fbpx

KBRN, Indramayu : Cangkang rajungan yang selama ini dibuang sebagai limbah, ternyata bisa diolah menjadi bahan Kitin dan Kitosan yang bermanfaat besar dan bernilai jual tinggi. Kitin dan Kitosan tersebut digunakan sebagai bahan dasar nutrisi pangan, obat dan kosmetika,

bahkan untuk kebutuhan pertanian sebagai pupuk dan lingkungan sebagai penjernih air.  Demikian disampaikan Aqil Azizi P.Hd Ketua tim program pengabdian masyarakat Universitas Bakri Jakarta juga sebagai Kepala Program Studi Teknik Lingkungan dalam sosialisasi Pemanfaatan Limbah Cangkang Rajungan Sebagai Bahan Kitin dan Kitosan, di Purchasing Crap Unit Eretan "Atul Gemilang", Indramayu, Rabu (24/7/2019).

"Cangkang rajungan yang biasanya dibuang, malah terkadang dibuang begitu saja di sungai, jika diolah dengan cara digiling manfaatnya bisa menjadi bahan kitin dan kitosan untuk kebutuhan nutrisi pangan, farmasi dan biomedis, lingkungan dan pertanian," papar Aqil Azizi dalam kegiatan sosialisasi yang diikuti puluhan nelayan dan para istri nelayan desa Eretan Kulon Kertawinangun Kec Kandanghaur Kabupaten Indramayu.  Dikatakan, untuk mengolah limbah atau cangkang rajungan itu, bisa dilakukan dengan mudah, yakni ditumbuk atau digiling dengan mesin. Cangkang rajungan, sebelumnya dibersihkan kemudian dikeringkan dengan sinar matahari. Jika sudah menjadi serbuk halus dan diproses, lanjut Aqil, maka limbah rajungan ini akan menjadi bahan Kitin dan Kitosin yang nilai jualnya tinggi, mencapai Rp300 ribu dan Rp500 ribu per Kg.

"Nilai ekonomis menjadi berlipat ganda. Makanya program pengabdian masyarakat dari hasil penelitian kami ini diharapkan bisa memberikan nilai tambah hasil laut  bagi kalangan nelayan," ujarnya.
Dipilihnya lokasi Eretan Kertawinangun Kandanghaur Indramayu dalam kegiatan pengembangan dan diversifikasi usaha hasil laut itu karena potensinya besar dan terdapat usaha pengolah daging rajungan yang di eksport.
"Pelaku UMKM rajungan disini merupakan mitra kami dan akan kami hubungkan dengan investor yang siap mendirikan perusahaan Kitin dan Kitosin di Cirebon," tambah Aqil.
Sementara pelaku usaha pengolah rajungan setempat H.Casmadi sangat mengapresiasi program pengabdian masyarakat untuk pemanfaatan cangkang rajungan dari Universitas Bakri tersebut.
"Harapannya ya langsung segera produksi karena bahan baku ada, cangkang rajungan melimpah berkarung-karung," tandasnya.

 

Sistem pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dengan dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu, sistem yang didesain berdasarkan ilmu yang bisa dipelajari di program studi Teknik Lingkungan, Universitas Bakrie

Sri Bebassari

President of InSWA (Indonesia Solid Waste Association)

coming up event