fbpx

Kesiapan Sektor Pariwisata Indonesia dalam Kompetisi di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Jakarta (20/4)-Bakrie Center Foundation (BCF) bekerjasama dengan Universitas Bakrie mengadakan acara Diskusi Terbuka yang bertajuk “Kesiapan Sektor Pariwisata Indonesia dalam Kompetisi di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” bertempat di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie, Rabu (20/4). Acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Bakrie serta jajaran pimpinan Universitas Bakrie.

 

Menghadirkan narasumber yang merupakan pakar dibidangnya diantaranya Kepala Sub Direktorat Kerjasama Ekonomi ASEAN, Dirjen Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Lingga Setiawan, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan-Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Prof Dr. H.M. Ahman Sya, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Bakrie Ir. Tri. Wismiarsi, M. Sc., Ph.D dan Presiden/CEO PATA, Indonesian Chapter Poernomo Siswoprasetijo.

Moderator yang memandu jalannya diskusi Teuku Rezasyah, Ph.D., Dekan dan Ketua Program Studi Hubungan Internaisonal President University menuturkan “Poin dari diskusi ini adalah bagaimana civitas akademika Universitas Bakrie dapat meraih manfaat untuk dapat bersaing dalam menghadapi MEA khususnya di bidang memajukan pariwisata di Indonesia” ujar Teuku sebelum mempersilahkan Narasumber, Lingga Setiawan untuk memaparkan materi kuliah umum.

Lingga menuturkan bahwa Kementerian Luar Negeri sangat mengapresiasi sambutan dari Universitas terhadap Sosialisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang menjadi program Kementerian Luar Negeri dalam paparannya, Lingga menyampaikan bahwa proses integrasi Ekonomi di negara ASEAN sebenarnya sudah lama, sejak tahun 1982. Puncaknya adalah pelaksanaan MEA 2015 ini. “Para pemimpin ASEAN sepakat untuk membangun pilar Ekonomi ASEAN yang menjadi MEA ini. Tak hanya pilar ekonomi yang dibangun, tetapi juga pilar politik dan sosial budaya” ungkap Lingga dalam paparannya.

Kemudian lanjut dia, ASEAN harus people centered, people oriented, termasuk di sektor pariwisata. Kemenlu harus memikirkan apa manfaatnya bagi rakyat Indonesia, tapi pada prinsipnya Kemenlu hanya memberikan advice kepada kementrian pariwisata dalam proses negosiasi tersebut. Memastikan cita-cita bersama tercapai. diantaranya yaitu kebijakan Nonsetting, yaitu bagaimana membuat kesepakatan mengenai jasa kepariwisataan, ditentukan sesuai dengan kemampuan kita yang pada pelaksanaannya tidak boleh melangkahi akad NKRI dan harus taat pada aturan-aturan yang berlaku.

Sementara itu Prof HM Amansyah mengatakan Bidang Pengembangan Kepariwisataan di Kementrian Pariwisata pada saat ini sedang mengembangkan health tourism, dari segi potensi Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, yaitu 17.540 pulau, 252 suku bangsa, 250 bahasa daerah, 7,5 km2 luas Negara dan pada tahun ini pemerintah memberikan anggaran yang cukup besar untuk sektor pariwisata sebesar 5,4 triliun dan pertumbuhan pariwisata 9,3% jauh diatas pertumbuhan ekonomi yang hanya 5,4%.

Menurut beliau, Indonesia masih belum maksimal dalam mengoptimalkan potensi pariwisata. Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya tantangan terbesar bagi Indonesia ada pada penguasaan bahasa asing, IT dan manajemen, sudah saatnya Indonesia bersanding dari segi kualitas bukan dari kuantitas.

Beliau mengingatkan kepada seluruh peserta yang hadir khususnya mahasiswa untuk jangan hanya berbangga jika menjadi turis di Negara asing karena siapalagi yang bisa mempromosikan Indonesia kalau bukan bangsanya sendiri. Beliau optimis Indonesia dapat meningkatkan kualitas dan daya saing, beberapa langkah strategis telah dilakukan diantaranya Sertifikasi SDM Pariwisata per tahun. Mensertifikasi lulusannya dengan standar ASEAN.

Dosen Manajemen Ibu Tri, mengatakan kelemahan Indonesia adalah pada infrastruktur, isu-isu keamanan, global warning, bencana alam. Sementara Pak Poernomo mengatakan mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk mengawasi anggaran promosi pariwisata apakah sudah tepat sasaran seperti apakah sudah ditujukan kepada komunitas yang tepat, apakah media yang digunakan sudah efektif dan monitoring bersama. Karena mengejar target wisatawan sebanyak 20 juta wisatawan di 2019/2020 merupakan kerja keras bersama termasuk perguruan tinggi. Kita harus bekerjasama untuk mendukung sektor pariwisata di Indonesia, mampu melihat peluang-peluang yg diciptakan oleh pemerintah untuk menciptakan destinasi wisata baru. Tantangan yg harus dipelajari termasuk added value-nya.

Sementara Wakil Rektor Non Akademik Universitas Bakrie Achmad Reza Widjaja, Ph.D.dalam sambutannya mengatakan diskusi ini dapat memberikan pencerahan kepada seluruh peserta yang hadir dan beliau memberikan tantangan kepada mahasiswa Universitas Bakrie untuk bisa menjadi duta-duta wisata di daerahnya masing-masing.