fbpx

Playable Kids Sukses Unjuk Gigi di Tech in Asia Singapore

Playable Kids, platform edutainment yang dibangun Muhammad Rifaldi, mahasiswa program studi Manajemen Universitas Bakrie angkatan 2015 berhasil terpilih menjadi satu diantara tujuh peserta program batch ke-4 pengembangan bisnis dari GnB Accelerator di Jakarta melalui program yang dibuatnya, Playable Kids.  Muhammad Rifaldi, Founder dan CEO dari Playable Kids tersebut menandatangi perjanjian dengan GnB Accelerator dan Fenox Venture Capital pada tanggal 28 Juni 2018 lalu setelah Playable Kids turut serta dalam pameran dan presentasi di ajang Tech in Asia Singapore pada tanggal 15-16 Mei 2018.

Muhammad Rifaldi membuat startup sejak tahun 2017 setelah dari Kementerian Ristekdikti mendapatkan pelatihan dan coaching yang akhirnya memutuskan Rifaldi untuk fokus ke bidang yang market-nya lebih besar karena pada tahun 2017 tersebut Rifaldi mulai mengadakan riset market untuk startup yang dibangunnya tersebut. Pada tahun 2018 nama Playable kemudian ditambahkan menjadi Playable Kids supaya lebih fokus kepada program anak berdasarkan hasil riset yang sudah dilakukan sebelumnya. Playable Kids sendiri akan launching pada September 2018 mendatang.

Playable Kids merupakan sebuah konten edutainment sehingga menyediakan konten edukatif untuk anak-anak yang didalamnya ada beberapa fitur yang dapat dinikmati oleh anak-anak, Untuk B2C nya, Playable Kids menjadikan fitur parental control yang didalamnya orang tua dapat mengontrol aktivitas anaknya didalam smartphone yang ada di dalam Playable Kids tersebut. Fitur yang ada di Playable Kids antara lain video, konten belajar, dan games sehingga nantinya orang tua mendapatkan laporan mengenai perkembangan anaknya. Misal tahapan anak dalam menyelesaikan games edukasi sudah sejauh mana sehingga orang tua dapat mengontrol anak walaupun dalam sebuah game tersebut. Dalam parental control tersebut, anak-anak juga memiliki waktu bermain. Rifaldi tidak ingin membuat sebuah game yang hanya dinikmati anak-anak dan membuat ketagihan sehingga bisa lupa makan dan lupa belajar, maka dari itu Rifaldi menyisipkan fitur Parental Control untuk orang tua agar dapat membuat batasan terhadap kontrol anaknya dalam bermain game.

Untuk B2B nya, Playable Kids membuat sebuah fitur management school, jadi Playable Kids bekerja sama dengan TK-TK yang ada di Jakarta dan Bandung yang rencananya akan ada 20 TK yang akan diuji coba pada bulan September yang akan datang. Sehingga nantinya orang tua mendapatkan laporan mengenai perkembangan anak di sekolah melalui rapor, pembelajarannya, absensinya, bahkan untuk gizinya.

Rifaldi memaparkan mengenai alasan dibuatnya kedua fitur tersebut

“Kenapa kita membuat fitur ini? Antara parental control dan management school, karena permasalahan terbesar yang kita amati dari riset yang kita lakukan itu 60% kegagalan pendidikan di sekolah itu karena tidak ada pendidikan di rumah. Jadi butuh ada jembatan disitu sebenernya. Supaya sekolah yang sudah capek-capek mendidik sekitar ya mungkin 4 jam - 6 jam ada aktivitas bermain, belajar, dan segala macemnya sisa waktu yang habis ini bisa juga dikontrol sama orang tua makanya di parental control ini kita juga mengedukasi orang tuanya supaya juga bisa mendidik. Jadi itu juga ada di aplikasi Playable Kids. Sehingga target audiens luas bisa ke orang tua, anak kecil, guru TK” Ujar Rifaldi.

Kegelisahannya terhadap anak kecil yang sudah kecanduan handphone dan orang tua milenial yang sudah sibuk dan memberikan handphone kepada anaknya lah yang membuat Rifaldi bergerak membuat konten untuk anak. Menurutnya, hal tersebut menjadi sebuah permasalahan besar untuk anak karena tidak semua platform di Internet menyediakan konten khusus anak dan terbuka untuk umum sehingga tidak ada batasan untuk anak dapat melihat konten yang tidak sesuai dengan usia nya sehingga dibutuhkan platform dimana orang tua juga bisa kontrol anak nya ketika bermain handphone dan konten tersebut aman untuk anak.

Menurut Rifaldi, ada satu pembelajatan penting di tahun 2017 setelah coaching di UBPreneur bahwa kita harus mensinkronkan dari apa yang kita mampu dan dimana kelebihan dari diri kita. Menurutnya, hal itulah yang membuat di tahun 2018 ini Playable bisa mendapatkan funding.

Peran serta Program Studi Manajemen Universitas Bakrie dalam pembuatan Playable Kids tentu sangat besar. Rifaldi mengatakan bahwa hal yang paling berkesan adalah mendapatkan mata kuliah yang didalamnya diajarkan mengenai business model canvas. Model bisnis itulah yang membuat Playable Kids bisa bertahan. Dalam Program Studi Manajemen Universitas Bakrie diajarkan banyak bagaimana membuat suatu konsep yang tersistem dan termanajemen. Menurutnya, Program Studi Manajemen Universitas Bakrie menanamkan prinsip bahwa konseptual bentuk tertulis juga penting dan tingkat keberhasilannya 50% sehingga apabila konsepnya bagus maka tahapan selanjutnya akan lebih mudah untuk dijalankan.

“Jadi kalau dulu itu buat aja dulu baru mikirin market-nya nah itu salah. Pengetahuan-pengetahuan yang saya dapat seperti itu dari saya belajar di Program Studi Manajemen Universitas Bakrie dan juga melalui bimbingan di UBPreneur” Ujar Rifaldi.

Rifaldi menambahkan bahwa mahasiswa Universitas Bakrie terutama Program Studi Manajemen memiliki potensi besar untuk bisa membangun usahanya sendiri karena dibekali dengan materi-materi yang memang dibutuhkan dalam membangun sebuah perusahaan sendiri, selain itu mahasiswa Universitas Bakrie juga memiliki energi yang positif salah satunya dibuktikan dengan aktifnya mahasiswa berorganisasi di kampus tinggal bagaimana caranya mahasiswa dapat mengambil peluang yang ada untuk giat dalam membangun perusahaannya sendiri. Rifaldi juga mengajak generasi muda lainya untuk memanfaatkan berbagai peluang yang ada.