fbpx

Danida Fellowship Program on Corporate Social Reponsibility

Sebagai rangkaian kegiatan bantuan Pemerintah Denmark melalui Danish International Development Agency (DANIDA) kepada Universitas Bakrie, pada bulan Mei dan Juni tahun 2014 ini Universitas Bakrie mengirimkan dua orang dosen, masing-masing untuk mengikuti program pelatihan di Danida Fellowship Center (DFC), Copenhagen, Denmark.

Pelatihan tentang Green Energy and Low Carbon Development (GELCD) telah diselenggarakan pada tanggal 19 Mei - 6 Juni 2014 diikuti oleh Dosen Prodi Teknik Lingkungan, Deffi Ayu Puspito Sari, PhD . Sedangkan pelatihan tentang Corporate Social Responsibility (CSR) diselenggarakan pada tanggal 16 Juni - 4 Juli 2014 diikuti oleh Ketua LPkM-UB, Dr. Didit Herawan, MBA. Organisasi DFC telah ditunjuk oleh DANIDA sebagai penanggungjawab dan penyelenggara kegiatan pemberdayaan melalui riset dan pelatihan dalam berbagai sektor di negara berkembang. Kegiatan Internasional ini dirintis Pemerintah Denmark sejak tahun 1990 sebagai salah satu langkah partisipasi dalam mendukung pengembangan dunia yang bertanggungjawab dan berkelanjutan.


Pelatihan CSR diikuti oleh 20 peserta yang diseleksi dari berbagai negara berkembang yang mengajukan dan dibiayai sepenuhnya oleh Danida. Pelatihan dilaksanakan di dalam kawasan perusahaan GRONTMIJ N.V., salah satu perusahaan besar Eropa dalam bidang consulting dan engineering. Sebagai gambaran keberagaman peserta dan jumlah dari masing-masing negara adalah sebagai berikut: Indonesia 1, India 1, Ghana 3, Uganda 3, Bhutan 3, Bangladesh 3, Vietnam 3, Bolivia 1, Egypt 2. Peserta memiliki berbagai latar belakang yang sebagian besar mewakili private sector yang erat kaitannya dengan permasalahan tanggung jawab sosial dan human rights. Agenda kegiatan pelatihan terdiri dari pembelajaran, praktek pembuatan rencana dan kunjungan ke perusahaan-perusahaan di Denmark yang menerapkan CSR.

Pada minggu pertama yang baru saja dilalui, peserta dikenalkan pada latar belakang perkembangan CSR. Diawali dengan pembelajaran/pemahaman terhadap 48 human rights yang ada dalam International Bill of Human Rights 1976. Diikuti kemudian dengan pemahaman terhadap kesepakatan anggota United Nations pada human rights and business melalui penerbitan standar Social Accountability 8000 dan UN Global Compact di tahun 2000 sebagai acuan pemenuhan kelayakan dalam bekerja. Dan yang terakhir, dilengkapi dengan pemahaman terhadap UN Guiding Principles on Business and Human Rights tahun 2011. UN Guiding Principles ini menjelaskan pelaksanaan 10 prinsip tanggung jawab perusahaan dalam aspek keberlanjutan (sustainability) sosial atau people, keberlanjutan lingkungan atau planet, dan keberlanjutan ekonomi atau profit (sering diistilahkan sebagai triple bottom line: people, planet, and profit). Tujuan utama adalah untuk mencapai kegiatan usaha yang bertanggung jawab (responsible business). Kasus-kasus berbagai negara peserta dibahas dalam diskusi kelompok dilengkapi dengan pembahasan beberapa kasus yang diambil dari Harvard Business Case. Dunia pendidikan seperti universitas memang sedikit berbeda, seperti dijelaskan oleh fasilitator, karena dalam skema triple helix: government-business-university CSR lebih ditekankan pada sektor business. Namun demikian, meskipun universitas lebih diharapkan sebagai sumber penelitian, entitas ini juga dapat dipandang sebagai entitas bisnis atau usaha. Universitas Bakrie memiliki posisi yang unik karena merupakan lembaga pendidikan yang yang menjadi bagian dari suatu kelompok bisnis (Bakrie Group), sehingga memiliki peran yang lebih luas dalam kaitan CSR.

Sebagai agenda minggu kedua (23-27 Juni), peserta akan dibimbing untuk membuat action plan yang akan diterapkan di institusi masing-masing. Perkembangannya akan dimonitor oleh DFC dalam kurun waktu 6 bulan mendatang. Selaku Ketua LPkM-UB, saya menyiapkan usulan action plan yang mengutamakan pelaksanaan dharma pengabdian kepada masyarakat melalui kerjasama pelaksanaan CSR di Kelompok Usaha Bakrie dalam aspek rantai pasok yang berkelanjutan (sustainable supply chain). Melalui peran ini diharapkan para dosen (bersama mahasiswa) dapat mendukung penerapan CSR berbagai perusahaan Bakrie dalam bidang yang sesuai. Action Plan ini juga diselaraskan dengan usulan visi baru Universitas Bakrie yang mengutamakan “...strong industrial engagement through experiential learning”.


 

Pada minggu ke 2 (23-27 Juni 2014), pelaksanaan workshop Corporate Social Responsibity Danida Fellowship Program masih dilaksanakan di perusahaan GRONTMIJ, Copenhagen, Denmark. Kegiatan pelatihan ditekankan pada pemahaman hal-hal baru yang menunjang Rencana Kerja (action plan) 6 bulan ke depan dari masing-masing peserta. Pelajaran tambahan yang diberikan yakni: Business Impacts, Occupational Health and Safety, Stakeholder Dialogue, dan Communication Skills for Negotiation. Juga diberikan exposure visit atau sharing session dari dua perusahaan yang erat kaitannya dengan penerapan CSR, yakni: PANDORA dan DANWATCH. Beban bagi peserta semakin meningkat karena pada saat yang sama peserta harus menyelesaikan draft Rencana Kerja dan memperdalam pemahaman mengenai United Nations 48 human rights, United Nations Global Compacts, dan United Nations Guiding Principles. Dengan cuaca Denmark yang makin sering tidak bersahabat (dingin, mendung dan hujan rintik-rintik), yang saya rasakan adalah kelelahan dan kangen rumah.

Diskusi di kelas dengan Mohamed Yehia (Egypt) dan Jorge (Bolivia)

Pada sesi Business Impacts dijelaskan proses identifikasi, pengkategorian dan mitigasi risiko dalam konteks CSR. Dijelaskan juga oleh fasilitator Heidi Hjorth dan Rikke Carlsen tentang perangkat analitik yang dapat digunakan. Heidi dan Rikke adalah praktisi CSR di perusahaan Engineering & Consulting Grontmij. Pada sesi Occupational Health and Safety dijelaskan oleh Torben Bruun Hansen mengenai faktor-faktor kesehatan dan keamanan dalam bekerja yang perlu diketahui dan diterapkan sebagai bagian dari usaha untuk memperhatikan hak pekerja. Pada Stakeholder Dialogue dijelaskan oleh Rikke Carlsen mengenai identifikasi dan prioritasi pemangku kepentingan dalam CSR dan bagaimana sebaiknya dialog dilakukan untuk menjalin hubungan yang konstruktif. Sedangkan pada sesi Communication Skills for Negotiation, dijelaskan oleh Elizabeth Boye mengenai pentingnya aspek komunikasi untuk memastikan keberhasilan penerapan CSR. Selain komunikasi pada pelaksanaan kegiatan, komunikasi pada tingkat eksekutif juga sangat penting untuk memastikan adanya dukungan penuh dari pimpinan organisasi, pimpinan negara, bahkan pimpinan dunia. Implementasi CSR di tingkat Internasional saat ini masih lemah (belum menjadi keharusan), sehingga dihimbau agar setiap pihak yang peduli bekerja keras membantu mewujudkannya. Tujuan akhirnya adalah menjaga keberlanjutan organisasi melalui perhatian pada aspek triple bottom line: people, planet, profit.

Kunjungan dan diskusi di kantor LSM DANWATCH di Copenhagen

Dua organisasi yang dikenalkan pada peserta di minggu kedua ini adalah organisasi komersial (perusahaan) PANDORA, pembuat perhiasan wanita (jewelry) dan organisasi nirlaba (NGO) DANWATCH, organisasi jurnalistik yang menjalankan fungsi pengawasan sosial dalam pelaksanaan CSR perusahaan-perusa-haan Denmark. PANDORA didirikan oleh Per Enevoldsen dan isterinya Winnie pada tahun 1982 sebagai toko kecil penjual perhiasan di Copenhagen. Diawali dengan semangat sederhana ingin berbagi kreasi gelang yang dibuatnya ke masyarakat luas, Pandora kini telah menjadi usaha multinasional dengan 11 ribu karyawan. Pusat produksi Pandora berada di Thailand dengan memiliki sekitar 7 ribu karyawan. Pandora sejak 6 tahun terakhir aktif menerapkan CSR di semua proses dan kegiatan perusahaan, dan diyakini merupakan salah satu kunci suksesnya. Penerapan CSR di Pandora dilaporkan setiap tahun dalam bentuk laporan PANDORA Ethics. Sedangkan DANWATCH adalah organisasi kecil dengan jumlah anggota 10 orang yang memiliki minat pada jurnalisme dan memusatkan kegiatan mereka pada pengawasan penerapan CSR perusahaan-perusahaan Denmark yang beroperasi Internasional. Organisasi ini didirikan oleh beberapa lembaga nirlaba: The Danish Consumer Council, WWF, MS, DanChurchAid and Knud Foldschacks Solstice Foundation.

Sesi-sesi dalam pelatihan CSR yang diselenggarakan dalam program Danida banyak menekankan pada kesepakatan United Nations terhadap human rights, Social Accountability (SA) 8000, UN Global Compacts dan UN Guiding Principles. Namun kurang menjelaskan mengenai ISO 26000:2010 - Guidance to Social Responsibility yang terbit pada tahun 2010. Dokumen ISO ini bukan merupakan dasar atau persyaratan pemberian sertifikat, melainkan hanya petunjuk pelaksanaan. Menurut informasi yang diterima penulis, Kelompok Usaha Bakrie (KUB) selaku kelompok perusahaan yang besar saat ini telah menerapkan kaidah-kaidah CSR dalam kerangka ISO 26000. KUB pun memiliki “Social Responsibility Forum” sebagai wadah untuk mendiskusikan dan berbagi mengenai implementasi CSR di masing-masing anak perusahaan. Di sisi lain, bagi perguruan tinggi seperti Universitas Bakrie, ada peraturan yang bersifat tanggung jawab sosial dari DIKTI yang mewajibkan Dosen melaksanakan 3 sks untuk gabungan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penugasan khusus. Dengan adanya masing-masing tanggungjawab tersebut, ditambah hubungan antara Universitas Bakrie dan Kelompok Usaha Bakrie, maka ini menjadi keunggulan daya saing yang tidak banyak dimiliki oleh perguruan tinggi dan perusahaan di Indonesia. Sinergi diantara keduanya merupakan peluang untuk meningkatkan kinerja masing-masing. Setiap Program Studi di Universitas Bakrie diharapkan dapat bersinergi dengan Perusahan Bakrie dalam bidang yang terkait dan mengambil peran sebagai mitra implementasi CSR, UN Global Compact/SA8000 atau ISO 26000-nya. LPkM-UB akan membantu dan memfasilitasi terwujudnya sinergi ini sebagai visi LPkM dan Rencana Kerja yang segera ditambahkan. Semua tentu dengan tujuan sama untuk mencapai dan menjaga sustainability dari kegiatan Bakrie Group. Copenhagen, 30 Juni 2014 Didit Herawan


 

 

Gambar 1. Tampak atas UN City sebagai kantor pusat delapan agensi UN di Copenhagen, Denmark (sumber gambar dari website UN City) dan Deffi Ayu P.S, PhD di depan UN City.Gambar 1. Tampak atas UN City sebagai kantor pusat delapan agensi UN di Copenhagen, Denmark (sumber gambar dari website UN City) dan Deffi Ayu P.S, PhD di depan UN City.

Liputan kali ini merangkum perjalanan Deffi Ayu Puspito Sari, PhD yang mengikuti pelatihan bertema Green Energy and Low Carbon Development pada 19 Mei – 6 Juni 2014 yang lalu di Copenhagen, Denmark. Pelatihan yang diselenggarakan oleh United Nations Environment Programme (UNEP)RISO Centre ini dilaksanakan di lokasi kantor UNEP-RISO Centre yang baru yaitu di UN City. UN City adalah satu kompleks kantor pusat dari delapan agensi UN yang berbasis di Copenhagen, desain kompleks ini merupakan salah satu kompleks yang terdepan dalam konsep hijaunya dan telah mendapat penghargaan European Commission’s Green Building Award untuk bangunan baru.

Gambar 2 Suasana small group discussion pengembangan action plan Gambar 2 Suasana small group discussion pengembangan action plan

Diikuti enam negara (Indonesia, Kenya, Burkina Faso, Mesir, Pakistan, Colombia) dengan total 16 orang dengan berbagai latar belakang keahlian, peserta memiliki kesamaan minat yaitu pembangunan berkelanjutan berbasis pengembangan energi yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi. Perbedaan latar belakang pekerjaan selalu melengkapi dan meramaikan diskusi yang berlangsung. Peserta pelatihan terdiri dari wakil pemerintah pusat (2 orang), pemerintah daerah (4 orang), pengusaha (3 orang), akademik (1 orang), kedutaan (1 orang), perusahaan milik daerah (2 orang), konsultan arsitektur (1 orang) dan NGO (2 orang).

Jacob Høgh dari Danish Energy Association

Isu-isu yang dibahas kali ini mencakup peningkatan efisiensi energi, energi terbarukan dan pasar karbon baru dalam perdagangan pengurangan karbondioksida. Ide-ide baru dirangkum dan dikembangkan ke dalam rencana pengembangan bisnis yang disesuaikan dengan kerangka public-private partnership. Energi hijau yang berkontribusi terhadap low-carbon development seperti pemanfaatan teknologi-teknologi low-carbon yang secara komersial sangat memungkinkan untuk dikembangkan, bagaimana menggunakan carbon footprint sebagai marketing strategi, dan pembiayaan untuk investasi energi terbarukan juga turut dibahas. Selain aspek teknis, mekanisme pasar, makanisme kebijakan, mekanisme pembiayaan juga dibahas untuk memungkinkan seluruh peserta membangun kerangka kerja dan peluang bisnis yang berkaitan dengan suplai dan penggunaan energi hijau dan pengurangan karbondioksida.
Karen Holm Olsen, PhD membuka acara dengan memperkenalkan UNEP RISO Centre yang memiliki mandat untuk mendukung dan mempromosikan aktivitas-aktivitas UNEP khususnya di bidang energi dan perubahan iklim di negara berkembang. Peserta juga dibawa berkeliling kompleks UN City agar lebih familiar dengan lokasi. Kemudian Olsen juga mempresentasikan elemen-elemen Perjanjian Iklim untuk tahun 2015 serta tantangan yang dihadapi oleh dunia untuk mempertahankan rata-rata suhu pemanasan global dibawah 2 derajat. Hari pertama ditutup dengan dengan perkenalan masing-masing peserta dan diskusi menganai LCDS (Low Carbon Development Strategies), LEDS (Low-Emission Development Strategy) dan NAMA (Nationally Appropriate Mitigation Actions) di tiap negara peserta.

Deffi Ayu (tengah) bersama peserta pelatihan di Amager Resource Center (ARC) Deffi Ayu (tengah) bersama peserta pelatihan di Amager Resource Center (ARC)

Pada hari kedua, Ivan Nygaard, PhD memaparkan rencana dan strategi Denmark terkait energi: pada tahun 2050, sumber energi di Denmark akan sepenuhnya berasal dari sumber energi terbarukan. Rencana ambisius Pemerintah Denmark bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim dengan target zero carbon emission, meningkatkan ketersediaan suplai energi, dan menciptakan pasar rumah tangga bagi energi bersih terbarukan, seperti energi dari angin, biomassa, dan smart grid. Pada sesi selanjutnya, seluruh peserta mempresentasikan action plan yang sudah dikumpulkan dua minggu sebelum program dimulai. Kemudian tiap peserta diperkenalkan dengan reviewer masing masing dimana selama program berlangsung action plan tersebut dikembangkan bersama-sama.

Helen Lauritzen menjelaskan mengenai OPV Helen Lauritzen menjelaskan mengenai OPV

Pada hari ketiga, sesi menarik mengenai peluang bisnis dari pengembangan energi terbarukan disampaikan oleh Søren Lybecker, PhD. Selama sehari penuh, para peserta diajak untuk memikirkan dan merancang business model energi terbarukan masing-masing, yang diawali dari proses perancangan design thinking dan business model canvas. Business model yang telah dibuat oleh para peserta kemudian dievaluasi pada hari keempat. Kemudian, skema low carbon development menggunakan Public Private Partnership disampaikan oleh Carsten Glenting sebagai Project & Market Director of Energy Economics dari COWI salah satu perusahaan konsultan yang berpengalaman mengerjakan proyek-proyek green energi dengan skema PPP di Denmark maupun di beberapa negara berkembang.

Contoh polymer solar cells yang dibagikan kepada pesertaContoh polymer solar cells yang dibagikan kepada peserta

Pada hari kelima, para peserta diajak untuk ekskursi lapangan ke beberapa tempat dimana energi bersih terbarukan sudah diimplementasikan. Kunjungan pertama adalah ke Danish Energy Association (DEA). DEA merupakan suatu asosiasi yang bersifat profesional dan komersial untuk perusahaan-perusahaan energi di Denmark. Jacob Høgh dari DEA menjelaskan model efisiensi energi yang diterapkan oleh pemerintah untuk mendorong perusahaan-perusahaan listrik di Denmark mengurasi emisi. Høgh juga memberikan beberapa paparan mengenai penghargaan, manfaat dan tantangan dari DEA dalam usaha penghematan energi. Batec Solvarme A/S merupakan tempat kedua yang dikunjungi saat ekskursi lapangan. Perusahaan ini adalah pionir produsen penghangat air dari tenaga surya di Denmark.

Contoh polymer solar cells yang dibagikan kepada peserta

Para peserta juga diajak untuk meninjau proses produksi Batec Solvarme A/S. Kunci keberhasilan Batec Solvarme A/S untuk tetap bertahan dalam industri ini adalah terletak pada bagian pengembangan dan risetnya sehingga desain produk yang dipatenkan mampu mensuplai panas lebih cepat dan tahan lama dibanding competitor lain baik yang diproduksi dalam negeri maupun diluar negeri. Kunjungan terakhir adalah ke Amager Resource Center (ARC). ARC merupakan suatu perusahaan limbah dan energi yang dimiliki oleh lima kota di area Copenhagen. Saat ini, ARC telah mengoperasikan 13 stasiun daur ulang di komunitas lokal dengan insinerator. Pada kunjungan ini, para peserta diperkenalkan bagaimana penanganan limbah dilakukan dan dibiayai di Denmark. Penjelasan mengenai solusi teknologi yang telah diterapkan untuk penanganan limbah dari area Copenhagen serta penjelasan mengapa teknologi tersebut dapat dipilih juga termasuk dalam agenda kunjungan di ARC. Terakhir, para peserta berkeliling di instalasi penanganan limbah, yang di dalamnya termasuk instalasi insinerator dan biogas.

Ivan Nygaard memaparkan mengenai potensi limbah pertanian untuk biogasIvan Nygaard memaparkan mengenai potensi limbah pertanian untuk biogas

Minggu kedua pada pelatihan Green Energy and Low Carbon Development ini membahas dua tema utama: teknologi energi terbarukan dan kasus-kasus bisnis yang terkait, serta mekanisme pembayaran energi terbarukan atau climate financing. Pada hari pertama dan kedua yang khusus membahas tema pertama, Ivan Nygaard, PhD merupakan pemateri utama. Nygaard membuka pelatihan dengan penjelasan lebih dalam mengenai perencanaan energi di Denmark meliputi sumber energi nasional dan daerah. Sesi selanjutnya, masih oleh di hari pertama dipaparkan mengenai business cases pemanas air tenaga surya dan panel solar. Hanne Lauritzen dari Technical University of Denmark memperkenalkan Organic Photovoltaics (OPV), sebuah teknologi yang menjanjikan untuk masa depan dan berpotensi menjadi kekuatan riset dan pengembangan Denmark dalam bidang energi terbarukan. Solar laser pointer merupakan salah satu aplikasi dari OPV. Kemudian Jyoti Prasad Painuly sebagai ketua Energy Efficiency Hub UNEP-RISO Centre memberikan presentasi mengenai peran energi efisiensi dalam Green Energy Technologies and Markets.

Presentasi oleh Ulrich Elmer HansenPresentasi oleh Ulrich Elmer Hansen

Pada hari kedua, Nygaard memperkenalkan efisiensi energi dan business cases terkait serta latihan-latihan mengenai efisiensi energi. Di sesi selanjutnya, Nygaard memberikan contoh kasus biomassa dan biogas (misalnya dari limbah pertanian) untuk panas, power serta transportasi dan beberapa latihan untuk meninjau potensi sumber biomassa dan energi. Pertemuan hari kedua ditutup dengan presentasi dari Ulrich Elmer Hansen, PhD yang turut memberikan gambaran peluang dan tantangan dari instalasi tenaga biomassa skala besar. Hansen memberikan contoh kasus di China dan Malaysia.

Søren E. Lutken memberikan pelatihan skema pembiayaan energi dan iklimSøren E. Lutken memberikan pelatihan skema pembiayaan energi dan iklim

  Mekanisme pembayaran energi terbarukan khusus dibahas pada sisa minggu kedua. Søren E. Lutken merupakan pemateri utama dalam tema ini. Lubecker memberikan pengenalan kepada skema pembiayaan energi dan iklim. Pembiayaan proyek energi terbarukan, dalam hal ini adalah energi tenaga angin dijelaskan oleh Karl-Heinz Schulz. Schulz menyatakan, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam pembiayaan proyek energi terbarukan: kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan kredit bank. Di hari terakhir minggu kedua, pada sesi pertama Søren E. Lutken memberikan pelatihan mengenai environmental fiscal reform. Para peserta kemudian diminta untuk mempraktekkan prinsip ini pada kasus masing-masing yang akan dipresentasikan pada sesi berikutnya. Minggu kedua ditutup dengan presentasi dari Danish Energi Agency (DEA) mengenai program kesiapan pembiayaan (ADMIT ACTION) organisasi tersebut. Sesi ini juga diadakan paralel di Universitas Twente, Belanda.

Pelatihan oleh Karl-Heinz Schulz mengenai pembiayaan proyek energi terbarukan (studi kasus: energi angin)Pelatihan oleh Karl-Heinz Schulz mengenai pembiayaan proyek energi terbarukan (studi kasus: energi angin)

Pada minggu ketiga, pelatihan berfokus pada tema Low Carbon and Clean Enterprise Development oleh Joergen Fenhan dan Lawrence Agbemabiese dari University of Delaware, USA. Pada hari pertama dan kedua, Joergen Fenhan menjelaskan mengenai pasar karbon dunia serta seluk beluk dan proyek Clean Development Mechanism (CDM). Di hari ketiga dan keempat, Lawrence Agbemabiese memaparkan mengenai wirausaha dalam bidang energi bersih. Peserta diberikan latihan untuk membuat dan memelihara suatu pengembangan bisnis online. Di hari terahir pelatihan, para peserta mempresentasikan business plan final yang telah didiskusikan dan direvisi bersama para reviewer selama pelatihan berlangsung selama kurang lebih 3 minggu. Presentasi ini diikuti oleh acara penyerahan sertifikat dan perpisahan, yang menjadi penutup pada pelatihan Green Energy and Low Carbon Development.

Penerimaaan rombongan dari Indonesia di kedutaan Indonesia di Denmark Penerimaaan rombongan dari Indonesia di kedutaan Indonesia di Denmark

Rombongan tim Indonesia kali ini selain satu orang dosen Teknik Lingkungan Universitas Bakrie juga terdiri dari perwakilan kementerian ESDM pusat dan daerah, BAPPEDA Jawa Tengah, pengusaha dan konsultan arsitektur. Kami disambut baik oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu. diskusi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu. diskusi dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark dan Lituania Dr. Bomer Pasaribu.
Demikian liputan perjalanan salah satu dosen TLK, Deffi Ayu Puspito Sari, PhD dalam pelatihan Green Energy and Low Carbon Development di Copenhagen, Denmark. Semoga hasil pelatihan dapat memberikan manfaat bagi civitas akademika Universitas Bakrie dan tentunya, Indonesia. Bila ada yang tertarik mengenai materi pelatihan ini, dapat menghubungi langsung Deffi Ayu Puspito Sari PhD ( Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.), anytime!