkan itu kita bisa membantu orang lain lebih banyak.

“Profit memang penting, tetapi dengan adanya banyak profit itu kita bisa membantu orang lebih banyak, saya percaya bahwa ada bagian orang lain dari yang setiap kita dapatkan,” ujarnya.