fbpx

Kuliah dari KaProdi TLK di Seminar Internal Bulanan UB

Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie, Bapak I. Made I. Marcus Brunner memberikan seminar dalam acara Seminar Internal Bulanan, Senin, 1 April 2013. Seminar internal ini bertempat di Ruang 4, Kampus Universitas Bakrie dari jam 10.00 sampai jam 11.00.

Bapak Made, panggilan akrab dari KaProdi TLK, memberikan seminar yang berjudul Kajian Geospasial Dampak Emisi PLTU pada Masyarakat Sekitar Tapak Kegiatan. Pelaksanaan seminar merupakan bagian dari kegiatan diseminasikan hasil penelitian dosen-dosen UB. Selama kurang lebih satu jam, Pak Made memaparkan mengenai latar belakang penelitian serta kekurangan dan kelebihan dari metode geospasial yang Beliau gunakan dalam penelitian. Beliau mencontohkan daerah bagian utara Provinsi Banten dimana disana terdapat suatu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Penggunaan batu bara pada pembangkit berpotensi menghasilkan berbagai macam emisi, khususnya sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx) dan particulate matter berdiameter <10 mikrometer (PM10). Sulfur oksida dan nitrogen oksida merupakan polutan utama yang dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. PLTU ini berada pada kawasan padat penduduk. Oleh karena itu, masyarakat sekitar tapak kegiatan merupakan orang-orang yang akan terkena dampak langsung dari emisi yang disebabkan oleh PLTU. Kemudian Pak Made mengajukan pertanyaan, dapatkah kita mengetahui secara detail daerah atau desa mana yang benar-benar terkena dampak dari kegiatan PLTU? Daerah yang berada di area PLTU merupakan daerah dengan persebaran penduduk tidak merata. Bila kita secara kasar menghitung kepadatan penduduk yang terkena dampak dari PLTU dengan data yang ada, kemungkinan kita akan mendapatkan data yang tidak akurat. Secara data, data yang diperoleh dari pihak desa sampai kecamatan bukanlah data yang mendetail, seperti jumlah rumah yang berada di desa tertentu pada suatu kecamatan. Oleh karena itu, Pak Made menggunakan pendekatan geospasial dengan software Geographic Information System (GIS) untuk memetakan dengan lebih akurat berapa jumlah penduduk yang terkena dampak dari kegiatan PLTU. Rumah-rumah penduduk pada peta diolah dengan metode titik untuk memetakan rumah yang berada pada area yang terkena dampak langsung PLTU. Kemudian metode grid digunakan untuk menyatukan kembali titik-titik rumah tersebut dalam suatu grid untuk melihat pada grid mana rumah dengan kondisi demografi penduduk tertentu mana yang lebih rentan terhadap dampak dari PLTU. Dari sinilah, dapat menjadi dasar keputusan untuk menentukan tempat untuk membuat tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar PLTU.

 

Gambar 2 Suasana seminar internal bulan April

Dari seminar Pak Made, terlihat bahwa kajian geospasial sangat potensial untuk menjadi alternatif metode untuk penyelesaian berbagai kasus. Kajian geospasial mampu membuat suatu data yang ada menjadi lebih berbicara. Keterbatasan data di Indonesia pun dapat dibantu dengan kajian geospasial, dalam hal ini software GIS. Diharapkan, partisipasi sesama dosen UB dapat menyebarluasan hasil penelitian dan memberikan masukan bagi para dosen yang terlibat dalam penelitian.