Pada hari Sabtu, 30 Maret 2013, dosen-dosen Teknik Lingkungan Universitas Bakrie menghadiri Seminar Sehari Air Sedunia XXI “Perubahan Iklim, Konservasi Lahan Serta Ancaman Banjir & ROB di DKI Jakarta”. Seminar ini bertempat di Aula Barat ITB. Seminar yang diikuti oleh ± 350 orang peserta yang berasal di antaranya dari lembaga pada tataran kementerian, pusat dan daerah), akademisi (dosen dan mahasiswa), stake holder terkait serta masyarakat pemerhati lingkungan.

Seminar ini menampilkan 22 orang pembicara yang terbagi atas beberapa kelompok materi, yakni: Keynote Speech, Invited Speech, kelompok materi Ancaman Banjir & Rob di DKI Jakarta, kelompok materi Pengendalian Kawasan Terbangun, kelompok materi Rekayasa Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi dan kelompok materi Air Minum, Subsidens & Pengendalian Banjir & Rob. Selama sehari penuh, pembicara membahas mengenai berbagai permasalahan yang terdapat di DKI Jakarta berkaitan dengan perubahan iklim, konservasi lahan, pengelolaan banjir dan rob serta pengelolaan sumber daya air. Peserta pun terlihat sangat aktif memberikan pertanyaan dan berdiskusi dengan pembicara yang ada. Salah satu masalah di DKI Jakarta yang dibahas dalam seminar sehari ini adalah mengenai konversi lahan. Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan ini telah memicu terjadinya perubahan/konversi lahan baik itu di bagian hulu maupun hilir kawasan. Peningkatan luas genangan banjir di kawasan pesisir Jakarta tidak lepas dari laju degradasi lahan di DAS bermuara di Teluk Jakarta antara lain DAS Ciliwung hulu –Bopuncur; terjadinya konversi lahan suksesif mengakibatkan limpasan air permukaan semakin tinggi dan debit aliran dasar semakin kecil. Meluasnya dampak banjir dan Rob telah mempengaruhi kehidupan masyarakat di bidang sosial, ekonomi dan budaya. Ha lini tercermin dari indeks ketahanan nasional DKI Jakarta termasuk pada kategori rawan. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya yang bersifat segera, terencana, terukur dan berkesinambungan.Selain itu, yang menjadi perhatian adalah fenomena land-subsidence dan intrusi air laut karena turunnya muka air tanah yang sangat cepat akibat penggunaan air tanah yang tidak terkendali di wilayah DKI Jakarta.Kelembagaan dan peraturan perundangan yang diperlukan dalam penanganan permasalahan banjir dan rob sudah cukup banyak. Namun dalam implementasinya belum terintegrasi secara dan penegakan hukum masih lemah. Melihat berbagai permasalahan tersebut, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan, yaitu dengan pendekatan engineering/structural dan non-engineering/non-structural. Secara engineering/structural, selain tindakan pada pengendalian banjir juga dalam disertai pencegahan timbulnya sumber permasalahan. Contohnya dengan substitusi air tanah dengan air permukaan, revitalisasi sistem utama pengendalian banjir (sungai, waduk dan floodway), revitalisasi sistem drainase di DKI Jakarta dan revitalisasi pengendalian air di kawasan Bopuncur dengan penerapan lebih luas drainase eco-friendly di kawasan terbangun, dan pencegahan pencemaran kualitas air di badan air dengan pengendalian effluen dan sampah dari aktifitas kawasan budidaya. Sedangkan secara non-engineering/non-structural dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dalam upaya konservasi secara berkelanjutan dan menjaga kerusakan DAS atau daerah imbuhan, dengan memperhatikan keadaan sosial, ekonomi dan budaya serta kearifan lokal. Penerapan aturan mengenai hal tersebut secara tegas dan konsisten. Dalam rapat pleno, dinyatakan urgensi untuk  menyusun rencana tindak lanjut yang dengan jelas merumuskan secara detail langkah-langkah taktis dan strategis implementasinya. Oleh karena itu, akan dibentuk suatu tim yang akan dikoordinasikan antara pihak akademisi (ITB Bandung) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta pihak-pihak lainnya yang terlibat.

 


Gambar 2 Para pembicara di Seminar Sehari Air Sedunia XXI “Perubahan Iklim, Konservasi Lahan Serta Ancaman Banjir & ROB di DKI Jakarta”.