fbpx

Jakarta-(30/11) Program studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie melaksanakan field visit (kunjungan lapangan) merupakan bentuk implementasi dari experience the real things di Universitas Bakrie. Kegiatan ini mengajak mahasiswa untuk memahami bagaimana penerapan teori yang dipelajari di kelas dalam praktik kerja nyata di lapangan. Kunjungan ini dilakukan ke PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan TPS 3R.

Pertama, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie angkatan 2014 dan 2016 mengunjungi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Citeureup, Bogor, yang merupakan salah satu pabrik produsen yang memproduksi semen putih sebagai kebutuhan bangunan yang berstruktur tinggi di Indonesia

[hmyt width = "500" height="300"]https://www.youtube.com/watch?v=-83b4A5uBmE&t=3s[/hmyt]

Tak hanya mendapatkan pembekalan materi, mahasiswa juga dipandu untuk melihat dan mengamati unit-unit dalam proses pembuatan semen. Dalam proses perindustrian ini, PT Indocement Tunggal Prakarsa memaparkan "Pembangunan Berkelanjutan" yang ramah lingkungan yang sejalan dengan misi perusahaan.

Pembangunan berkelanjutan menerapkan budidaya jarak pagar di lahan bekas tambang, budidaya ini sangat bermanfaat bagi warga dalam mengurangi angka pengangguran dan bermanfaat bagi perusahaan dalam mendapatkan hasil dari budidaya ini. Selain itu, ada juga pengolahan sampah menjadi energi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi alternatif seperti biogas atau biodiesel. Pengembangan energi alternatif ini bisa menggunakan batok kelapa, kulit beras, ban, minyak, debu dan sampah.

Pabrik ini pun melakukan pengurangan gas CO2 dengan cara penggabungan dari landfill/open burning dengan cement plant. Selain itu, melakukan pengolahan air sehingga dapat dipakai kembali. Oleh karena itu, PT Indocement ini memiliki 0% limbah cair dan hanya menghasilkan limbah emisi.

Pada proses pembuatan semen, semua kegiatan yang dilakukan sudah dihitung AMDALnya untuk memperkirakan dampaknya. Seperti halnya, debu yang bisa saja beterbangan menjadi tidak beterbangan karena debu ini ditangkap oleh mesin berkekuatan tinggi. Lalu, debu ini juga diolah agar dapat dijual dan tidak merugikan perusahaan. Selain itu, kemasan pasir semen tiga roda pun sudah dipertimbangkan agar dapat didaur ulang sehingga tidak menetap seperti plastik yang akan menyebabkan gangguan pada lingkungan.

Pabrik ini menjadikan sampah warga sebagai alternatif bahan bakar untuk memproduksi dan menjalankan mesin-mesin pembuat semen yang ramah lingkungan, sehingga sisa debu produksi semen keluar seutuhnya. Adapun penangkapan debu agar tidak keluar dan beterbangan menggunakan EP (Electrostatic Precipitator) dan Bag Filter.

Kunjungan Kedua, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie angkatan 2013, 2014 dan 2016 melanjutkan dengan kunjungan ke TPS 3R di Rawasari, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat. TPS yang menggunakan 3R (reuse, reduce dan recyle). TPS 3R yang dibangun pada tahun 2000 ini, menerima puluhan ton sampah dari masyarakat sekitar lalu mencacah sampah tersebut untuk didiamkan selama 21 hari dan akhirnya seperti terbakar sendiri. Pengomposan yang dilakukan ini sangat terpadu hingga sampah yang diolah seperti pasir dan tidak berbau.

Pemaparan yang disampaikan dari kedua tempat yang telah dikunjungi oleh program studi Teknik Lingkungan ini memberikan gambaran proses pelaksanaan di lapangan terkait materi yang sedang dipelajari di kelas. Kegiatan ini juga meningkatkan antusias bagi mahasiswa dalam menganalisa dan mendalami materi yang sedang dipelajarinya untuk mendapatkan pemahaman yang baik.