fbpx

Ruwatan Negeri Spirit Kebangkitan Nasional 2015

Pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2015, Kaprodi Teknik Lingkungan Bapak Made Brunner menjadi salah satu narasumber dalam acara Ruwatan Negeri Spirit Kebangkitan Nasional 2015, Kearifan Lokal Budaya Menjaga Lingkungan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Galang Kemajuan (GK) Center, bertempat di Pelataran Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah. Pak Made dalam acara tersebut melakukan tanya jawab secara interaktif dengan sekitar 200-an pelajar SMA dari berbagai sekolah di Jakarta dan Bogor. Pada kesempatan tersebut, para pelajar mengatakan bahwa lingkungan kota kita sudah rusak yang diakibatkan oleh perilaku warganya. Mereka juga mengatakan bahwa sumber kerusakan diantaranya adalah: kebiasaan membuang sampah sembarangan, penghamburan penggunaan air bersih untuk kehidupan sehari-hari, serta penggunaan energi listrik yang boros.

Pak Made mengatakan bahwa perubahan perilaku harus berasal dari kita sendiri. Kita harus bertanggung jawab atas sampah yang kita timbulkan. Kita tidak bisa beranggapan bahwa akan ada orang lain yang akan memungut sampah kita sendiri. Kebiasaan menghemat air dapat dilakukan dengan menggunakan air bersih secara lebih efisien dalam setiap kesempatan. Mandi sebaiknya dilakukan dengan menghindari penggunaan gayung karena lebih banyak air yang terbuang daripada yang membersihkan badan kita. Pembatasan penggunaan air untuk bersuci, bagi umat Islam, dengan mengecilkan aliran air dari keran untuk berwudhu. Data dari penelitian di kampus Universitas Bakrie diketahui bahwa secara rata-rata penggunaan air wudhu adalah sekitar 3 liter perorang per satu kali bersuci. Sebenarnya, berwudhu dapat dilakukan secara sempurna hanya dengan menggunakan air kurang dari setengah liter. Bila hal ini dilakukan secara rutin maka kebiasaan untuk menggunakan air bersih untuk kegiatan sehari-hari lainnya juga dapat dihemat. Penggunaan listrik yang boros juga terjadi di lingkungan kita sendiri, seperti membiarkan lampu ruangan menyala walaupun tidak ada yang menggunakan ruangan tersebut, atau dengan mengatur suhu alat pengatur udara pada kisaran dibawah 25oC. Pak Made berpesan agar para siswa mau memberitahukan pihak sekolah masing-masing bahwa suhu alat pengatur udara cukup disetel pada 25oC yang mampu memberikan rasa nyaman namun tidak terlalu dingin. Suhu yang telalu dingin selain tidak efektif karena memaksa para pelajar untuk menggunakan jaket di ruangan kelas, juga menaikkan biaya penggunaan energi listrik. Pada akhir acara tersebut, seorang pelajar SMA menyatakan suatu komitmen yaitu akan menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Hal ini disambut oleh penyanyi Tasya Kamila dengan mengunggah foto diri bersama para narasumber, dan para pelajar SMA dan pengunjung lainnya di jaringan sosial media miliknya. Mau tahu apa yang dikatakan penyanyi yang ternyata adalah seorang duta lingkungan berkaitan dengan kegiatan kemarin? Coba simak cuitannya di akun instagram atau twitter-nya.