Mungkin kebanyakan dari kita hanya mengetahui permukaannya saja mengenai Human Resources atau biasa disebut dengan HR. Departemen yang biasa mengurusi SDM di perusahaan ini, ternyata banyak yang perlu dilakukan untuk membuat performa perusahaan bisa berjalan dengan maksimal. Kegiatan HR yang terintegrasi itu dikupas satu per satu pada Senin, 16 Mei 2016 oleh Sri Utami Wati, yaitu Head of Human Capital and General Affairs Garuda Food. Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Universitas Bakrie yang bertujuan untuk memberikan wawasan  kepada mahasiswa yang real dari praktisi langsung mengenai HR Role as Leadership Developement Fascilitator.

Sri Wati Utami menjelaskan bahwa ketika bekerja perlu adanya Human Capital Framework yang mana didalamnya ada organization Development, reward management, industrial management dan personnel management. Yang mana dalam pelaksanaannya dipengaruhi juga oleh corporate culture.

Culture atau budaya adalah sesuatu yang berefek pada performa perusahaan. Dimana culture itu juga memiliki layer. Dimana pada layer pertama paling dasar adalah basic assumption. Yang dimaksud layer basic assumption, yaitu organisasi ingin dibentuk seperti apa dan ingin dilihat seperti apa. Selanjutnya value, lalu basic ethic. Ditahap berikutnya ada informal routes , system, process, behavior dan symbol yang akan membentuk budaya perusahaan.

Selama guest lecture berlangsung ternyata mengundang antusias dari beberapa mahasiswa untuk menanyakan beberapa hal kepada Head of Human Capital and General Affairs Garuda Food tersebut. Salah satunya Sadam mahasiswa manajemen 2015 yang menanyakan komptensi apa yang harus dimiliki oleh seorang praktisi HR. Sri Utami Wati menjawab, bahwa ada tiga hal yang perlu dimiliki oleh praktisi HR, yaitu integritas, ketertarikan membantu orang lain dan paham dimana bisnis pekerjaan kita berjalan.

Disela-sela menjawab pertanyaan dari beberapa mahasiswa, Sri Utami Wati juga menjelaskan bahwa praktisi HR harus pandai melihat KPI (key performance indicator) dari tiap divisi agar tidak saling menjatuhkan atau memberatkan. Sehingga program dan KPI yang dibuat harus align.