Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie mengadakan Field Visit dan Gathering Goes to Pari pada Kamis dan Jumat (10-11/05/18). Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh Keluarga Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie (KMTL-UB) bersama Sirin Fairus, STP, MT selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie dan Diki Surya Irawan, ST., MSi selaku perwakilan dosen.

Field visit ini disambut hangat oleh tim LPKSDM Oseanografi LIPI dan juga narasumber yaitu Prof. Sam Wouthuyzen. Dalam materi tersebut, peserta diberikan edukasi mengenai Pendidikan Lingkungan Pesisir (Plesir) Bidang Mangrove. Tidak hanya diberikan materi, namun peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung menanam mangrove sebagai wujud mencintai dan melestarikan lingkungan pesisir.

Indonesia memiliki wilayah mangrove tertinggi di dunia (27%) dan di Asia Tenggara (75%) yaitu sekitar 3.2 juta hektar dengan keanekaragaman hayati tinggi yaitu 202 spesies (92 mangrove sejati). Dan salah satu penyumbangnya adalah Pulau Pari.

Pulau Pari memiliki 3 ekosistem tropika yang lengkap, seperti Mangrove, Padang Lamun dan Terumbu Karang yang merupakan terlengkap di gugusan Kepulauan Seribu. Sehingga ekosistem ini berkontribusi memberikan barang dan layanan lingkungan (Goods and Services).
Barang (Goods) yang disumbang Pulau Pari ialah ikan,kerang, dan rumput laut. Untuk jasa lingkungan (Environment Services) yang disumbang Pulau Pari ialah wisata bahari (snorkling, squba diving) dan Daerah Penelitian Peningkatan Kompetensi Kelautan.

Pulau Pari menghadapi tekanan lingkungan berat lebih yang disebabkan karena keanekaragaman hayati yang ada di Pulai Pari dari 30 tahun. Tekanan dari luar seperti pencemaran dari air di sekitarnya hidro karbon / minyak / tar ball, logam berat, sampah, eutrofikasi, muntahan alga yang berbahaya, massive fish kill, sedimentasi berat, bakteri, dan pengembangan wilayah pesisir tidak ramah lingkungan dari perairan sekitarnya, seperti Teluk Jakarta dan daratan Pulau Jawa. Sedangkan tekanan dari dalam seperti pertumbuhan penduduk, pemanfaatan sumber daya hayati laut, berkembangnya pariwisata bahari yang menyebabkan degradasi ekosistem dan penurunan sumber daya hayati pesisir. Oleh Karena itu, ekosistem dan sumber daya hayati pesisir (SDHP) harus dikelola secara berkelanjutan. Salah satu caranya ialah dengan mendirikan Daerah Perlindungan Laut (DPL atau Marine Sanctuary atau No Take Zone) untuk mengkonservasi SDHP yang telah tereskploitasi sejak awal tahun 1980an. Strategi ini sejalan dengan target KKP untuk mendirikan 20 juta ha DPL, baik berukuran besar (Taman Nasional), Juga yang berukuran kecil, seperti co-management, dan DPL Tradisional (sasi).

Ekosistem yang berada di Pulai Pari pada tahun 2015 cenderung menurun seperti kondisi lamun dan koral yang mayoritas telah rusak walaupun mangrove kondisinya masih dalam keadaan baik. Kondisi biota di Pulau Pari semakin berkurang karena diambil setiap harinya oleh warga lokal. Lamun yang berada di Pulau Pari yang mulanya menjadi primadona bagi penduduk Pulau Pari, kini sudah tidak bisa diakukan lagi mengingat kondisi perairannya yang sudah tercemar limbah. Adanya objek wisata Pantai Perawan yang dikelola oleh penduduk Pulau Pari menjadikan roda ekonomi kembali berputar bahkan menambah pamor Pulau Pari sebagai daerah tujuan wisata sehingga tidaklah heran apabila setiap akhir pekan Pulau Pari selalu ramai dikunjungi para wisatawan yang umumnya berasal dari Jakarta. Oleh karena itu, keindahan dan kelestarian Pantai Perawan dan Pulau Pari perlu terus dijaga bersama-sama.

Kegiatan ini tidak hanya field visit, namun Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie juga mengadakan gathering yang bertujuan untuk mempererat hubungan KMTL-UB dan para dosen

Sehingga dengan adanya kegiatan yang berlangsung di Pulau Pari ini bertujuan untuk memberikan pengalaman dan menambah wawasan mahasiswa mengenai lingkungan pesisir bidang mangrove serta praktik langsung menanam mangrove. Hal ini tentunya dilaksanakan untuk menerapkan metode pembelajaran yang ada di Universitas Bakrie, Experiential Learning, dimana mahasiswa bisa merasakan pengalaman terjun langsung pada masyarakat dan dunia kerja sesuai dengan tagline Universitas Bakrie yaitu Experience The Real Things.

Salam Lestari.

Sistem pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dengan dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu, sistem yang didesain berdasarkan ilmu yang bisa dipelajari di program studi Teknik Lingkungan, Universitas Bakrie

Sri Bebassari

President of InSWA (Indonesia Solid Waste Association)

coming up event