fbpx

Jakarta-(23/05) Program studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie mengunjungi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan ini berlangsung untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas.

[hmyt width = "700" height="400"]https://www.youtube.com/watch?v=fqwHzyajB4I[/hmyt] 

Soal belajar tidak melulu di dalam ruangan, mahasiswa juga perlu mengeksplorasi cara belajar dengan suasana baru. Salah satunya dengan mengunjungi kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dalam kunjungan kali ini, mahasiswa teknik lingkungan mendapatkan materi baru mengenai “Pengelolaan Lingkungan dan Isu Lingkungan Terkini” Oleh Bapak Bapak Sigit Reliantoro selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL).

Pembahasan ini terkait Isu lingkungan di indonesia, sama halnya dengan isu lingkungan global pencemaran udara, krisis energi, krisis air, perubahan iklim, deforestrasi, kerusakan keanekaragaman hayati dan tata guna lahan, percemaran bahan beracun dan logam berat, pengelolaan sampah dan kerusakan serta pencemaran laut. adapun isu kerusakan ekosisistem gambut merupakan isu spesifik di indonesia.

Menurut salah satu ahli¸ Garrett Hardin mengungkapkan Isu lingkungan terjadi mengikuti pola the tragedy of the commons.

Pengelolaan lingkungan hidup secara konvensional dilakukan dengan pendekatan regulasi pemerintah dan mekanisme pasar. Trend juga menunjukkan pengelolaan berbasis masyarakat lokal lebih berhasil menjaga lingkungan hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Mengenai pembangunan berkelanjutan, Bapak Sigit juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut lebih menekankan pada penegakkan etika, regenerasi moral capital dibanding pendekatan teknis. Selain itu, perubahan perilaku kearah perilaku ramah lingkungan perlu dilakukan untuk mengatasi isu-isu lingkungan.

Pola pendekatan ini memerlukan pemimpin perubahan yang berpikir secara global namun bertindak secara lokal. Bapak Sigit juga menambahkan,”regenerasi pola etika, kemudian etikanya selalu diperbaiki dan kalau ada yang salah kita ada kapasitas untuk memperbaiki, nggak perlu jadi presiden tapi jika di lingkungan sekitar sudah menjadi champion-champion yah sebetulnya itu pemimpin sejati”.

Selain belajar masalah teknis, belajar untuk membuat pola pikir menjadi efisien dan menjadi lebih mudah dalam mencari solusi, akan tetapi yang lebih penting ketika belajar soft skill merupakan upaya bagaimana menjadi pemimpin di sekitar masyarakat.

 

Diakhir kegiatan Pak Sigit juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie yang ingin magang akan difasilitasi. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat memberikan peluang baik bagi mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bakrie dalam menunjang kegiatan pembelajaran di kelas.