fbpx

Pada hari Kamis, 19 Desember 2019, rombongan mahasiswa/i Teknik Lingkungan Universitas Bakrie dan beberapa dosen Universitas Bakrie melakukan field visit ke Kawasan Industri Jababeka yang berlokasi didaerah Cikarang, PT. Jababeka Infrastruktur. Rombongan mendapatkan beberapa informasi mengenai Jababeka. PT Jababeka Tbk didirikan pada tahun 1989 dan merupakan perusahaan pengembang kawasan industri terbuka pertama di Indonesia, yang tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya sejak tahun 1994. Luas Jababeka yaitu 5600 hektar dan merupakan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Daerah kawasan industri Jababeka 1 merupakan daerah khusus untuk kawasan industri besar seperti Samsung, Mattel, L’Oreal dan lain-lain. Kawasan industri Jababeka 3 dan 4 merupakan kawasan pergudangan seperti manual book Samsung, Bengkel mesin industri dan lain-lain. Pintu 2 Jababeka merupakan perbatasan antara kawasan industri dan daerah komersial. Jababeka mendapatkan masukan listrik dari 3 sumber, yaitu PLN, Cikarang Listrik Indo dan Bekasi Power. Selanjutnya, rombongan mengunjungi IPAL di Jababeka yaitu Waste Water Treatment Plan 2 (WWTP 2).

IPAL Jababeka memiliki 2 Waste Water Treatment Plant yaitu WWTP 1 dan WWTP 2. Lokasi WWTP 1 terdapat di Industri Jababeka 1 dengan kapasitas 18.000 m3/hari dan pada WWTP 2 terdapat di Industri Jababeka 2 dengan kapasitas 10.800 m3/hari. WWTP 1 melayani kawasan Jababeka 1 dan 7 sisanya dilayani oleh WWTP 2. Pada WWTP 2 kapasitasnya kecil karena debit air limbah yang ke WWTP 2 lebih kecil daripada WWTP 1. WWTP 1 melayani tenant-tenant besar seperti Unilever, KAO, dan lain-lain sementara pada WWTP 2 melayani tenant-tenant kecil dan terdapat juga Presidensial Commercial seperti hotel dan rumah sakit.  

Dari masing-masing Industri (Tenant) hanya memiliki pipa keluaran air limbah sebanyak 1 pipa karena untuk memudahkan monitoring dan terdapat Estate Regulation agar masingmasing tenant tidak  membuang air limbah melebihi Estate Regulation. Apabila tenant kedapati membuang limbah melebihi estate regulation maka akan dilakukan pengurangan air bersih yang membuat tenant tidak dapat memproduksi.

Di WWTP II terdapat dua sistem yaitu sistem lama yang menggunakan sistem lumpur aktif dan sistem baru yang menggunakan sistem Food Chain Reactor (FCR).  Berikut sistem lama WWTP Jababeka:

  1. Dari seluruh tenant air limbah dialirkan menuju Pump Station pada masing-masing kawasan.
  2. Pada sistem lama di WWTP 2, air limbah yang berada di Pump Station dari kawasan masing-masing tenant akan langsung masuk ke Pump Station WWTP 2.
  3. Setelah dari Pump Station kemudian masuk ke Grit Chamber untuk memisahkan kerikil dan pasir dari air limbah, tetapi sebelumnya di pump station terdapat Bar Screen untuk memisahkan sampah yang ukurannya besar.
  4. Setelah dari Grit Chamber air limbah masuk ke Primary Settling Tank untuk diendapkan, hasil dari endapan ada yang mengapung, melayang dan mengendap.
  5. Untuk yang mengapung dan mengendap akan disapu oleh Scrapper yang berputar kemudian dikumpulkan di bawah lalu dipompa ke STT (Sludge Thickener Tank) atau tempat mengumpulkan Sludge dan yang melayang di pompa menggunakan pompa yang berbeda ke STT seperti minyak dan lemak.
  6. Setelah dari Primary Settling Tank air limbah masuk ke proses aerasi tetapi di proses lama namanya Oxidation Ditch ( Selokan Berputar) yang jumlahnya 2 dengan waktu tinggal 24 jam, di masing-masingnya ada Mamud Trotor untuk menghasilkan oksigen, karena bakterinya aerob jadi membutuhkan oksigen.
  7. Kemudian masuk ke Collecting Box, air limbah hanya lewat saja tetapi di Collecting Box terdapat Stru Pump yang berfungsi membalikkan sebagian Sludge yang berasal dari Secondary Settling Tank karena untuk meregenerasi bakteri.
  8. Setelah Sludge yang dari Primary Settling Tank dan Secondary Settling Tank dikumpulkan di Sludge Thickener Tank (STT), kemudian di proses oleh Belt Filter Press untuk mengurangi kandungan air karena sludge bersifat B3 yang akan diolah oleh PLI, sehingga proses ini akan mengurangi biaya. Pada Belt Filter Press, Sludge kering sekitar 70% sisanya dikeringkan dengan cara di jemur yang namanya Sludge Drying Area, tempatnya terdapat atap tapi matahari masih dapat tembus dan lamanya penjemuran sekitar 5 hari, namun juga tergantung oleh cuaca. Sludge yang bersifat B3 akan dikirim ke PLI setelah 1 bulan seberat 21 ton.
  9. Final Effluent dari setelah STT dengan memakai baku mutu Permen LH Nomor 3 Tahun 2010 ada 16 parameter. Selanjutnya akan dibuang ke sungai cilemah abang, namun akan melewati bak klorinasi. Bak ini hanyak sebatas lewat yang berfungsi untuk mengendapkan sisa TSS yang masih terbawa. 

Untuk sistem baru WWTP Jababeka yaitu;

1. Effluent masuk ke Pump Station.
2. Setelah itu masuk ke Equalization Tank (ET) untuk ditampung dengan kapasitas 450 m3/jam.
3. Kemudian masuk ke Coarse Screen And Fine Screen untuk effisiensi listrik.
4. Kemudian masuk ke Sand Trap untuk memisahkan (mengendapkan), untuk yang melayang masuk ke Leachate Chamber.
5. Setelah dari Sand Trap kemudian masuk ke Food Chain Reactor (FCR) untuk mengurangi kandungan limbah, di FCR ini terdapat tanaman untuk Media Mikroorganisme (biomodul) yang akan tumbuh pada akar tersebut dan di FCR ini mempunyai 6 reaktor makanan dimana air limbah mengalir dari reaktor 1 ke reaktor 6 dan hasilnya diharapkan kandungan air limbah berkurang. Terdapat container untuk memisahkan padatan (sampah) dan airnya, dan ada juga blower yang berada di bawah.
6. Terdapat Flocculation setelah proses FCR tetapi Flocculation ini digunakan pada saat tertentu saja dan ditambahkan polimer.
7. Kemudian masuk ke Clarifier untuk diendapkan lagi kurang lebih 24 jam sampai 26 jam.

Setelah melewati clarifier tank, air diberikan klorin untuk mematikan bakteri pathogen yang terkandung dalam air limbah sehingga setelah disalurkan ke badan air, air limbah tidak akan berbahaya bagi lingkungan.Inlet yang dipake berada di tengah karena otomatis dan sampingnya manual, sampah yang masuk akan diolah di container dan jika cairan COD masih tinggi masuk ke Leachate Chamber. 2 jam sekali masuk kulkas lalu jam 6 disatukan di lab, clarifier adalah proses akhir. 
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak PT.Infrastruktur Jababeka yang telah mengizinkan kami untuk dapat melihat dan mempelajari langsung mengenai pengolahan air limbah yang ada di Jababeka.

Program studi teknik lingkungan universitas bakrie melakukn kunjungan di PT. Mercedez Benz Indonesia yang merupakan sebuah perusahaan otomotif asal Jerman yang memproduksi berbagai macam kendaraan seperti mobil, truk, dan bus. Perusahaan ini juga dikenal sebagai perusahaan mobil paling dikenal di dunia dan juga perusahaan mobil tertua di dunia yang bertahan sampai sekarang. PT. Mercedez Benz Indonesia memiliki pabrik perakitan di kawasan industri di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan tim dosen dan mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie di Training Room PT. Mercedez Benz Indonesia dimulai dengan melakukan persiapan alat peraga dan materi acara, termasuk membagikan buku program yang telah disiapkan oleh Tim Dosen Teknik Lingkungan Universitas Bakrie yang kemudian dibukanya secara resmi acara “Mercedez Benz Peduli Lingkungan” di hadapan para undangan yaitu warga Desa Cicadas dan Desa Waneherang sebanyak 30 orang.

Kunjungan Prodi Teknik Lingkungan ke Desa Cicadas yaitu untuk melihat sumur resapan eksisting sekaligus pemberian edukasi mengenai sumur resapan serta memberikan edukasi mengenai pengolahan sampah rumah tangga dengan metode Takakura dan komposter mandiri melalui presentasi dan praktik langsung di area Training Room.

Detail dari agenda kegiatan yang disiapkan yaitu

Edukasi Sumur Resapan

kondisi sumur resapan masih kurang efektif. Warga mengaku masih saja sering terjadi banjir apabila hujan besar, mengingat daerah Kabupaten Bogor termasuk daerah yang cukup tinggi curah hujannya. menjelaskan secara sederhana kondisi eksisting sumur resapan di Desa Cicadas dan mengaitkan dengan kondisi banjir dan kekeringan yang melanda warga kedua desa tersebut. Selain itu, warga juga diedukasi mengenai desain sederhana sumur resapan yang baik dan efeknya terhadap lingkungan.

 

Edukasi Takakura dan Komposter Mandiri

Warga diajari untuk mencacah kecil sampahnya, kemudian menyusun sampahnya di keranjang Takakura yang sebelumnya telah disiapkan tanah kompos (opsional) di dalamnya dan dilapisi kardus. Kemudian sampah disiram oleh dua macam larutan starter berupa larutan berbasis bakteri fermentasi dengan tambahan gula serta bakteri yang diambil dari sayuran dan buah dengan penambahan garam. Metode ini sangat praktis, terutama untuk diterapkan di rumah. Setelah presentasi di dalam ruangan dan sesi tanya jawab, warga diajak untuk praktik langsung membuat kompos dengan metode Takakura. Warga diajari untuk mencacah kecil sampahnya, kemudian menyusun sampahnya di keranjang Takakura yang sebelumnya telah disiapkan tanah kompos (opsional) di dalamnya dan dilapisi kardus. Kemudian sampah disiram oleh dua macam larutan starter berupa larutan berbasis bakteri fermentasi dengan tambahan gula serta bakteri yang diambil dari sayuran dan buah dengan penambahan garam.

Setelah sesi edukasi selesai, acara ditutup dengan foto bersama, penutupan dari PT. Mercedez Benz Indonesia serta penyerahan souvenir dan makan siang bersama.

 

Bekasi, 18 Oktober 2018 Waste 4 Change bersama dengan Fortuga mengadakan kegiatan AKABIS (Akademi Bijak Sampah) yang berlokasi di TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Bantar Gebang, Bekasi. Fortuga sendiri merupakan sebuah perkumpulan alumni ITB angkatan 73 yang turut aktif dalam melakukan kegiatan yang peduli pada lingkungan, salah satunya dengan bekerja sama dengan Waste 4 Change dan mengajak komunitas lain serta mahasiswa yang peduli atau tertaik dengan sampah untuk bergabung dan ikut dalam kegiatan AKABIS tersebut. Para peserta yang ikut dalam acara ini sebelumnya berkumpul di RPF (Rumah Persahabatan Fortuga) sebelum bersama-bersama berangkat menuju ke Bantar Gebang, Bekasi.

Sesampainya di Bantar Gebang, peserta disambut oleh panitia acara untuk berkumpul di ruang rapat dan acarapn dimulai. Kata sambutan diberikan oleh perwakilan dari Fortuga dan Waste 4 Change sekaligus membuka kegiatan tersebut. Sebagai pembukaan peserta diberikan pengenalan mengenai TPST Bantar Gebang. Perserta mendapatkan pengetahuan berupa lokasi landfill yang ada di Bantar Gebang, darimana saja asal sampah-sampah yang masuk ke Bantar Gebang, jumlah truk yang masuk, luas dan ketinggian landfill, dan lain-lain. Setelah pengenalan Bantar Gebang, peserta diajak untuk mengenakan sepatu boots dan masker untuk kemudian bersama melakukaan tour menggunakan mobil untuk mengelilingi kawasan sekitar Bantar Gebang. Selama perjalanan dijelaskan pula mengenai lokasi truk pengangkut sampah melakukan dumping sampah, keberadaan pemulung yang ternyata turut serta dalam membantu mengurangi sampah plastik yang masuk kedalam Bantar Gebang.

Selain tour lapangan di Bantar Gebang, peserta juga diajak untuk melihat tempat pengolahan sampah organik, pengolahan gas metan sebagai bahan bakar ramah lingkungan, dan pemukiman pemulung di sekitar TPST Bantar Gebang. Setelah menyelesaikan tour lapangan, peserta diajak untuk menuju fasilitas yang dimiliki Waste 4 Change. Waste 4 change merupakan suatu komunitas yang bergerak dibidang persampahn. Tidka hanya itu, waste 4 change mempunyi slogan "mengelola sampah secara bertanggung jawab". Pesert diberikam kesempatan untuk mebgunjungi beberapa pengolahan sampah yang terdapat di waste 4 change. Pertama adalah rumah oemulihan material. Tempat ini merupakan tempat untuk pengeloalaan sampah anorganik. Rumah tersebut terdiri dari area Packong, area pencacah, serta adapula bagian area yang khusu menangani helm gojek yang sudah tidak terpakai lagi. Waste 4 change juga memberika fasilitas kepada clientnya berupa kantung sampah yang terbuat dari kain yang ramag lingkungan dan tentunya dapat di pakai kembali. Selesainya peserta mengunjungi serta mempelajari rumah oemulihan material, peserta juga berkesempatan mengujungi rumah kompos. Di rumah kompos ini, sampah organik dikelola untuk dijadikn kompos. Kompos yang ada disini, terdiri dari kompos konvesional, vermi composting, serta pestisida yng terbuat dari mikroorgnisme yang berbahan dasar tempe yang sudah busuk. Setelah itu peserta diberikan materi berupa materi AKABIS yang disampaikan oleh pihak Waste 4 change.

Penyampaian materi AKABIS dilakukan disalah satu fasilitas Waste 4 Change. Disana peserta diberikan pengetahuan lebih dalam lagi mengenai sumber sampah, apa saja dampak yang dapat diakibatkan oleh sampah yang tidak diolah terlebih dahulu, dan cara mengolah sampah tersebut agar tidak menjadi masalah di lingkungan. Kemudian kegiatan AKABIS ini kemudian diakhiri dengan diskusi singkat antar peserta dan pemateri yang membahas tentang pengolahan sampah di sekitar lingkungan masing-masing dan cara terbaik untuk menangani sampah tersebut.

Sebanyak 80 mahasiswa dan Tiga dosen pembimbing Jurusan Teknik Lingkungan, Univ. Bakrie mengunjungi Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Kunjungan ini merupakan bagian dari mata kuliah Teknik Lingkungan, Ibu Sirin, MSi, Dosen Univ. Bakrie menjelaskan “Kunjungan ini dimaksudkan agar mahasiswa tahu teknologi pascapanen Terkait dengan Nano Teknologi juga mesin-mesin Terutama yg terkait dengan Nano, yang digunakannya serta bagaimana cara kerjanya”.

Read more ...

Sistem pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dengan dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu, sistem yang didesain berdasarkan ilmu yang bisa dipelajari di program studi Teknik Lingkungan, Universitas Bakrie

Sri Bebassari

President of InSWA (Indonesia Solid Waste Association)

coming up event